SERANG, LINIMASSA.ID – Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah, menyoroti masih ditemukannya sejumlah kendala dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Banten.
Ia mengungkapkan bahwa masih ada menu makanan yang kurang beragam serta kondisi dapur yang belum memenuhi standar kebersihan dan sanitasi yang layak.
Menurutnya, aspek higienitas dan penerapan standar operasional MBG di Banten harus menjadi perhatian utama, mengingat program ini ditujukan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
Ia menegaskan bahwa kualitas makanan harus benar-benar dijaga, termasuk kebersihan dapur dan sistem sanitasi yang digunakan.
Meski demikian, Pemerintah Provinsi Banten tetap mendukung pengembangan program MBG di Banten, termasuk dengan mendorong pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai wilayah.
Ia menilai keberadaan SPPG tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi, tetapi juga memberi efek positif bagi perekonomian masyarakat.
MBG di Banten Gerakkan Ekonomi
Program MBG di Banten dinilai mampu menggerakkan berbagai sektor, mulai dari penyedia bahan pangan, distribusi, hingga pelaku usaha lokal, sehingga menciptakan perputaran ekonomi yang signifikan.
Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaan program tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan, melainkan tetap mengutamakan kualitas dan manfaat bagi masyarakat.
Selain membantu pemenuhan gizi, program MBG juga diharapkan dapat meringankan beban ekonomi keluarga, karena kebutuhan nutrisi anak dapat terpenuhi tanpa menambah pengeluaran rumah tangga secara besar.
Dimyati juga menekankan pentingnya pengawasan yang menyeluruh dalam pelaksanaan program tersebut. Ia meminta seluruh pemerintah daerah di Banten untuk aktif melakukan pengawasan, mulai dari tahap perencanaan, penganggaran, hingga evaluasi.
Ia berharap program MBG di Banten dapat berjalan optimal dan menjadi contoh keberhasilan pelaksanaan program nasional yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.



