SERANG, LINIMASSA.ID – Pengangguran di Banten terus mengalami peningkatan, di sisi lain, persoalan ketenagakerjaan di Provinsi Banten tidak hanya berkaitan dengan angka pengangguran.
Struktur pekerjaan juga menunjukkan perubahan, ditandai dengan meningkatnya jumlah pekerja yang jam kerjanya belum penuh serta semakin besarnya proporsi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor informal.
Terlepas dari angka pengangguran di Banten, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, persentase pekerja tidak penuh, yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam dalam sepekan, mencapai 22,76 persen pada Mei 2026. Angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Pada saat yang sama, persentase pekerja yang masuk kategori bekerja penuh mengalami penurunan menjadi 77,24 persen.
Perihal pengangguran di Banten ini, Statistisi Ahli Madya BPS Banten, Adam Sofian, menilai perubahan tersebut menggambarkan kondisi pasar kerja yang dinamis.
Sebagian masyarakat tetap memilih bekerja meskipun penghasilan yang diperoleh belum sesuai harapan, sembari berupaya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
“Ini menunjukkan dinamika pasar kerja. Sebagian masyarakat memilih tetap bekerja meskipun pendapatannya belum sesuai sambil mencari pekerjaan yang lebih baik,” ujar Adam, Jumat, 7 Agustus 2026.
Pengangguran di Banten
Perubahan juga terlihat dari komposisi pekerja berdasarkan status sektor pekerjaan. BPS mencatat pekerja informal kini menyumbang 51,01 persen atau sekitar tiga juta orang dari total penduduk yang bekerja di Banten.
Sementara itu, jumlah pekerja formal berada di angka 48,99 persen atau sekitar 2,88 juta orang. Dengan demikian, proporsi pekerja informal telah melampaui pekerja formal di Banten.
Perubahan status pekerjaan turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh atau karyawan tercatat mengalami penurunan sekitar 100 ribu orang.
Sebaliknya, masyarakat yang memilih menjalankan usaha sendiri justru bertambah sekitar 188 ribu orang.
BPS menilai pergeseran tersebut menunjukkan adanya kecenderungan masyarakat untuk menciptakan sumber penghasilan secara mandiri. Pilihan tersebut diduga berkaitan dengan masih terbatasnya kesempatan memperoleh pekerjaan di sektor formal.
Kondisi ini menjadi gambaran bahwa masyarakat Banten tidak sepenuhnya keluar dari pasar kerja meskipun menghadapi keterbatasan kesempatan kerja formal. Sebagian memilih bertahan dengan bekerja secara mandiri maupun masuk ke sektor informal untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

