linimassa.id – Setiap 18 April diperingati sebagai Hari Konferensi Asia Afrika. Cari tahu yuk asal mulanya.
Konferensi Asia Afrika di Bandung ini melibatkan 29 negara, termasuk 5 negara sponsor yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, India, dan Pakistan.
Konferensi ini dinilai sangat penting dalam mengembangkan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Sebab banyak membahas dan mempertimbangkan masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan bagi negara-negara peserta.
Jadi, setelah Perang Dunia II, masih timbul konflik dan masalah baru di wilayah Asia dan Afrika. Hal ini menimbulkan pertikaian bagi negara-negara seperti Korea, Indo China, Palestina, dan Afrika Selatan. Kejadian ini menimbulkan adanya dua blok kekuatan, yaitu Blok Barat dan Blok Timur.
Walaupun sudah banyak negara Asia Afrika yang merdeka, beberapa masih ada yang berjuang melawan penjajahan, seperti Indonesia dengan Irian Barat, India dan Pakistan dengan Kahmir, serta konflik di Timur Tengah terkait Palestina.
Laman Detik Sumut menyebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai badan perdamaian internasional belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan permasalahan di negara-negara tersebut.
Hal ini membuat bangsa-bangsa di kawasan Asia Afrika merasa adanya langkah kolaboratif untuk menyelesaikan permasalahan ini.
Hal inilah yang melandasi alasan terbentuknya Konferensi Asia Afrika. Konferensi ini didasari akan persamaan nasib, sejarah, latar belakang, dan tantangan yang dihadapi Sebelum diadakannya konferensi ini, terlebih dahulu diadakan Konferensi Colombo pada bulan April-Mei 1954 dan Konferensi Bogor pada bulan Desember 1954.
Isi Konferensi
Konferensi ini dilaksanakan pada tanggal 18-24 April 1955 dan Indonesia menjadi tuan rumah pertama kali, lebih tepatnya di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat. Alasan dijadikannya kota Bandung sebagai tempat diselenggarakannya KAA karena kota ini memiliki iklim yang sejuk dibandingkan dengan kota lainnya.
Gubernur Jawa Barat pada saat itu, Samsi Hardjadinata membentuk panitia lokal pada 3 Januari 1955. Konferensi ini juga disebut sebagai Konferensi Bandung.
Konferensi ini membuahkan hasil berupa Dasasila Bandung. Dasasila ini berisi 10 pokok tindakan dalam usaha menciptakan perdamaian dunia, berikut isinya:
- Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuannya serta asas yang termuat dalam piagam PBB.
- Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial setiap bangsa.
- Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, baik itu besar maupun kecil.
- Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam persoalan negara lain.
- Menghormati hak-hak setiap bangsa sesuai dengan piagam PBB.
- Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya untuk negara lain.
- Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara.
- Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan damai.
- Memajukan kepentingan bersama dan Kerjasama.
- Menghormati hukum dan kewajiban-kewajiban internasional.
69 Tahun
Tahun ini tepat 69 tahun setelah Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Lahirnya Konferensi Asia-Afrika di latar belakangi perasaan senasib yang dialami oleh negara-negara di Kawasan Asia dan Afrika akibat Perang Dunia II.
Pasca kejadian tersebut menyebabkan lahirnya dua blok kekuatan besar yang semakin memanas, yaitu blok barat dan blok timur. Konferensi ini menjadi bentuk solidaritas negara-negara perwakilan dalam menghapus penjajahan di Kawasan Asia-Afrika.
Mengutip dari situs resmi Museum Konferensi Asia-Afrika, lahirnya gagasan bermula pada 1954. Kala itu, Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotewala mengundang para Perdana Menteri dari Birma (U Nu), India (Jawaharlal Nehru), Indonesia (Ali Sastroamidjojo), dan Pakistan (Mohammed Ali) dalam rangka mengadakan suatu pertemuan informal “Konferensi Kolombo” di negaranya.
Undangan tersebut disambut baik oleh para pimpinan negara, yang salah satunya ialah Presiden Indonesia, Ir Soekarno yang menugaskan Ali Sastroamidjojo. Konferensi Kolombo berlangsung sejak 28 April hingga 2 Mei 1954 dengan agenda pembahasan mengenai segala kepentingan bersama dari negara-negara perwakilan.
Dalam suatu pertemuan 5 negara peserta Konferensi Kolombo untuk membahas mengenai persiapan Konferensi Asia-Afrika. Seluruh negara perwakilan sepakat untuk menjadi sponsor Konferensi Asia-Afrika dengan menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah.
Pada 18 April 1955, Konferensi Asia-Afrika dilaksanakan di Bandung dan mendapatkan sambutan meriah dengan diiringi sorakan rakyat.
Pasca mengumandangkan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Presiden Soekarno memulai pidatonya dengan judul “Let a New Asia and a New Africa be Born” yang artinya “Mari kita lahirkan Asia baru dan Afrika baru”.
Perdana Menteri Indonesia secara aklamasi terpilih sebagai ketua konferensi. Adapun hasil sidang Konferensi Asia-Afrika tertuang dalam komunike akhir, sebagai berikut:
- Kerjasama ekonomi
- Kerjasama kebudayaan
- Hak Asasi Manusia dan hak menentukan nasib sendiri
- Masalah rakyat jajahan
- Masalah-masalah lainnya
- Deklarasi mengenai memajukan perdamaian dunia dan kerjasama internasional
Hingga hari ini, deklarasi yang tercantum pada komunike tersebut menghasilkan Dasasila Bandung. Dengan pernyataan politik yang berisikan prinsip-prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.
Tujuan konferensi ini sebagai berikut:
- Mewujudkan perdamaian dunia
- Dengan memperkuat solidaritas kerjasama Asia dan Afrika
- Memperjuangkan nasib negara-negara di kawasan Asia Afrika.
Nah sudah tahu dong tentang Konferensi Asia Afrika. Semoga semakin menambah wawasan ya. (Hilal)



