linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Pindang ala Pulau Bawean, Cita Rasa Tak Terbantahkan
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Gaya Hidup > Pindang ala Pulau Bawean, Cita Rasa Tak Terbantahkan
Gaya Hidup

Pindang ala Pulau Bawean, Cita Rasa Tak Terbantahkan

Hilal Ahmad
20 Oktober 2023
Share
waktu baca 4 menit
Pindang ala Bawean memiliki citra rasa khas.
Pindang ala Bawean memiliki citra rasa khas.
SHARE

linimassa.id – Indonesia kaya akan segalanya, budaya, kuliner, Bahasa, tradisi, dan banyak lagi. Salah satu kekayaan kuliner Indonesia adalah pindang dari Pulau Bawean.

Contents
AwetMusim

Pulau Bawean yang dikelilingi hamparan laut memiliki potensi perikanan yang luar biasa, berawal dari hasil tangkapan ikan laut yang melimpah, menjadi salah satu cara yang dilakukan oleh masyarakat Pulau Bawean, mengawetkan ikan hasil tangkapannya dengan menjadikannya pindang untuk menambah waktu penyimpanan lebih lama.

Ikan yang digunakan khas orang lokal menyebutnya “binggul” mirip tongkol tapi berukuran lebih kecil, serta ikan Layang. Pengolahan ikan pindang di Bawean telah menjadi karakteristik tersendiri, dengan sebutan “Cara Bawean”

Selain itu juga ada “Cara Muncar”, pemindangan khas Banyuwangi. Keduanya sama-sama merupakan pengolahan secara tradisional.

Proses pengolahan dimulai dari teras rumah produksi, bertempat di pesisir dengan konstruksi sederhana beratap rumbia dan beralas tanah, dengan dinding menggunakan gedek (anyaman bambu), yang dipasang renggang untuk sirkulasi udara.

Nah pengolahan ini salah satunya ada di Dedawang. Sebuah dusun di pesisir barat laut Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Di sana bermukim nelayan dan pusat produksi pindang khas daerah berjuluk Pulau Putri tersebut.

 

Cara memprosesnya mudah dan sederhana, yaitu :

  1. Ikan yang di dapat dicuci sampai bersih di tempat pencucian yang tersedia, memasukkkan ikan dalam kendil.
  2. Menuangkan garam dan air sebelum proses pemanasan di tungku.
  3. Proses pemanasan ikan di kendil.

Saat proses pemanasan atau pembakaran kendil di periuk berbahan tanah liat, biasanya dalam satu hamparan tungku bisa memuat 76 – 90 kendil, dengan proses pemanasan 20 – 40 menit, tergantung kondisi bahan bakarnya.

Kendil-kendil tersebut selanjutnya akan diambil dan dipasarkan oleh pengepul dari Bawean sendiri. Seorang pengepul bisa mengangkut 1.000-2.000 kendil.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Seluruh ikan pindang yang diproduksi ini biasanya dijual ke luar Pulau Bawean. Seperti k Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Lamongan, dan Tuban. Bahkan sampai ke Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Proses pemasaran tergantung ketersediaan penyeberangan ke Gresik atau Paciran, yang dipengaruhi oleh cuaca dan ombak. Sekadar informasi, Pelabuhan Sangkapura di Bawean bisa diakses dengan kapal cepat (4-5 jam) dari Pelabuhan Gresik, maupun kapal feri (8-10 jam) dari Gresik dan Paciran, Lamongan. Sementara jarak dari Sangkapura ke Dedawang 15 km, sekitar 25 menit berkendara motor/mobil.

 

Awet

Ikan pindang cara Bawean ini bisa awet hingga 2 – 3 bulan, saat ini pemasarannya di sekitaran kota pantai utara Jawa Timur, Jawa Tengah hingga Jawa Barat.

Produk ikan pindang kendil ini tergantung musim, seperti saat musim ikan Binggul, dalam istilah lokal disebut musim kateghe, umumnya berlangsung pada bulan kemarau. Setelah itu masuk musim nembherak, musim jarang ikan. Saat itu akan sering terjadi angin, hujan, dan ombak besar, sehingga nelayan tidak melaut.

Pengolahan ikan pindang sudah ada sejak zaman nenek moyang.

 

Musim

Produksi ikan pindang memiliki musimnya sendiri. Tergantung musim ikan, yang berkelindan dengan kondisi cuaca sepanjang tahun.

Musim ikan binggul, atau dalam istilah lokal disebut musim kateghe, umumnya berlangsung pada bulan-bulan kemarau, yaitu Juni-November. Setelah itu masuk musim nembherak, musim jarang ikan. Saat itu akan sering terjadi angin, hujan, dan ombak besar, sehingga nelayan tidak bisa melaut.

Saat musim penghujan, nelayan dan pengusaha pindang biasanya beralih profesi menjadi petani.

Itulah seputar pindang bawean. Semoga semakin menambah pengetahuan ya. (Hilal)

Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print

Terkini

Sungai Ciujung
Sungai Ciujung Tercemar, DLH Kabupaten Serang Temukan 4 Perusahaan Buang Air Limbah Olahan
News
PT ABM
Kejati Banten Kantongi Calon Tersangka Kasus Dugaan Korupsi PT ABM
News
air bersih
BPBD Banten Distribusikan 5.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Pandeglang
News
Sawah di Lebak
Ratusan Hektare Sawah di Lebak Terdampak Kekeringan
News
Siswa di Pandeglang
11 Ribu Siswa di Pandeglang Tak Melanjutkan Pendidikan, Ini yang Dilakukan Disdikpora
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan