LINIMASSA.ID – Minggu ini, beranda para penggemar grup K-Pop BIGBANG atau yang akrab di sebut VIP di Indonesia dipenuhi euforia dan antusiasme tinggi dalam memperebutkan tiket Konser BIGBANG 2026-2027 WORLD TOUR XX:COSMOS IN JAKARTA. Penjualan tiket yang telah mulai dijual sejak tanggal 17 September 2026 untuk V.I.P Membership Presale hingga General On Sale pada 20 September 2026 menjadi sorotan utama dimana tiket dilaporkan promotor telah terjual habis.
Konser dijadwalkan berlangsung pada 16 Januari 2027 bertempat di Jakarta International Stadium (JIS) ini terasa begitu spesial. BIGBANG yang kini beranggotakan G-Dragon, Taeyang, dan Daesung mengumumkan tur stadion di 17 kota dengan total 33 pertunjukan. Momen ini menandai perayaan resmi 20 tahun debut grup asal Korea Selatan sekaligus kembalinya grup ke industri musik K-Pop setelah vakum selama hampir sembilan tahun sejak MADE WORLD TOUR pada tahun 2015-2016.
Bagi penggemar yang berhasil mengamankan tiket, kegembiraan terpancar setelah menantikan sekian lama BIGBANG kembali mengadakan konser di Indonesia. Sebaliknya bagi mereka yang gagal, meluapkan rasa kecewa dan sedih dengan berbagai unggahan konten di media sosial.
Fenomena ini sangat terasa bagi “VIP legend” atau penggemar yang telah mengenal BIGBANG sejak era Mini Album berjudul Always yang dirilis pada Agustus 2007, dan setahun kemudian lagu Lies menjadi hits fenomenal merajai seluruh tangga lagu di Korea Selatan selama berminggu-minggu dan mempopulerkan nama mereka menjadi salah satu grup idol yang diperhitungkan. Segala perjuangan dan dinamika selama dua dekade hingga saat ini menyisakan 3 anggota grup aktif, tentunya menciptakan ikatan emosional yang mendalam dan tumbuh melintasi waktu. Namun, ikatan emosional yang terbangun melintasi waktu ini tidak hadir begitu saja di ruang hampa.
Parasocial Interaction dalam Industri K-Pop
Fenomena keterikatan mendalam pada penggemar BIGBANG tersebut merupakan cerminan nyata dari pola hubungan idola dan penggemar dalam industri K-Pop. Hubungan yang seolah dekat dan personal ini sejatinya tidak lepas dari rancangan strategi bisnis agensi yang secara sengaja mengelola emosi para penggemar. Dalam dunia idol K-Pop, hubungan idol dengan penggemar salah satu yang sangat dijaga dalam rangka memastikan keberlanjutan bisnis. Pihak perusahaan agensi idol yang secara sengaja memanfaatkan kefanatikan dari para penggemar, serta cenderung menjadikan idola sendiri sebagai komoditas.
Berbagai cara komodifikasi idol dilakukan agensi seperti menjual album dan merchandise eksklusif, penentuan harga tiket konser dengan harga yang lebih mahal dengan tambahan berbagai fasilitas yang memungkinkan penggemar dapat berinteraksi lebih lama dan lebih dekat dengan idola secara langsung, undian fan meeting bagi penggemar terpilih dari pembelian album, hingga tersedianya platform interaktif berbayar untuk bisa berinteraksi langsung dengan idol melalui chat atau fitur live call, Berbagai fasilitas tersebut memfasilitasi bagi penggemar untuk semakin dekat dengan idol, akibatnya bagi penggemar fanatik merasa telah mengenal idola secara personal dan memiliki keterikatan emosional, bukan lagi sekedar public figure.
Interaksi fenomena psikologis dan komunikasi ini dimana penggemar merasa memiliki hubungan sosial dengan idol secara dua arah padahal hubungannya bersifat satu arah, terbatas dan tidak berimbang, yang menimbulkan seolah-olah ada kedekatan yang nyata (pseudo intimacy). Fenomena ini dikenal dengan teori interaksi parasosial yang dicetuskan pertama kali oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl pada tahun 1956.
Dalam perkembangannya teori ini mengalami perkembangan mulai dari media penyiaran tradisional hingga ke era digital. Kehadiran aplikasi seperti Weverse atau Bubble menjadi salah satu jalan terciptanya pseudo intimacy tersebut, dimana komunikasi dari penggemar dikemas seolah-olah menjadi interaksi dua arah dengan adanya fitur like, balasan komentar otomatis, siaran live atau pesan broadcast seolah-olah dikirimkan secara personal ke masing-masing individu semakin memperkuat penciptaan ilusi bahwa idol adalah teman dekat atau kekasih yang mengaburkan batasan antara ilusi interaksi dan realitas.
Bahkan pada level penggemar K-Pop yang fanatik berlebihan atau lebih dikenal dengan sebutan Sasaeng dapat menciptakan distorsi realitas atau fatamorgana bahwa idol adalah miliknya, sehingga mereka merasa berhak atas perhatian penuh dan akses dari sang idol karena merasa memiliki hubungan yang intens.
