LINIMASSA.ID, TANGSEL – Warga di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mengeluhkan soal proyek galian saluran yang terbengkalai dan mengganggu aktivitas lingkungan warga. Pasalnya, materian tanah dan batu dibiarkan menumpuk di badan jalan dan membahayakan pengguna jalan, terutama saat hujan.
Lokasi proyek galian yang dikeluhkan itu berada di RT 003/004, Gang Mushola, Kelurahan Pondok Kacang Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan. Proyek itu diketahui telah terhenti selama sekitar 7 hari tanpa adanya aktivitas lanjutan dari pelaksana proyek.
Andri, Salah seorang warga mengatakan, pekerjaan galian saluran itu dilakukan sekira 27 Juni 2026 dan hingga saat ini material galian masih dibiarkan di jalanan.
“Sabtu mereka sudah melakukan penggalian, tapi sampai hari Jumat ini baik itu tanah dan galian tidak sama sekali dikerjakan,” kata Andri, Jumat, 3 Juli 2026.
Andri khawatir, tumpukan material galian berupa tanah dan batu yang dibiarkan di badan jalan itu akan memakan korban jika tetap dibiarkan dan tidak segera diangkut.
“Mau sampai kapan galian itu mangkrak, padahal katanya pekerjaan hanya 7 hari, ini sudah lebih. Kami kasihan warga kalau ada yang sakit atau butuh urgent untuk pakai kendaran tidak bisa lewat,” ungkap Andri.
Andri dan warga lainnya berharap, instansi terkait maupun kontraktor pelaksana segera melanjutkan pekerjaan hingga selesai. Selain percepatan pekerjaan, warga juga meminta agar area proyek diberikan pengamanan yang memadai, seperti pagar pembatas dan rambu peringatan, guna mengurangi risiko kecelakaan.
“Pengumuman ke warga tidak ada, papan informasi pekerjaan juga tidak ada, bahkan imbauan keselamatan dan gangguan juga tidak tersedia,” keluhnya.
Meski begitu, Andri menuturkan, pembangunan saluran drainase merupakan program yang positif untuk mengurangi genangan. Namun, pelaksanaannya diharapkan dilakukan secara profesional dengan memperhatikan keselamatan, kenyamanan masyarakat, serta tidak membiarkan proyek berhenti tanpa kejelasan.
“Kami mendukung program ini, tapi kalau pekerjaannya semaunya kesannya hanya memperlambat pekerjaan sehingga anggaran yang harusnya untuk 5-7 hari bisa membengkak karena durasi pekerjaan yang molor,” tuturnya.
Sementara di lapangan salah seorang pekerja yang mengaku berasal dari Garut Jawa Barat tidak banyak berkomentar, karena menurutnya itu adalah keputusan mandor. Kata dia dirinya bekerja sesuai arahan mandor.
“Soal tanah kami sampai sekarang tidak diberikan mobil untuk buang tanah dan puing, ini belum dikerjain karena kami diminta kerjakan yang di depan gang terlebih dahulu,” ujarnya.

