SERANG, LINIMASSA.ID – Memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten meningkatkan kesiapsiagaan terhadap ancaman kekeringan di Banten.
Sebanyak 415 lokasi di delapan kabupaten dan kota telah dipetakan sebagai daerah yang berpotensi mengalami krisis air akibat pengaruh fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan wilayah pesisir utara diprediksi menjadi kawasan yang paling awal merasakan dampak musim kemarau kekeringan di Banten. Kawasan tersebut meliputi Kabupaten Serang hingga wilayah Tangerang Raya.
Menurut Lutfi, sektor pertanian menjadi bidang yang paling rentan terdampak karena lahan persawahan berpotensi mengalami kekurangan pasokan air.
Selain itu, terkait antisipasi kekeringan di Banten, pemerintah juga memberi perhatian terhadap kebutuhan air bersih masyarakat yang diperkirakan akan meningkat selama musim kemarau.
“Wilayah utara Banten, mulai Kabupaten Serang sampai Tangerang Raya, diprediksi lebih dahulu terdampak. Lahan pertanian menjadi sektor yang paling berisiko mengalami kekeringan,” ujarnya, Selasa 14 Juli 2026.
Kekeringan di Banten
Hasil pemetaan BPBD menunjukkan Kabupaten Pandeglang menjadi daerah dengan jumlah titik rawan kekeringan di Banten terbanyak, yaitu mencapai 111 titik.
Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Lebak dengan 109 titik, disusul Kabupaten Tangerang sebanyak 101 titik, Kabupaten Serang 64 titik, Kota Tangerang Selatan 14 titik, Kota Serang 12 titik, serta Kota Cilegon empat titik.
Sementara itu, Kota Tangerang tidak termasuk dalam wilayah yang diperkirakan mengalami ancaman kekeringan pada musim kemarau tahun ini berdasarkan hasil pemetaan BPBD.
Menghadapi potensi kekeringan di Banten yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, BPBD Provinsi Banten mengajak masyarakat untuk menggunakan air secara lebih bijak serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino.

