SERANG, LINIMASSA.ID – Setelah satu tahun memimpin Kota Serang, Wali Kota Budi Rustandi dinobatkan sebagai kepala daerah dengan tingkat popularitas tertinggi di Provinsi Banten.
Predikat tersebut diperoleh berdasarkan hasil pemantauan dan analisis percakapan publik di media sosial serta aktivitas penelusuran di mesin pencari sepanjang tahun 2025. Analisis ini diklaim memiliki tingkat ketepatan hingga 99 persen.
Tingginya popularitas Budi Rustandi terlihat dari besarnya frekuensi pencarian dan penyebutan namanya di berbagai kanal digital.
Data menunjukkan, Wali Kota Serang tersebut mengantongi sebanyak 181.681 mention yang tersebar di platform media sosial utama, seperti TikTok, Facebook, Instagram, YouTube, serta berbagai portal berita daring.
Capaian itu menempatkan Budi Rustandi di posisi puncak, mengungguli kepala daerah lain di Banten. Di urutan berikutnya terdapat Wali Kota Tangerang, Sachrudin, yang mencatatkan 164.703 penyebutan di platform digital serupa.
Analis Media Sosial dari Gawekuta Institute, Abdul Rozak, menjelaskan bahwa tingkat popularitas seorang kepala daerah sangat dipengaruhi oleh mekanisme pengindeksan otomatis mesin pencari terhadap kata kunci yang paling sering diakses publik.
“Nama-nama kepala daerah diindeks secara otomatis berdasarkan aktivitas pencarian masyarakat. Data tersebut kemudian dihimpun dan diolah secara kuantitatif untuk melihat tingkat popularitasnya,” ujar Abdul Rozak, Rabu (4/2/2026).
Faktor Budi Rustandi Jadi Populer
Ia menambahkan, dari sisi jangkauan audiens, nama Wali Kota Serang Budi Rustasi menunjukkan performa yang menonjol selama setahun terakhir.
Dalam periode Maret 2025 hingga Januari 2026, jangkauan digital yang berkaitan dengan nama Budi Rustandi tercatat mencapai 81 juta reach.
“Angka tersebut berasal dari berbagai konten di media sosial, mulai dari akun resmi pemerintah, media online, hingga unggahan para influencer,” jelasnya.
Abdul Rozak juga mengungkapkan bahwa analisis sentimen menunjukkan variasi respons publik, mencakup pandangan positif, netral, maupun negatif. Meski demikian, sentimen positif masih menjadi yang paling dominan.
“Keberadaan sentimen netral dan negatif merupakan hal yang lazim dalam komunikasi publik, terutama di ruang digital yang sangat dinamis,” pungkasnya.



