SERANG, LINIMASSA.ID – Gunung Anak Krakatau (GAK) masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup aktif dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah erupsi tercatat terjadi, dengan letusan terbaru berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026 sekitar pukul 17.30 WIB.
Peningkatan aktivitas tersebut membuat Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau status Siaga. Sejalan dengan kondisi itu, masyarakat, wisatawan hingga nelayan diminta tidak melakukan aktivitas di sekitar kawah dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.
Pengamat Gunung Api di Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menyampaikan bahwa aktivitas letusan masih berubah-ubah. Meski demikian, intensitas erupsi pada Kamis mengalami penurunan jika dibandingkan dengan beberapa hari sebelumnya.
“Hari ini terjadi erupsi satu kali sekitar pukul 17.30 WIB. Statusnya sampai sekarang masih Level III atau Siaga. Sejak tanggal 17 sampai kemarin memang aktivitas letusannya cukup tinggi, sekarang kembali menurun,” ujar Andi saat dikonfirmasi melalui telepon, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurutnya, kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini mengharuskan masyarakat, khususnya nelayan dan wisatawan, menjauh dari kawasan kawah. Batas aman yang direkomendasikan adalah tiga kilometer dari pusat letusan.
Ia menegaskan larangan tersebut diberlakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah masyarakat terdampak apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
“Jangan melakukan kegiatan dalam radius tiga kilometer. Imbauan ini setiap hari kita sampaikan kepada masyarakat dan juga sudah kita informasikan kepada BPBD Kabupaten Serang. Kami meminta masyarakat mengikuti rekomendasi yang telah disampaikan,” tegasnya.
Gunung Anak Krakatau
Terkait kemungkinan erupsi Gunung Anak Krakatau memicu tsunami, Andi menyebut peluangnya saat ini relatif kecil. Ia menjelaskan, letusan yang terjadi sejauh ini tidak memiliki kekuatan yang besar.
Selain itu, bentuk Gunung Anak Krakatau yang sekarang dinilai berbeda dibandingkan kondisi sebelum erupsi besar pada masa lalu. Ketinggian gunung yang lebih rendah membuat potensi longsoran material ke laut juga tidak seperti sebelumnya.
“Lalu gunungnya juga sudah pendek. Jadi longsorannya tidak seperti dulu lagi. Kalau dulu gunungnya tinggi, longsoran materialnya bisa mendorong laut,” jelasnya.
Andi menambahkan, petugas Pos Pantau GAK terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas gunung api tersebut. Informasi terbaru mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau juga disampaikan secara berkala dan real time kepada pihak terkait maupun masyarakat.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak panik dalam menyikapi peningkatan aktivitas vulkanik GAK. Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan batas aman serta seluruh rekomendasi yang dikeluarkan oleh Pos Pantau Gunung Anak Krakatau.

