linimassa.id – Mi instan memang susah ditolak ya. Tak heran jika banyak orang di Indonesia menyukainya.
Dari anak-anak hingga orang dewasa menyukai ini. Mi instan sering kali menjadi makanan alternatif andalan saat lapar karena cara membuatnya cukup mudah dan murah.
Karena kemudahan dan kelezatannya tersebut, makanan ini banyak digemari, bahkan beberapa orang hampir setiap hari mengonsumsinya.
Padahal, mengonsumsi mi instan setiap hari tidak disarankan karena makanan ini termasuk jenis makanan ultra proses yang mengandung pengawet, karbohidrat, lemak jenuh, dan garam atau natrium yang tinggi.
Kandungan-kandungan tersebut dapat memicu obesitas hingga penyakit serius lainnya. Jadi, sebaiknya mi instan tidak dikonsumsi setiap hari.
Bahaya
Mengonsumsi mi instan secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Berikut adalah beberapa bahaya makan mi instan yang wajib diketahui.
- Meningkatkan Tekanan Darah
Salah satu bahaya makan mi instan terlalu sering adalah dapat meningkatkan tekanan darah karena kandungan natrium yang tinggi di dalamnya.
Berdasarkan jurnal Nutrient, satu porsi mie instan dapat menyumbang asupan garam harian hingga 80% dan ini belum termasuk asupan garam dalam makanan lainnya. Mengonsumsi garam melebihi batas asupan harian dapat membuat tekanan darah naik dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
- Gangguan Ginjal
Kandungan garam yang tinggi di dalam mi instan juga diketahui dapat memengaruhi fungsi ginjal, terlebih jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam jumlah banyak. Jika fungsi ginjal terganggu, maka akan terjadi penumpukan natrium dan cairan dalam tubuh yang memicu pembengkakan di kaki. Penumpukan cairan tersebut juga bisa terjadi di organ lainnya, seperti jantung dan paru-paru.
- Gangguan Pencernaan
Bahaya mi instan bagi kesehatan berikutnya adalah berisiko menimbulkan gangguan pencernaan. Ketika melalui proses pengawetan, makanan ini ditambahkan dengan zat TBHQ (tertiary-butyl hydroquinone), yaitu pengawet berbahan dasar minyak yang juga terkandung dalam pestisida.
Organ pencernaan memerlukan waktu lebih lama untuk mencerna jenis pengawet ini, bahkan lebih dari dua jam sehingga bisa mengganggu jalannya pencernaan. Lamanya waktu untuk mencerna TBHQ dapat membuat sistem pencernaan terpapar zat tersebut lebih lama. Akibatnya, terjadi penurunan pada kemampuan sistem pencernaan dalam menyerap nutrisi dari makanan.
Selain itu, waktu mencerna yang lama juga menyebabkan terjadinya penumpukan mie instan dan memperberat kerja sistem pencernaan. Oleh karena itu, jika mi instan dikonsumsi setiap hari, hal ini berpotensi menimbulkan penyakit yang serius seperti sembelit dan usus bocor.
- Penyakit Jantung
Kandungan natrium yang tinggi dalam mi instan tidak hanya bisa menaikkan tekanan darah dan mengganggu fungsi ginjal, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung karena adanya kandungan MSG (monosodium glutamat) yang digunakan agar rasa mi instan lebih gurih.
Itulah sebabnya, mi instan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh penderita hipertensi dan gagal jantung kongestif, serta pengguna obat-obatan antidepresan dan obat diuretik.
- Diabetes
Salah satu bahannya adalah maida, yaitu olahan tepung terigu yang sudah melewati proses penggilingan, penghalusan, dan pemutihan. Perlu diketahui, maida tidak mengandung nutrisi apa pun, selain hanya kaya akan rasa.
Maida juga memiliki kandungan gula yang cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan gula darah. Ketika mengonsumsi bahan olahan ini, organ pankreas akan melepaskan hormon insulin untuk mencernanya, yang mana proses ini memerlukan waktu dan berpotensi menyebabkan penyakit diabetes tipe 2.
- Penyakit Liver
Bahaya selanjutnya adalah berpotensi menimbulkan penyakit liver. Pasalnya, makanan ini mengandung pengawet atau zat aditif dan kandungan garam tinggi yang jika dikonsumsi berlebihan dapat menekan kerja organ hati (liver) karena sulit terurai.
Jika kondisi ini dibiarkan dalam waktu yang lama, kinerja hati dapat menurun dan cenderung menimbun lemak berlebih di dalam selnya. Penumpukan lemak tersebut berisiko menimbulkan kerusakan pada liver. Ketika fungsi liver terganggu, maka risiko retensi air (kelebihan cairan yang menumpuk dalam tubuh) yang menyebabkan pembengkakan akan meningkat.
- Obesitas
Berat badan berlebih atau obesitas juga menjadi salah satu bahaya makan mie instan terlalu sering. Pasalnya, pada satu bungkus mie instan terdapat sekitar 14 gram lemak jenuh. Di mana, angka tersebut sudah mencakup 40% kebutuhan lemak harian.
Di samping itu, mi instan juga mengandung kalori tinggi. Jadi, meskipun mengenyangkan, tubuh tidak mendapatkan gizi yang cukup dari mie instan.
- Malnutrisi
Dampak bagi kesehatan tubuh berikut adalah dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi, terutama pada anak-anak. Walaupun mie instan dinilai praktis dan disukai oleh semua kalangan termasuk anak-anak, kandungan serat, protein, vitamin, dan mineral di dalamnya sangatlah rendah.
Kekurangan nutrisi pada anak dapat menyebabkan tubuh mengalami ketidakseimbangan kandungan zat mikronutrien dan makronutrien. Sementara itu, seluruh zat gizi ini diperlukan sebagai sumber energi, membentuk massa otot, menjaga sistem kekebalan tubuh, dan perkembangan otak.
- Keguguran
Jika sedang menjalani kehamilan, sebaiknya perhatikan porsi saat mengonsumsi mi instan. Kandungan garam dan bahan pengawet dalam makanan instan ini bisa memicu berbagai gangguan kehamilan. Bahkan yang lebih parahnya lagi, kebiasaan makan mi instan berlebih saat hamil meningkatkan risiko keguguran.
Sebaiknya pastikan selalu mengonsumsi berbagai makanan sehat agar kebutuhan nutrisi selama hamil dapat terpenuhi dengan baik.
- Sakit Kepala Kronis
Mengonsumsi mi instan dalam jumlah porsi yang banyak dapat menyebabkan seseorang mengalami sakit kepala. Hal ini disebabkan oleh kandungan garam serta MSG yang terkandung dalam mie instan.
Mengonsumsi MSG secara berlebihan dapat menyebabkan sakit kepala dari yang terbilang ringan hingga yang cukup parah. Jadi, pastikan kamu mengontrol asupan mi instan agar tidak berlebihan.
- Gangguan Hati
Kandungan pengawet di dalam mi instan dinilai dapat memicu gangguan pada hati. Selain itu, tingginya kandungan garam juga berisiko menyebabkan kerusakan hati.
Tips Aman
Meski begitu, bukan berarti makanan ini tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan yang tidak diinginkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut laman Siloam Hospital. Yakni:
Membatasi konsumsi mie instan, misalnya satu kali dalam seminggu.
Membaca label kemasan, pilihlah mie instan dengan kadar natrium paling rendah.
Menambahkan sayuran, telur, dan sumber protein hewani seperti ayam.
Gunakan sebagian bumbu saja dan kurangi porsinya. (Hilal)



