linimassa.id – Para ilmuwan dari Institut Zoologi China, di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS), telah berhasil mengungkap alasan di balik keberadaan panda berwarna cokelat. Mereka berhasil mengidentifikasi sumber genetik yang menyebabkan warna bulu pada beberapa panda raksasa berwarna cokelat dan putih. Fenomena ini telah memicu rasa ingin tahu di kalangan peneliti dan pecinta satwa liar.
Penemuan Panda Berwarna Cokelat
Dilansir dari Antara, panda berwarna cokelat pertama di dunia ditemukan pada tahun 1985 di Pegunungan Qinling di Provinsi Shaanxi, China barat laut. Semua foto panda berwarna cokelat yang liar terekam diambil di daerah tersebut. Salah satu contoh yang terkenal adalah panda jantan bernama Qizai, yang lahir pada tahun 2009 dan menjadi pusat perhatian karena warna bulunya yang unik.
Penelitian Mendalam oleh Para Ilmuwan
Para ilmuwan melakukan penelitian yang mendalam dengan mengurutkan genom dari tiga keluarga panda yang terhubung dengan Qizai. Mereka juga membandingkannya dengan genom 29 panda lain yang memiliki warna bulu hitam dan putih. Hasil penelitian mereka mengungkapkan bahwa mutasi pada gen yang disebut Bace2 adalah penyebab panda memiliki warna bulu cokelat dan putih.
Implikasi Penelitian
Penelitian ini, yang dipublikasikan di jurnal Amerika Serikat, Proceedings of the National Academy of Sciences, memberikan wawasan yang berharga tentang dasar genetik dari variasi warna bulu pada panda. Para ilmuwan menilai bahwa penemuan ini tidak hanya menarik secara ilmiah, tetapi juga akan membantu dalam pengembangbiakan ilmiah panda berwarna cokelat yang langka.
Dengan menggunakan model tikus yang direkayasa secara genetik dengan mutasi Bace2, penelitian ini menunjukkan bahwa mutasi tersebut menghasilkan bulu yang berwarna terang. Hal ini menguatkan kesimpulan bahwa Bace2 adalah gen utama yang bertanggung jawab atas warna bulu yang unik pada panda.
Pada analisis genom lebih lanjut terhadap 192 ekor panda tangkaran berbulu hitam dan putih, tidak ditemukan satupun yang membawa mutasi tersebut. Ini menegaskan bahwa mutasi Bace2 merupakan faktor yang sangat spesifik bagi panda berwarna cokelat dan putih.
Dalam konteks penelitian ini, Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Agus Dwi Susanto, memberikan pandangannya, “Hasil penelitian ini memberikan wawasan khusus mengenai dasar genetik dari variasi warna bulu pada satwa liar. Hasil penelitian ini juga akan memandu pengembangbiakan ilmiah untuk panda cokelat yang langka.”
Penelitian ini tidak hanya mengungkap misteri panda berwarna cokelat, tetapi juga menyoroti pentingnya penelitian genetik dalam pemahaman terhadap keragaman hayati dan upaya konservasi satwa liar. (AR)


