CILEGON, LINIMASSA.ID – Kota Cilegon kembali menarik perhatian investor truk listrik sebagai lokasi pengembangan industri strategis.
Kali ini, rencana pembangunan pabrik truk listrik pertama di Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp10 triliun disebut akan direalisasikan di kawasan industri kota tersebut.
Mengutip IDX Channel, proyek truk listrik ini digarap oleh Nusantara Halid Group (NH Group) bersama Grand Seleron Indonesia, sebagai bagian dari relokasi fasilitas produksi milik Cang Kuang Mining Machinery dari China ke kawasan Krakatau Industrial Estate.
Direktur Utama PT Nusantara Halid, Andy Nursyam Halid, mengungkapkan bahwa pihaknya juga melibatkan sejumlah perusahaan pendukung guna membangun ekosistem kendaraan listrik yang terintegrasi.
Ia menjelaskan, salah satu mitra proyek truk listrik yang diajak bekerja sama adalah Global Mainstream Dynamic Energy Technology Ltd, produsen Battery Energy Storage yang berbasis di Changzhou, China, yang akan memasok kebutuhan baterai untuk operasional pabrik tersebut.
Realisasi investasi ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual-beli Lahan Industri (PJLI) seluas 8 hektare antara PT Krakatau Sarana Infrastruktur dan PT Almas Mandiri Anugerah, anak usaha Grand Seleron Indonesia, pada 26 Februari 2026 di Cilegon.
Kawasan Industri Truk Listrik
Ke depan, kawasan industri truk listrik tersebut direncanakan berkembang hingga 50 hektare, dengan kebutuhan dana pembebasan lahan saja diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.
Keputusan pelepasan lahan oleh PT Krakatau Sarana Infrastruktur didorong oleh prospek cerah industri truk listrik yang terus tumbuh. Bahkan, perusahaan telah melakukan studi langsung terhadap teknologi pengisian daya di Pelabuhan Changzhou, China, yang dinilai efisien.
Teknologi tersebut memungkinkan pengisian listrik selama sekitar satu jam untuk mendukung operasional truk hingga 12 jam, sehingga dinilai mampu meningkatkan efisiensi di sektor logistik dan industri berat.
Selain itu, NH Group juga tengah menjalin komunikasi dengan Hunan Iron & Steel Group, produsen baja asal China, guna mendukung pasokan bahan baku baja murni. Kerja sama ini diharapkan dapat membantu Krakatau Steel dalam produksi truk listrik, alat berat, hingga kapal tongkang.
Hunan Iron & Steel Group sendiri merupakan perusahaan besar yang berdiri sejak 1997 di Provinsi Hunan, dengan kapasitas produksi sekitar 30 juta ton per tahun dan didukung puluhan ribu tenaga kerja.
Secara finansial, perusahaan ini memiliki aset sekitar 200 miliar yuan dengan pendapatan operasional mencapai 240 miliar yuan.
Di sisi lain, PT Nusantara Halid juga telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Global Mainstream Dynamic Energy Technology Ltd untuk memperluas pasar Battery Energy Storage (BES) di Indonesia.