Meski demikian, interaksi parasosial penggemar melalui media sosial juga dapat memberikan dampak positif seperti dukungan emosional seperti sumber hiburan, melepas kepenatan, mengurangi rasa kesepian dengan adanya interaksi dengan sesama penggemar, hingga menjadi sumber motivasi dalam menjalani hidup. Contoh lainnya adanya penyebaran edukasi dan informasi sosial terkait kesadaran terhadap isu-isu penting seperti kesehatan mental, penyebaran aksi kemanusiaan hingga penggalangan donasi sosial, yang dipatuhi oleh penggemar baik yang tergabung dalam komunitas ataupun perorangan sehingga menjadi gerakan yang masif.
Budaya Partisipatif di Kalangan Penggemar K-Pop
Saat ini sudah lumrah terjadi pergeseran penggemar dari yang awalnya sekedar mengkonsumsi konten-konten yang disediakan oleh agensi, kemudian mulai juga memproduksi konten seperti merekam dan mengedit fancam dengan resolusi tinggi, membuat meme atau menulis fanfiction, menggalang charity atas nama idol, hingga melakukan kampanye dan strategi voting melalui platform media sosial seperti X (Twitter), TikTok, dan YouTube. Hal-hal ini menjadi salah satu promosi yang efektif untuk mendongkrak reputasi idol sekaligus menarik penggemar baru.
Fenomena ini mencerminkan budaya partisipasi di industry K-Pop dimana penggemar berevolusi dari konsumen pasif menjadi prosumer yang aktif memproduksi konten dan menggalang kekuatan dari sesama penggemar. Konsep ini dikenal sebagai teori Budaya Partisipatif yang dipopulerkan oleh Henry Jenkins et al. (2009) dalam Confronting the Challenges of Participatory Culture, menjelaskan fenomena pergeseran budaya media di mana audiens bertransformasi dari sekedar konsumen pasif menjadi partisipan aktif yang memproduksi dan mendistribusikan ulang konten (prosumer).
Krisis Etika dan Ilusi Kepemilikan (Social Boundaries)
Pada dasarnya, budaya partisipatif bersifat netral dengan karakteristik pemberdayaan (empowerment) kepada audiens. Namun, ketika berpadu dengan interaksi parasosial yang ekstrem, budaya ini dapat bergeser menjadi patologis dan memicu pelanggaran atas batasan ruang pribadi serta otonomi individu sang idol.
Budaya partisipasi dapat menciptakan ilusi kepemilikan (illusion of ownership), dimana penggemar merasa memiliki andil langsung atas kesuksesan finansial dan reputasi idola melalui pembelian album, streaming party, atau modal voting. Ketika ditambah dengan ilusi parasosial, memicu asumsi etis yang keliru, bahwa idol adalah milik penggemar seutuhnya oleh karenanya berhak mengatur kehidupan pribadinya.
Praktik partisipatif yang awalnya positif seperti mengedit fancam atau membagikan jadwal kegiatan idol, dapat bergeser menjadi pelanggaran etika berat. Penggemar fanatik menggunakan alat partisipatif tersebut untuk melacak lokasi real-time, membuntuti, mengambil foto secara sembunyi-sembunyi, hingga memperjualbelikan data dan nomor telepon pribadi idol. Hubungan parasosial yang ekstrem membuat pelaku tidak memandang aksinya sebagai kejahatan, melainkan sebagai bentuk dukungan cinta kepada idola, sehingga terjadi pelanggaran privasi dari sang idol.
Dalam krisis etika ini, industri K-pop berada dalam posisi ambivalen. Di satu sisi, agensi meraup keuntungan dari monetisasi memanfaatkan interaksi parasosial dan promosi organik penggemar. Namun di sisi lain, agensi kerap gagap melindungi privasi dan kesehatan mental idol. Ketika serangan Sasaeng, atau terjadi komplain massal koreksi atas kehidupan asmara atau keputusan pribadi idola dengan menaikkan tagar boikot atau mengirimkan truck protest, maka idola menjadi pihak yang paling rentan secara psikologis maupun fisik.
Refleksi: Menegakkan Kembali Batasan dan Penghormatan
Budaya partisipasi dan pseudo-intimacy telah mengubah cara kita menikmati karya seni dan menjadikan hubungan antara idola dan penggemar begitu dekat tanpa sekat. Pada bentuknya yang sehat, hubungan ini mampu menjadi sumber motivasi, ruang komunitas, hingga penggerak aksi sosial yang masif. Namun, tanpa memiliki kompas etika yang jelas, kedekatan ini sangat mudah bergeser menjadi bentuk pengawasan yang intimidatif dan pelanggaran ruang pribadi
Industri K-Pop dan penggemar saat ini diuji, mampukah kita merayakan kreativitas dan partisipasi tanpa harus menumbalkan privasi idol? Jawabannya bertumpu pada keberanian kita untuk mendefinisikan ulang arti dukungan yang sehat. Sebelum batas sosial itu runtuh sepenuhnya, agensi harus berhenti menjual ilusi kepemilikan, dan penggemar harus belajar kembali arti dari sebuah penghormatan.
Penulis :
Rika Rahmi W., Mahasiswa Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta
Referensi
Horton, D., & Wohl, R. R. (1956). Mass communication and para-social interaction: Observations on intimacy at a distance. Psychiatry, 19(3), 215–229
Jenkins, H., Purushotma, R., Weigel, M., Clinton, K., & Robison, A. J. (2009). Confronting the challenges of participatory culture: Media education for the 21st century. The MIT Press.

