SERANG, LINIMASSA.ID – Krisis air bersih terus meluas akibat kekeringan di Banten melanda sejumlah daerah sepanjang 2026.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, tercatat 402 peristiwa kekeringan terjadi selama periode Januari hingga September. Bencana tersebut berdampak terhadap 46.696 jiwa.
Peningkatan kejadian kekeringan di Banten paling signifikan terjadi pada Agustus 2026. Dalam satu bulan tersebut, BPBD mencatat sebanyak 336 kejadian.
Kondisi ini menyebabkan perhatian penanganan bencana di Banten mulai beralih pada upaya pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten, Luthfi Mujahidin, menjelaskan bahwa karakteristik bencana di wilayahnya sepanjang tahun ini mengalami perubahan, sebelum akhirnya kekeringan di Banten meluas.
Pada awal tahun, bencana yang mendominasi merupakan jenis hidrometeorologi basah, sedangkan memasuki pertengahan tahun ancaman kekeringan semakin meningkat.
“Dinamika bencana di Provinsi Banten ini ada dua fase, yaitu hidrometeorologi basah dan kering,” ujar Luthfi, Senin, 2 November 2026.
Menurutnya, dampak kekeringan kini dirasakan oleh masyarakat di berbagai kawasan, termasuk wilayah perkotaan dan perdesaan. Keterbatasan pasokan air tidak hanya menyulitkan warga memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas sektor pertanian.
Situasi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi salah satu prioritas dalam penanganan bencana di wilayah Banten.
“Jadi fokus penanganan bencana bergeser pada krisis air bersih akibat kekeringan,” jelasnya.
Dalam laporan BPBD, total kejadian bencana alam dan insiden kedaruratan di Banten mencapai 1.726 peristiwa selama sembilan bulan pertama 2026. Dari jumlah tersebut, kekeringan tercatat sebanyak 402 kejadian atau setara dengan sekitar 23,3 persen.
Sementara itu, banjir masih menjadi jenis bencana dengan jumlah kejadian tertinggi. Sepanjang Januari hingga September 2026, tercatat 717 kejadian banjir yang berdampak terhadap 69.559 jiwa.
Kejadian banjir paling banyak berlangsung pada Januari dengan 264 peristiwa. Angka tersebut kemudian disusul Maret yang mencatat 96 kejadian.
Kekeringan di Banten Meluas
Menghadapi perubahan kondisi cuaca, BPBD Banten terus memperkuat langkah kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya bencana susulan, terutama soal kekeringan di Banten.
Perhatian khusus diberikan pada masa peralihan musim atau pancaroba yang berpotensi memicu berbagai gangguan cuaca.
Upaya mitigasi dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota, penyaluran bantuan air bersih ke wilayah terdampak, serta pemangkasan pohon yang berisiko tumbang ketika terjadi cuaca ekstrem.
Luthfi menyebut langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak bencana sekaligus memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
“Makanya kita juga mengantisipasi risiko bencana lanjutan, lewat koordinasi dengan pemerintah daerah setempat, pendistribusian air bersih, serta pemangkasan pohon rawan tumbang,” paparnya.
Selain mengandalkan langkah penanganan dari pemerintah, masyarakat juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca. Pasalnya, kondisi pancaroba dapat memicu beragam ancaman bencana, mulai dari kekurangan air bersih akibat kekeringan hingga potensi cuaca ekstrem.
BPBD mengingatkan pentingnya kewaspadaan bersama agar masyarakat dapat mengantisipasi risiko dan mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam.

