LINIMASSA.ID, TANGSEL – SDN Kademangan 02 Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi salah satu yang paling terdampak bencana kekeringan pada 2026 ini.
Akibatnya, aktivitas kegiatan di sekolah terganggu lantaran sumber air kering. Kini, untuk mencukupi keperluan kakus selama ada kegiatan, pihak sekolah bergantung pada bantuan air bersih.
Ketua Komisi II DPRD Kota Tangsel, Ricky Yuanda Bastian ikut prihatin dengan kondisi kekeringan yang terjadi di SDN Kademangan 02 Tangsel itu.
Ricky menegaskan, persoalan tersebut tidak bisa terus ditangani hanya dengan mengandalkan distribusi air bersih menggunakan truk tangki. Walaupun begitu, dirinya tetap mengapresiasi langkah jangka pendek yang dilakukan Pemkot Tangsel.
Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mendesak Pemkot Tangsel segera menyiapkan skema penanganan yang lebih permanen. Terlebih, kata dia, kekeringan sudah terjadi setiap tahunnya.
“Kita coba desak untuk diberikan solusi jangka panjang. Solusi jangka panjang kami juga mendorong kepada dinas untuk mencari solusi. Apakah nanti diberikan saluran air yang kemudian bisa ke sana, sehingga tidak tergantung pada distribusi air yang lewat mobil begitu ya,” ujarnya, Kamis (27/8/2026).
Menurut Ricky, kebutuhan air di lingkungan sekolah harus tersedia secara berkelanjutan agar kegiatan belajar mengajar tidak terganggu.
Di sisi lain, Ricky memahami bahwa membangun solusi jangka panjang membutuhkan waktu dan anggaran yang tidak sedikit. Penyediaan jaringan atau saluran air hingga ke wilayah yang terdampak kekeringan membutuhkan perencanaan serta penganggaran tersendiri.
Ricky mengungkapkan, pembahasan mengenai penanganan kekeringan memang sudah dilakukan. Namun, sejauh ini anggaran yang tersedia masih diarahkan untuk penanganan sementara berupa distribusi air bersih.
Sementara untuk pembangunan solusi jangka panjang, seperti penyediaan saluran air, belum masuk dalam pembahasan anggaran perubahan 2026. Ia memperkirakan kebutuhan anggaran untuk solusi permanen tersebut akan diakomodasi melalui APBD murni 2027.
“Cuma kan ketika solusi jangka panjang ini kan berarti kan bisa jadi kegiatannya enggak sebentar ya. Bisa jadi juga kegiatannya enggak memakan duit yang sedikit, tapi duit yang besar juga begitu untuk menyalurkan air ke sana,” tukasnya.
Sejak Juli 2026 lalu, sejumlah wilayah di Kota Tangerang Selatan sudah mengalami kekeringan mulai dari air sumur tidak keluar hingga air berbau sehingga tak layak digunakan. Hingga Kamis (27/8/2026), BPBD Tangsel mencatat sudah ada 19 titik kekeringan terjadi. (KO/Red)

