SERANG, LINIMASSA.ID – Pengembangan jalur kereta api Rangkasbitung-Serang melalui program elektrifikasi berpotensi membawa perubahan pada sistem transportasi di Kota Serang. Salah satu rencana yang tengah dipertimbangkan adalah mengaktifkan kembali Stasiun Cipocok.
Stasiun yang terletak di sekitar kawasan Banjar Agung itu diusulkan masuk dalam rencana pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD), yakni konsep penataan wilayah yang mengintegrasikan transportasi umum dengan aktivitas masyarakat.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kota Serang, W Hari Pamungkas, mengungkapkan bahwa usulan pengoperasian kembali Stasiun Cipocok masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Sejumlah aspek menjadi bahan pertimbangan pemerintah, mulai dari kepadatan penduduk, potensi kegiatan ekonomi, hingga pola perjalanan masyarakat di wilayah tersebut.
Hari menilai, Cipocok mempunyai peluang untuk menjadi titik penghubung transportasi baru. Hal itu didukung oleh aktivitas pekerjaan dan usaha warga yang sebagian memiliki keterkaitan dengan mobilitas menuju Jakarta.
“Di Stasiun Cipocok itu memang kami usulkan untuk diaktivasi. Kalau saya tidak salah, yang di dekat Banjar Agung. Memang di situ kan padat penduduk, dan pekerjaan ataupun usahanya beririsan ke ibu kota. Ini yang juga kami coba kaji lebih dalam lagi bagaimana plus minusnya menghidupkan kembali stasiun Cipocok tersebut,” jelas Hari, Rabu, 4 November 2026.
Stasiun Cipocok Bakal Diaktifkan
Selain rencana mengaktifkan Stasiun Cipocok, pemerintah juga memprioritaskan pengembangan jalur kereta Rangkasbitung-Serang. Program tersebut telah menjadi pembahasan bersama Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan berbagai pihak terkait.
Menurut Hari, jalur tersebut mempunyai prospek jumlah pengguna yang cukup menjanjikan. Pelaksanaan elektrifikasi direncanakan berlangsung secara bertahap, dengan tahap awal mencakup lintasan Rangkasbitung-Serang sebelum dilanjutkan menuju Cilegon hingga Merak.
“Yang diutamakan adalah jalur Rangkas-Serang dulu. Kita lihat potensinya sudah disampaikan sama Pak Gubernur pada saat itu, penumpangnya sekian dan nanti sampai dengan tahun sekian jumlahnya akan sekian. Itu potensi yang sangat besar untuk aktivasi jalur itu,” katanya.
Kendati demikian, realisasi elektrifikasi masih bergantung pada kesiapan sejumlah aspek pendukung. Salah satu kebutuhan penting yang harus dipastikan adalah ketersediaan energi listrik untuk menunjang perjalanan kereta.
Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Serang akan melakukan koordinasi dengan PT PLN guna menghitung kebutuhan daya sekaligus memastikan kapasitas pasokan listrik mencukupi ketika program tersebut mulai dijalankan.
Hari menyampaikan, secara keseluruhan persiapan rencana elektrifikasi sudah berada di kisaran 90 persen. Meski begitu, masih ada sejumlah hal teknis dan kebutuhan infrastruktur yang harus dituntaskan.
“Karena untuk aktivasi itu pasti membutuhkan jumlah listrik yang digunakan. Itu perlu dihitung lebih detail lagi supaya kebutuhan listrik untuk rencana ke depan sesuai dengan amanat Pak Gubernur sama Wali Kota yang merupakan inisiator kegiatan ini juga bisa terlaksana,” ucap Hari.
Lebih jauh, Bapperida Kota Serang menginginkan agar keberadaan Stasiun Cipocok nantinya mampu memicu perkembangan wilayah di sekitarnya. Dengan pendekatan TOD, stasiun tidak hanya difungsikan sebagai tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang, tetapi juga diarahkan menjadi kawasan yang mendukung kegiatan ekonomi.
Pengembangan tersebut diharapkan mencakup sektor permukiman, perdagangan, hingga pusat-pusat usaha yang terhubung dengan jaringan transportasi publik.
Hari menegaskan, kemudahan akses menjadi faktor penting dalam pengembangan sistem transportasi. Masyarakat diharapkan tidak hanya dapat menggunakan kereta, tetapi juga memperoleh kemudahan ketika harus melanjutkan perjalanan ke lokasi tujuan.
Karena itu, konektivitas dengan moda transportasi lain perlu dipersiapkan. Salah satu opsi yang dapat dikembangkan adalah layanan bus pengumpan dari stasiun menuju sejumlah titik strategis di Jakarta, seperti Tanah Abang, Blok M, dan Mangga Dua.
“Jadi, yang kami harapkan stasiun-stasiun yang ada itu bisa menjadi TOD baru. Ada pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang bisa hidup dengan adanya jalur transportasi, sehingga masyarakat bisa dikasih pilihan. Mau naik bus atau kereta,” ungkapnya.
Melalui integrasi tersebut, pengembangan perkeretaapian di Kota Serang diharapkan tidak hanya memberikan alternatif perjalanan bagi masyarakat. Lebih dari itu, proyek ini juga berpotensi mendorong munculnya pusat-pusat ekonomi baru di sekitar stasiun.
Kawasan yang terintegrasi dengan transportasi publik nantinya diharapkan mampu menarik perkembangan bisnis, aktivitas perdagangan, serta pembangunan perumahan.
“Sehingga masyarakat sekitar situ dan pembangunan di sekitar juga bisa hidup dari sisi pertumbuhan ekonomi, kemudian terkait perumahannya, terkait pusat-pusat bisnisnya bisa tumbuh di TOD yang tadi sudah disampaikan,” katanya.

