linimassa.id – Hari Wanita Indonesia diperingati setiap 9 Maret. Peringatan ini sebagai penghormatan terhadap kontribusi tak ternilai dari para wanita dalam pembangunan negara ini.
Pada 2024, perayaan Hari Wanita Indonesia menjadi momen yang lebih istimewa karena pandemi global telah menguji ketahanan, kepemimpinan, dan peran penting wanita dalam menangani tantangan-tantangan yang kompleks.
Sehari sebelumnya, Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day diperingati pada 8 Maret dan bertemakan Invest in Women: Accelerate Progress atau Berinvestasi pada Perempuan: Mempercepat Kemajuan. Dalam memperingati hari spesial bagi perempuan tersebut, kaum Hawa menyuarakan opininya dalam meningkatkan peran perempuan di dunia.
Asal Mula
Perayaan Hari Perempuan Nasional di Indonesia tak lepas dari peringatan Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret. Penetapan tanggal tersebut sudah dibicarakan pada tahun 1913, melalui sebuah diskusi dan di tengah pemberlakuan kampanye perdamaian.
Namun, keputusan peringatan Hari Perempuan Internasional sudah disepakati terlebih dahulu di Kopenhagen, Denmark pada 19 Maret 1911.
Melansir laman IWD (International Women’s Day), kala itu diperkirakan ada 1 juta masyarakat, baik itu perempuan maupun laki-laki, yang turun ke jalan guna menyuarakan aspirasinya. Pengunjuk rasa meminta adanya kesamaan hak antara perempuan dan laki-laki, seperti memperbolehkan perempuan untuk bekerja, memegang jabatan di ranah publik, dan mengakhiri segala bentuk diskriminasi. Lima hari kemudian terjadi tragedi Triangle Fire di New York.
Peristiwa kebakaran tersebut menyebabkan 140 pekerja wanita tewas, dan didominasi oleh imigran Yahudi dan Italia. Dengan adanya kejadian itu, fokus terhadap pemenuhan hak-hak wanita dan perlindungannya semakin masif disuarakan di seluruh dunia. Terlebih, dalam hal Undang-undang Ketenagakerjaan.
Selalu Berjuang
Sejak ratusan tahun lalu, perempuan Indonesia selalu berjuang demi memiliki hak yang sama dengan kaum pria.
Ada dua pahlawan wanita Indonesia yang sangat terkenal dalam memperjuangkan emansipasi perempuan, yakni RA Kartini dan Dewi Sartika.
Keduanya sama-sama menginginkan agar kaum wanita memiliki kesempatan sama untuk mendapat akses pendidikan dan hak lainnya.
RA Kartini adalah tokoh yang sangat cinta membaca dan mendorong perempuan untuk mau berpikir secara terbuka. Meskipun dalam keadaan dipingit, namun Kartini tetap bisa bertukar surat dengan sahabat-sahabat penanya yang ada di Belanda, seperti Rosa Abendanon.
Karena banyak berdiskusi dengan perempuan Barat, Kartini menyadari bahwa perempuan Indonesia berada di status sosial rendah.
Usai menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat pada 12 November 1903, ia mendapat banyak kebebasan dari suaminya dalam berbagai hal, termasuk mendirikan sekolah khusus perempuan.
Sementara itu, Dewi Sartika berpandangan bahwa pendidikan adalah hal penting yang wajib didapat oleh kaum wanita. Sebab, kelak seorang wanita akan mendidik anak-anaknya, yang merupakan generasi penerus bangsa oleh karena itu pendidikan merupakan alat untuk menata, memajukan, dan mengubah segala hal ke arah yang lebih baik. (Hilal)



