SERANG, LINIMASSA.ID – Puluhan warga Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Kramatwatu Melawan kembali turun ke jalan menggelar aksi protes tolak truk odol di Jalur Serang-Cilegon di Alun-alun Kramatwatu pada Senin siang, 27 Oktober 2026.
Dalam aksi tersebut, massa menuntut agar truk dengan muatan dan dimensi berlebih atau Over Dimension Over Loading (ODOL) dilarang melintas di jalur utama Serang–Cilegon. Mereka juga menilai Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten lamban merespons permasalahan tersebut.
Pantauan di lokasi menunjukkan, peserta aksi tolak truk odol di Jalur Serang-Cilegon mulai berkumpul sejak pukul 13.00 WIB. Meski hujan mengguyur kawasan Kramatwatu, semangat warga untuk menyuarakan aspirasinya tidak surut. Massa tetap berorasi di tengah hujan sambil membentangkan berbagai spanduk berisi tuntutan.
Petugas kepolisian dan anggota Satpol PP Kabupaten Serang tampak berjaga untuk mengamankan jalannya aksi. Tak lama kemudian, massa sempat menutup akses jalan menuju Cilegon sebagai bentuk protes. Setelah menyampaikan orasi, sebagian massa naik ke truk yang sebelumnya dihentikan untuk melanjutkan aksi ke titik berikutnya di perempatan lampu merah PCI.
Koordinator lapangan Aliansi Masyarakat Kramatwatu Melawan, Agung Permana, menilai penanganan persoalan truk odol di Jalur Serang-Cilegon oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang maupun Pemprov Banten berjalan terlalu lambat dan terkesan dibiarkan berlarut-larut.
“Penanganannya sangat lamban dan tidak berpihak kepada rakyat. Karena itu, kami turun ke jalan menolak keberadaan truk ODOL,” ujar Agung seusai berorasi.
Ia menambahkan, keluhan warga terkait truk tambang dan truk ODOL sudah disuarakan sejak lima tahun lalu. Namun hingga kini, belum ada penyelesaian yang nyata, sementara kecelakaan akibat kendaraan tersebut terus terjadi.
“Kami sudah berulang kali menyampaikan aspirasi soal tolak truk odol di Jalur Serang-Cilegon, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Tapi belum ada hasil konkret. Ini adalah bentuk kekecewaan dan kemarahan masyarakat,” tegasnya.


