PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Kabupaten Pandeglang mencatat lonjakan produksi padi di Pandeglang yang cukup signifikan.
Berdasarkan laporan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Pandeglang, total produksi mencapai 997.607 ton, terdiri dari 938.394 ton padi sawah dan 59.213 ton padi gogo.
Pelaksana Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura DPKP Pandeglang, Eti Purnamawati, menjelaskan bahwa capaian produksi padi di Pandeglang tersebut turut mengangkat posisi Provinsi Banten dalam peta produksi padi nasional. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Banten kini naik dari peringkat 9 ke posisi 8, dengan Pandeglang menjadi salah satu kontributor utama.
“Kalau dibandingkan tahun lalu, hasil tahun ini jelas meningkat. Salah satu penyebabnya adalah tambahan produksi dari padi gogo dan kondisi cuaca yang cukup mendukung selama musim tanam,” ujar Eti, Jumat, 7 November 2025.
Data DPKP menunjukkan produktivitas padi di Pandeglang mencapai 6,25 ton per hektare, sedangkan padi gogo sebesar 4,48 ton per hektare. Adapun total luas lahan baku sawah di daerah tersebut mencapai 52.373 hektare.
Eti menambahkan, faktor cuaca yang relatif stabil menjadi kunci keberhasilan peningkatan hasil panen tahun ini. Turunnya hujan sejak Oktober memungkinkan petani mempercepat proses pengolahan tanah dan penanaman kembali.
“Begitu curah hujan mulai teratur, petani langsung menyiapkan lahan. Biasanya hanya dua kali tanam (IP2), sekarang sudah bisa tiga kali (IP3), bahkan ada yang berani mencoba empat kali (IP4),” terangnya.
Wilayah Produksi Padi di Pandeglang
Beberapa wilayah yang menjadi sentra produksi padi di Pandeglang antara lain Cikeusik, Sobang, Panimbang, dan Menes.
“Daerah-daerah itu memiliki lahan sawah yang cukup luas sehingga memberikan kontribusi besar terhadap total produksi kabupaten,” imbuhnya.
Meski produktivitas terus meningkat, Eti mengakui masih ada kendala di lapangan, seperti serangan hama tikus dan wereng batang cokelat (WBC) yang berpotensi menurunkan hasil panen.
Untuk mengantisipasi hal itu, DPKP bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) rutin melakukan pemantauan serta pengendalian hama terpadu.
Selain permasalahan hama, penyerapan pupuk bersubsidi juga belum maksimal.
“Masih ada petani yang belum mampu memenuhi kebutuhan pupuknya, sehingga penyerapan pupuk di lapangan belum optimal,” jelas Eti.
Sebagai upaya menjaga kestabilan produksi, pemerintah menyalurkan bantuan benih padi bersertifikat kepada kelompok tani di sejumlah kecamatan. Benih tersebut sudah melalui uji sertifikasi dan diharapkan dapat meningkatkan kualitas panen.
“Bantuan benih bersertifikat ini rutin kami distribusikan. Biasanya disalurkan ke wilayah sentra produksi dan kadang dilengkapi dengan paket pupuk,” ujar Eti.
Ia juga mendorong petani untuk mengadopsi teknologi indeks pertanaman IP400, yaitu pola tanam empat kali dalam setahun, guna memaksimalkan efisiensi waktu dan hasil panen.
“Program IP400 ini menjadi langkah inovatif untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Pandeglang,” tambahnya.
Dengan hasil positif hingga Oktober, Eti optimistis target produksi padi di Pandeglang hingga akhir tahun dapat tercapai.
“Kami terus berkoordinasi dengan penyuluh pertanian dan POPT untuk mengantisipasi perubahan cuaca menjelang musim hujan, agar produksi tetap stabil sampai akhir 2025,” pungkasnya.



