PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Sejumlah siswa di Pandeglang dilaporkan menerima susu dalam kondisi basi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menyikapi hal itu, Wakil Ketua Satgas Percepatan MBG Kabupaten Pandeglang, Doni Hermawan, memberikan teguran kepada Kepala SPPG dan pihak yayasan yang dinilai mengabaikan standar takaran gizi dalam penyajian menu.
Teguran terkait siswa di Pandeglang terima susu basi tersebut disampaikan dalam rapat kerja MBG yang digelar Satgas di Oproom Setda Pandeglang.
Pertemuan itu turut dihadiri para pengelola SPPG dan yayasan mitra sebagai tindak lanjut atas berbagai laporan terkait kondisi fasilitas dapur serta kualitas makanan yang dibagikan kepada pelajar, anak tidak sekolah, serta kelompok 3B di wilayah tersebut.
Terkait keluhan siswa di Pandeglang ini, salah satu dapur yang kembali mendapat peringatan adalah SPPG Tenjolaya. Dapur tersebut tercatat sudah dua kali menerima teguran akibat menu yang dikeluhkan para siswa.
Rapat kerja itu diinisiasi langsung oleh Ketua Satgas MBG Kabupaten Pandeglang yang juga menjabat Wakil Bupati Pandeglang, Iing Andri Supriadi. Dalam forum tersebut, Doni menegaskan agar SPPI atau Kepala SPPG menjalankan tugas pokok dan fungsi secara tegas.
Siswa di Pandeglang Dapat Menu Tak Layak
Ia menekankan bahwa setiap menu yang tidak sesuai standar harus ditolak oleh Siswa di Pandeglang. Menurutnya, keberadaan ahli gizi di setiap dapur wajib dioptimalkan agar penyajian makanan mematuhi aturan Badan Gizi Nasional (BGN). Ketegasan dalam menjalankan SOP dinilai penting agar kualitas makanan tetap terjaga.
Doni juga mengingatkan agar pengelola dapur memilih bahan baku yang bermutu dan tidak terpengaruh tekanan pihak tertentu yang justru dapat menimbulkan persoalan baru.
Program MBG, lanjutnya, bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita agar terhindar dari stunting serta memiliki tumbuh kembang optimal.
Ia memberikan peringatan keras kepada pengelola Dapur MBG Tenjolaya. Jika kembali terjadi pelanggaran, penerima manfaat akan dialihkan ke dapur lain.
Selain itu, Doni meminta variasi menu lebih diperhatikan agar siswa tidak merasa jenuh. Menu seperti tempe, tahu, dan telur dinilai perlu dikombinasikan dengan pilihan lain yang tetap memenuhi standar gizi.
Ia juga menegaskan bahwa apabila ditemukan kekurangan takaran gizi, hal tersebut menjadi tanggung jawab SPPI. Setiap dapur, katanya, wajib memiliki tenaga ahli gizi dan pengelola harus konsisten memastikan sajian makanan memenuhi ketentuan yang berlaku.



