SERANG, LINIMASSA.ID – Kondisi cuaca yang tidak bersahabat membuat aktivitas melaut nelayan di Kabupaten Serang terganggu. Situasi tersebut berdampak pada pendapatan masyarakat pesisir sehingga mereka berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir, intensitas hujan dan gelombang laut tinggi semakin sering terjadi.
Akibatnya, sebagian besar nelayan di Kabupaten Serang, khususnya yang berada di Kecamatan Bojonegara dan Puloampel, memilih tidak melaut demi menghindari risiko keselamatan.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serikat Nelayan Nahdlatul Ulama (NU), Mahdi Ar-Rasydi, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut membuat nelayan harus mencari alternatif pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagian nelayan di Kabupaten Serang terpaksa mengambil pekerjaan serabutan, berdagang, bahkan meminjam uang karena penghasilan dari aktivitas melaut tidak lagi bisa diandalkan.
Mahdi berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada masyarakat nelayan melalui bantuan yang dapat menunjang kebutuhan hidup sekaligus mendukung aktivitas perikanan.
Bentuk bantuan yang dibutuhkan, kata dia, tidak hanya berupa bantuan finansial, tetapi juga sarana penunjang seperti mesin perahu, keramba apung, hingga perahu untuk mendukung kegiatan melaut ketika kondisi cuaca kembali membaik.
“Harapannya sih agar nelayan ini diperhatikan, diberi bantuan baik dari segi materi ataupun berbentuk fisik seperti mesin perahu, keramba apung, ataupun perahu, untuk menunjang kelengkapan melaut nanti ketika cuaca sudah normal,” ujar Mahdi saat ditemui di Kantor Desa Argawana, Kecamatan Puloampel, Jumat (6/11/2026).
Nelayan di Kabupaten Serang
Ia juga menyoroti keterbatasan kapasitas mesin perahu yang digunakan nelayan di Kabupaten Serang, terutama di wilayah Bojonegara dan Puloampel.
Saat ini, sebagian besar mesin yang dimiliki nelayan masih berkapasitas sekitar 2 PK dengan kecepatan putaran mencapai 7.000 RPM.
Menurutnya, kebutuhan mesin dengan kapasitas lebih besar menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian agar sarana melaut nelayan semakin memadai.
“Kami sangat membutuhkan mesin yang berkapasitas lebih besar,” ungkapnya.
Di sisi lain, Mahdi menjelaskan bahwa kepemilikan Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) di kalangan nelayan Puloampel masih terbatas. Dari sekitar 300 nelayan yang ada, baru 79 orang yang telah memiliki kartu tersebut.
Kartu KUSUKA sendiri merupakan identitas bagi pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan yang diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Mahdi menyebutkan, selama ini nelayan di Kabupaten Serang, khususnya di wilayah Bojonegara dan Puloampel juga pernah menerima bantuan pemerintah. Salah satunya berupa keramba apung yang diberikan pada tahun ini.
“Biasanya juga setiap tahun dapat bantuan, tahun ini berupa keramba apung untuk nelayan Bojonegara dan Puloampel,” tuturnya.
Ia berharap pemerintah kembali menyalurkan bantuan bagi masyarakat nelayan menjelang penghujung tahun. Terlebih, kondisi paceklik akibat cuaca buruk saat ini membuat banyak nelayan kehilangan sumber penghasilan utama dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

