SERANG, LINIMASSA.ID – Jumlah pasien yang menjalani terapi hemodialisis atau cuci darah di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang mencapai sekitar 300 orang. Mereka harus menjalani cuci darah secara rutin setiap pekan.
Yang menjadi perhatian, pasien gagal ginjal kronis dari kalangan usia produktif dalam tiga tahun terakhir menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut diduga berkaitan erat dengan kebiasaan dan pola hidup masyarakat yang kurang sehat.
Peningkatan kasus pasien cuci darah pada kelompok usia 20 hingga 40 tahun menjadi perhatian, karena pada usia tersebut seseorang seharusnya masih memiliki kondisi fisik yang mendukung berbagai aktivitas dan produktivitas.
Direktur RSUD Dr Drajat Prawiranegara Serang, dr Rachmat Setiadi, mengatakan terjadi perubahan tren pada pasien gagal ginjal kronis.
Jika sebelumnya pasien cuci darah lebih banyak ditemukan pada kelompok lanjut usia, kini kasus serupa semakin sering dialami masyarakat usia produktif.
“Dulu pasien yang menjalani cuci darah umumnya sudah lansia. Namun, dalam dua sampai tiga tahun terakhir mulai banyak pasien berusia 20 sampai 40 tahun yang harus menjalani terapi ini. Karena itu kami akan melakukan edukasi ke sekolah maupun masyarakat supaya pola hidup sehat bisa diterapkan sejak dini,” kata Rachmat usai meresmikan ruang Hemodialisa RSDP Serang, Kamis 20 Agustus 2026.
Menurut Rachmat, salah satu pemicu meningkatnya kasus gagal ginjal pada usia muda adalah kebiasaan hidup yang tidak sehat. Pola konsumsi makanan dengan kandungan garam, gula, dan lemak tinggi, ditambah minimnya aktivitas fisik, dapat meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal.
Kebiasaan mengonsumsi minuman manis secara berlebihan serta rendahnya konsumsi air putih juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
“Faktor makanan dan minuman yang tidak sehat menjadi salah satu penyebab utama. Karena itu, penerapan pola makan bergizi dan seimbang sangat penting, terutama bagi anak-anak dan masyarakat usia produktif,” ujarnya.
Tingginya kebutuhan layanan hemodialisis juga terlihat dari jumlah pasien yang datang ke RSDP Serang. Pasien tidak hanya berasal dari Kabupaten Serang, tetapi juga dari sejumlah daerah lain di Banten.
Rachmat menyebutkan, dalam satu pekan terdapat sekitar 300 pasien yang menjalani terapi cuci darah di rumah sakit tersebut.
“Pasiennya bukan hanya dari Kabupaten Serang. Ada juga yang berasal dari Kota Serang, Kabupaten Lebak, Cilegon dan daerah lainnya. Dalam satu minggu jumlah pasien sekitar 300 orang,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan, pihak rumah sakit menambah 10 unit mesin hemodialisis. Dengan penambahan tersebut, total mesin yang tersedia kini mencapai 40 unit, dari sebelumnya sebanyak 30 unit.
Fasilitas Cuci Darah Ditambah
Penambahan fasilitas untuk cuci darah dilakukan untuk mengimbangi tingginya permintaan layanan sekaligus mempercepat penanganan pasien. Pelayanan hemodialisis dilaksanakan setiap hari dengan sistem dua shift, yakni pagi dan sore.
“Petugas kami bagi menjadi dua shift. Pelayanan berlangsung setiap hari kecuali Minggu. Hampir setiap hari kapasitas pelayanan juga penuh,” tutur Rachmat.
Sementara itu, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah mengaku prihatin melihat tingginya jumlah pasien yang harus menjalani cuci darah. Terlebih, pasien tersebut tidak hanya berasal dari Kabupaten Serang, tetapi juga sejumlah kabupaten dan kota lainnya.
“Ini sangat memprihatinkan. Ada sekitar 300 pasien yang menjalani cuci darah dan mereka berasal dari berbagai daerah, bukan hanya Kabupaten Serang, tetapi juga Kota Serang, Pandeglang, Cilegon dan lainnya,” kata Ratu.
Ia mengajak masyarakat bersama-sama menjaga kesehatan agar tidak mengalami penyakit yang dapat berujung pada gagal ginjal dan membutuhkan terapi cuci darah secara rutin.
Ratu menilai pola hidup dan kebiasaan makan menjadi hal yang harus mendapat perhatian. Masyarakat diminta lebih selektif dalam memilih makanan dan mengurangi konsumsi makanan maupun minuman yang dapat meningkatkan kadar gula.
“Jaga kesehatan dan pola makan. Pilih makanan yang sehat serta hindari makanan dan minuman yang dapat memicu tingginya gula,” pungkasnya.

