PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Para petani Gunung Karang yang tergabung dalam komunitas pertanian di Desa Pasir Peuteuy, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap rendahnya harga jual komoditas pertanian.
Kondisi tersebut dinilai semakin memberatkan karena biaya produksi terus mengalami peningkatan.
Keluhan petani Gunung Karang itu mencuat dalam talkshow bertema Agraria Bukan Maritim yang berlangsung di Café Lembur Kula sekaligus Perpustakaan Jagakarsa pada Sabtu sore, 13 Juni 2026.
Salah seorang petani di kawasan lereng Gunung Karang, Ahmad Haetami, menuturkan bahwa para petani sempat meluapkan kekecewaan dengan membuang hasil panen timun ke pinggir jalan.
Tindakan petani Gunung Karang tersebut dilakukan karena harga jual timun hanya mencapai Rp1.000 per kilogram, jauh di bawah biaya yang telah dikeluarkan selama proses budidaya.
Menurutnya, lahan pertanian di Pasir Peuteuy memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan sangat potensial untuk pengembangan tanaman hortikultura.
Namun, persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah pemasaran dan rendahnya harga jual hasil panen. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan benih dan pendampingan penyuluh, tetapi juga membantu membuka akses pasar yang lebih luas.
Ketua panitia kegiatan, Umam, menjelaskan bahwa penyelenggaraan talkshow tersebut merupakan bentuk komitmen bersama untuk mengangkat kembali isu kedaulatan agraria, keberlanjutan ruang hidup masyarakat, serta masa depan ketahanan pangan yang berangkat dari aspirasi masyarakat akar rumput.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan wadah yang mempertemukan unsur kebijakan, edukasi literasi, serta gerakan budaya petani di Pandeglang, khususnya masyarakat yang bermukim di sekitar Gunung Karang.
Kesejahteraan Petani Gunung Karang
Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Mia Maulani Rizki, menyampaikan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam meningkatkan kesejahteraan petani Gunung Karang.
Menurutnya, upaya tersebut memerlukan keterlibatan lintas organisasi perangkat daerah maupun pemangku kepentingan lainnya.
Sebagai salah satu langkah yang dilakukan, pihaknya menggandeng para influencer di Pandeglang untuk membantu memperluas promosi produk pertanian dan membuka peluang pasar yang lebih besar bagi petani lokal.
Acara yang dipandu oleh Nurul Badarzaman itu mengusung tema “No Farmers, No Food, No Future” yang berarti “Tanpa Petani, Tidak Ada Pangan, Tidak Ada Masa Depan”. Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang turut hadir, di antaranya Misbah sebagai sociopreneur dan Jefri Pr yang dikenal sebagai influencer. Dari kalangan generasi muda, hadir pula Nayla, Duta Pariwisata Banten 2025.
Namun demikian, Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi, yang sebelumnya dijadwalkan hadir sebagai representasi pemerintah daerah, berhalangan menghadiri kegiatan yang diselenggarakan oleh SIMULAKRA.work tersebut.
Selain sesi diskusi, acara juga dimeriahkan oleh penampilan stand-up comedian Bayu Pekijing. Melalui materi komedinya yang banyak mengangkat persoalan agraria dan kehidupan sehari-hari di Kampung Pekijing, Taktakan, Kota Serang, ia berhasil menciptakan suasana yang lebih santai dan interaktif.
Dalam kesempatan yang sama, Perpustakaan Jagakarsa juga menerima penyerahan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) yang diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.



