SERANG, LINIMASSA.ID – Musim kemarau mulai berdampak terhadap sektor pertanian atau sawah di Kabupaten Serang.
Berdasarkan pendataan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, luas lahan persawahan yang mengalami kekeringan mencapai 793,5 hektare.
Dari total tersebut, sekitar 389,5 hektare sawah di Kabupaten Serang masuk kategori kekeringan ringan. Sementara itu, 182,5 hektare mengalami kekeringan sedang dan 170 hektare lainnya berada dalam kondisi kekeringan berat.
Selain terdampak kekurangan air, sebanyak 68 hektare sawah dilaporkan mengalami puso atau gagal panen. Lahan puso tersebut berada di dua kecamatan, yakni Kecamatan Cikande seluas 19 hektare dan Kecamatan Jawilan sekitar 49 hektare.
Kepala DKPP Kabupaten Serang, Suhardjo, menjelaskan bahwa pada awal pendataan luas lahan sawah di Kabupaten Serang yang terdampak kekeringan mencapai sekitar 810 hektare.
Namun, setelah dilakukan berbagai langkah penanganan, sebanyak 16,5 hektare lahan berhasil dipulihkan sehingga luas area terdampak berkurang menjadi 793,5 hektare.
Menurutnya, pengairan melalui sistem pipanisasi membantu sejumlah tanaman padi kembali tumbuh. Kondisi lahan yang sebelumnya mengalami kekeringan pun mulai membaik setelah mendapatkan pasokan air.
“Padi yang sebelumnya terdampak sudah dapat tumbuh kembali setelah dilakukan pengairan menggunakan pipanisasi. Saat ini, luas lahan yang masih mengalami kekeringan tersisa sekitar 793,5 hektare,” ujar Suhardjo, Kamis, 30 Juli 2026.
Sawah di Kabupaten Serang Kekeringan
Ia menambahkan, wilayah yang memiliki lahan sawah di Kabupaten Serang yang mengalami dampak kekeringan tersebar di sejumlah kecamatan. Di antaranya Kecamatan Pamarayan, Petir, Tirtayasa, Tunjung Teja, Padarincang, Bandung, Tanara, Jawilan, Kopo, Pontang, dan Anyar.
Untuk mencegah kerusakan semakin meluas, DKPP Kabupaten Serang terus melakukan pemantauan terhadap kondisi lahan pertanian. Koordinasi juga dilakukan bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Serang serta Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) guna memastikan ketersediaan air bagi kebutuhan irigasi.
Selain itu, DKPP berencana memanfaatkan pompa air milik Pemerintah Provinsi Banten. Bantuan tersebut akan diprioritaskan untuk wilayah yang masih memiliki sumber air, tetapi mengalami keterbatasan pasokan menuju area persawahan.
“Upaya penanganan dilakukan untuk menyelamatkan tanaman pada lahan yang masih mengalami kekeringan. Sementara lahan yang sudah dinyatakan puso tidak dapat dipulihkan,” katanya.
Terkait lahan sawah di Kabupaten Serang yang mengalami gagal panen, DKPP Kabupaten Serang telah mengajukan bantuan benih kepada Pemerintah Provinsi Banten. Para petani yang lahannya terdampak puso direncanakan menerima bantuan benih padi sekitar 25 kilogram untuk setiap hektare.
Suhardjo menyebut sebagian besar petani terdampak belum tercatat dalam program UTP. Oleh karena itu, bantuan yang diajukan saat ini difokuskan pada penyediaan benih padi agar petani dapat kembali melakukan penanaman.
“Kami mengajukan bantuan berupa benih padi untuk para petani yang lahannya mengalami puso,” pungkasnya.

