SERANG, LINIMASSA.ID – Pelaku usaha tahu dan tempe di Kota Serang masih mengandalkan kedelai impor sebagai bahan baku utama produksi. Kondisi tersebut membuat industri rumahan rentan terhadap fluktuasi harga yang terjadi di pasar global.
Maulana, pengelola Tahu Rafa Family Production yang berlokasi di Kampung Domba, mengatakan pasokan kedelai yang digunakan untuk memproduksi tahu seluruhnya berasal dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat dan Kanada.
Menurutnya, harga kedelai impor untuk produksi tahu dan tempe saat ini mencapai sekitar Rp11.200 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp11.000 per kilogram.
Walaupun kenaikannya relatif kecil, dampaknya cukup terasa karena kebutuhan bahan baku yang digunakan setiap hari sangat besar.
Dalam sehari, usaha tahu dan tempe yang dikelolanya membutuhkan sekitar satu ton kedelai untuk memenuhi permintaan pasar. Karena itu, selisih harga ratusan rupiah per kilogram tetap berpengaruh terhadap biaya produksi secara keseluruhan.
Peningkatan biaya bahan baku tersebut turut mendorong penyesuaian harga jual tahu. Saat ini satu papan tahu dijual sekitar Rp50 ribu, sedangkan sebelumnya berkisar antara Rp45 ribu hingga Rp47 ribu.
Meski demikian, produsen memilih mempertahankan ukuran produk agar pelanggan tetap mendapatkan kualitas yang sama seperti biasanya.
Pengusaha Tahu dan Tempe Menjerit
Produk tahu dan tempe yang dihasilkan kemudian dipasarkan ke berbagai pasar tradisional di wilayah Kota dan Kabupaten Serang, termasuk Pasar Rau, Pasar Ciruas, dan Pasar Lama. Selain itu, pasokan juga disalurkan ke sejumlah pelaku usaha kuliner.
Kenaikan harga kedelai juga dirasakan oleh para perajin tempe. Salah satunya, Wiryono, mengungkapkan bahwa harga bahan baku yang digunakan kini mencapai Rp10.600 per kilogram, meningkat dibanding beberapa bulan sebelumnya yang masih berada di angka Rp9.600 per kilogram.
Walaupun biaya produksi bertambah, para perajin tempe belum menaikkan harga jual kepada konsumen. Sebagai langkah untuk menjaga daya beli masyarakat, mereka memilih melakukan penyesuaian pada ukuran produk.
Saat ini tempe masih dipasarkan dengan harga Rp4.000 per bungkus untuk kemasan plastik dan Rp3.000 per bungkus untuk kemasan daun. Produksi harian berkisar 600 bungkus dan dapat meningkat hingga sekitar 900 bungkus pada periode tertentu.
Para pelaku usaha berharap harga kedelai dapat lebih stabil ke depannya. Ketergantungan terhadap pasokan impor dinilai menjadi tantangan besar karena setiap perubahan harga di pasar internasional langsung memengaruhi biaya produksi di tingkat perajin.
Selama kebutuhan kedelai dalam negeri masih banyak dipenuhi melalui impor, para pengusaha tahu dan tempe menilai kenaikan biaya produksi akan sulit dihindari. Kondisi tersebut berpotensi berdampak pada harga berbagai produk olahan yang menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari.



