LINIMASSA.ID, Tangsel – Bank Sampah The Spring & Spring Breeze di Perumahan Serpong Jaya, Tangerang Selatan (Tangsel) kembali melakukan pengumpulan sampah daur ulang dan minyak jelantah pada Selasa, 6 OKtober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 269,95 kilogram sampah berhasil dikumpulkan dan ditimbang. Sampah tersebut memiliki nilai ekonomi sebesar Rp605.755.
Kegiatan itu melibatkan 47 kepala keluarga (KK) yang berpartisipasi dalam pemilahan dan pengumpulan sampah dari rumah.
Ketua Bank Sampah The Spring, Hesti Burhan mengatakan, kegiatan pemilahan sampah dilakukan secara rutin oleh warga.
“Buat kami yang penting kami berusaha rutin untuk melakukan agenda pilah sampah daur ulang,” kata Hesti.
Menurut Hesti, Bank Sampah The Spring Perumahan Serpong Jaya telah beroperasi sejak Januari 2023. Selama hampir empat tahun berjalan, partisipasi warga dalam kegiatan tersebut terus berkembang.
Selain sampah daur ulang, warga juga mengumpulkan minyak jelantah yang kemudian disalurkan melalui kerja sama dengan vendor.
“Kerja sama kami sudah baik bersama vendor,” ujarnya.
Hesti menambahkan, hingga Oktober 2026, pendapatan yang diperoleh dari kegiatan bank sampah tersebut telah mencapai sekitar Rp7 juta.
Pernah Dikunjungi DLH Tangsel
Hesti mengatakan, kegiatan Bank Sampah The Spring juga pernah mendapat kunjungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan.
Dalam kunjungan tersebut, DLH sempat menawarkan sejumlah bentuk penguatan kelembagaan bank sampah, termasuk terkait kepengurusan.
“Pernah pihak DLH datang dan berkunjung. Menawarkan untuk diberi nama dan lain-lain. Harus ada kepengurusan dan lain sebagainya,” papar Hesti.
Meski demikian, Bank Sampah The Spring tetap menjalankan kegiatan pemilahan dan pengumpulan sampah secara rutin bersama warga.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan mendorong warga memilah sampah sejak dari rumah.
Bank Sampah The Spring menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi sampah yang harus dibuang sekaligus memberikan nilai ekonomi terhadap sampah yang masih dapat didaur ulang.
Kegiatan pengumpulan sampah ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada proses pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat sejak dari sumbernya.

