linimassa.id – Belgia punya cara tersendiri dalam meramaikan Halloween. Yakni dengan menggelar lomba balap perahu labu.
Menyambut Halloween, ratusan warga di Kasterlee, Belgia, menggelar lomba perahu labu. Pesertanya datang dari berbagai negara, termasuk Italia dan Spanyol.
Lomba pada 22 Oktober lalu ini digelar di danau buatan di Kasterlee, sebuah kota kecil yang letaknya sekitar 50 kilometer dari Antwerpen.
Lomba perahu ini adalah bagian dari salah satu festival paling aneh di Eropa, yang disebut Pumpkin Regatta, yang digelar setiap bulan Oktober, menjelang perayaan Halloween.
Saat lomba ini digelar, mereka diharuskan mengenakan pakaian berwarna mirip labu, dan menaiki salah satu labu yang disediakan panitia. Jumlah pesertannya hari itu mencapai 350 orang.
Masyarakat Labu
Labu-labu yang digunakan untuk membuat perahu adalah hasil produksi “Pompoengenootschap” atau Asosiasi Masyarakat Labu Kasterlee.
Paul Boonen, presiden asosiasi tersebut, mengatakan, labu adalah bagian dari kehidupan di kota itu. Masyarakatnya bahkan berambisi menanam labu terbesar di dunia.
“Warga Kasterlee sebenarnya dikenal sebagai pemakan labu. Jadi sesungguhnya labu-labu itu awalnya di sini dan kemudian tersebar ke seluruh dunia. Oleh karena itu, masuk akal untuk mengadakan acara semacam itu di sini,” jelasnya.
Panitia menyiapkan perahu labu di pagi hari. Mereka hanya perlu melubangi labu raksasa tersebut dan kemudian menaruhnya di atas air. Kemudian 90 tim yang masing-masing terdiri dari empat orang bergantian mengendarainya.
Britt Tengrootenhuyzen memenangkan lomba perahu untuk katagori putri tahun lalu. Kali ini ia berharap kostumnya akan memberinya pengakuan yang layak diterimanya.
Acara ini digelar berkat kolaborasi antara organisasi olahraga kayak Kastelse Kayakklub dan Pompoengenootschap.
Digelar sejak 2008 dengan dukungan pemerintah kota Kasterlee, acara ini menarik antara empat hingga lima ribu orang setiap tahunnya.
Tantangan
Labu yang digunakan sebagai perahu tentunya bukan labu biasa. Labu harus memiliki syarat berat paling enggak sekitar 200 kg sampai 400 kg, berat labu ini untuk meminimalisir kemungkinan perahu terbalik.
Labu tersebut dipotong bagian atasnya dan dikeluarkan isinya untuk diduduki satu penumpang.
Tantangan yang paling sering dihadapi peserta mendayung dengan labu ini adalah cuaca, air danau yang sangat dingin, juga menyusun teknik bagaimana mengendalikan labu biar enggak tenggelam. Peserta yang mengikuti festival ini diikuti lebih dari 70 grup yang dibagi menjadi grup remaja, wanita, pria, dan campuran.
Selain lomba mendayung dengan labu, dalam festival ini juga terdapat area hiburan untuk si kecil berkreasi dengan beragam jenis labu. Acara semakin meriah karena ada pameran dekorasi dengan menggunakan labu.
Festival tersebut bertujuan untuk merayakan panen labu para petani di Lichtaart. Sejak abad ke-16 para petani di kota Lichtaart terkenal andal menanam dan menghasilkan labu berukuran raksasa, sebab kualitas tanah yang mengandung banyak pasir memang cocok untuk bercocok tanam labu di kota tersebut. (Hilal)



