linimassa.id – Sejauh ini bakpia identik sebagai oleh-oleh khas Yogya. Makanan yang terbuat dari tepung terigu dan dipanggang dengan isian berupa kacang hijau dicampur gula ini ternyata sebenarnya bukan asli berasal dari Yogyakarta, melainkan berasal dari Cina.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Amelia Puspita Sari dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan judul Bakpia Sebagai Bentuk Akulturasi Budaya Indonesia dan Tiongkok di Bidang Kuliner (Studi Kasus Bakpia 29), tertulis bakpia terbentuk dari pengaruh akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa.
Perpaduan kuliner ini berhasil menghidangkan kue enak dan nikmat. Bakpia menjadi bukti, benturan budaya tidaklah berbahaya. Bakpia berasal dari dialek Hokkian dengan nama asli Tou Luk Pia yang secara harfiah artinya kue atau roti yang berisikan daging.
Asal Mula
Kue pastri asal Fujian ini berupa gulungan tepung panggang dengan berbagai isi. Kulit bakpia dibuat dari campuran gula dan garam yang diaduk dalam air hingga larut, lalu dibentuk menjadi adonan dengan menambahkan tepung terigu.
Adonan kulit bakpia kemudian diberi isian, dibentuk bulat pipih, dan dipanggang sekurangnya 20 menit.
Bakpia aslinya berisi daging babi dan buah kundur. Bakpia jenis ini biasa disebut sebagai bakpia daging atau bakpia asin.
Sedangkan bakpia manis biasanya berisi kacang hijau atau ubi yang direndam beberapa malam, dikukus selama satu jam, kemudian digoreng dengan minyak, garam, dan gula pasir.
Ada pula variasi lainnya yang berisi keju, coklat, durian, nanas, atau pandan. Bakpia jenis ini biasa disebut sebagai kue sopia.
Bakpia pertama kali dibawa oleh pendatang asal Tiongkok, Kwik Sun Kwok, pada 1940-an ke Yogyakarta.
Pada saat itu. Kwik menyewa sebidang tanah di Kampung Suryowijayan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta milik seorang warga lokal bernama Niti Gurnito.
Pada awalnya, bakpia dibuat menggunakan isian daging dan minyak dari babi. Namun dimodifikasi menjadi kue yang tidak lagi menggunakan minyak babi dengan isian kacang hijau.
Hasil adaptasi cita rasa bakpia yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Yogyakarta mulai digemari banyak orang dan berhasil diterima oleh semua lapisan masyarakat.
Pada 1980an, bakpia pun semakin populer dan mulai muncul produsen-produsen rumahan bakpia di kawasan Pathuk. Para penjual membuka toko di rumah masing-masing dalam memasarkan bakpia buatannya. Bakpia dikemas menggunakan dus atau kertas karton. Bakpia ini kemudian dikenal dengan nama Bakpia Pathuk.
Bakpia Pathuk
Bakpia Pathuk sekarang ini tidak melulu berisi kacang hijau. Namun memiliki keunikan lain yaitu mempunyai isian beragam seperit kumbu hitam, coklat, keju, nanas, duren, coklat kacang dan berbagai macam rasa lainnya.
Bahkan sekarang ini muncul banyak modifikasi rasa baru seperti cappucino, bakpia ubi ungu, dan bakpia kimpul.
Sebagai makanan tradisional khas Jogja, Bakpia telah menarik banyak perhatian wisatawan bahkan wisatawan mancanegara.
Pada 31 Januari 2014 lalu misalnya, Miss Universe 2013 Maria Gabriela Isler yang berasal dari Venezuela bersama Putri Indonesia 2014, Elvira Devinamira singgah ke salah satu sentra produksi Bakpia sekaligus mencicipi makanan khas Jogja tersebut.
Tiap masa liburan sekolah, libur panjang akhir pekan, lebaran, natal dan tahun baru, seiring semakin meningkatnya jumlah wisatawan maupun orang dari luar daerah yang berkunjung ke Yogyakarta, para produsen Bakpia Pathuk kebanjiran pesanan bakpia.
Terkadang di antara para produsen Bakpia Pathuk juga saling membantu memenuhi pesanan produsen lainnya, terutama sesama industri rumah tangga.
Pada awalnya produsen Bakpia Pathuk memberi merek bakpianya menggunakan nomor rumah di mana mereka membuka usaha. Misalnya Liem Bok Sing dan penerusnya, Yung Yen, memberi merek “Bakpia Patuk 75” dikarenakan awal mulanya ia membuka usaha di Jalan Pathuk nomor 75.
Demikian pula dengan Tan Aris Nio, yang merupakan perintis lanjutan dari jajanan Bakpia Pathuk, memberi merek “Bakpia Pathuk 25” dikarenakan awal mulanya ia membuka usaha di Jalan Pathuk nomor 25.
Demikian seterusnya dan saat warga sekitarnya, baik yang tinggal di tepi jalan maupun di dalam kampung, turut membuka usaha rumahan dengan produk bakpia pun memberi merek dengan nomor rumahnya masing-masing, misalnya Bakpia 55, Bakpia 57, Bakpia 45, Bakpia 145, Bakpia 531, Bakpia 545, Bakpia 515, Bakpia 99, dan lain sebagainya.
Seiring berjalannya waktu kemudian muncul merek-merek Bakpia lainnya yang tanpa menggunakan nomor-nomor tertentu, misalnya Bakpia Kurnia Sari, Bakpia Djava, Bakpia Vista, dan masih banyak lagi.
Pemberian merek ini tentunya sesuai dengan kehendak masing-masing pengusahanya dan bukan lagi semata-mata merujuk pada nomor rumah atau nomor toko di mana mereka membuka usaha.
Asal Kata
Dilansir dari “Kuliner Yogyakarta-Pantas Dikenang Sepanjang Masa” oleh Murdjito, dkk terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, dalam bahasa Tiongkok, bakpia disebut ‘tok luk pia’ artinya kue pia kacang hijau.
Sebutan lainnya, bakpia berasal dari kata ‘bak’ dan ‘pia’. ‘bak’ artinya daging babi, sedangkan pia berarti kue yang terbuat dari tepung.
Secara harfiah bakpia diartikan sebagai kue yang berasal dari tepung yang berisi daging babi.
Karena masyarakat Yogyakarta umumnya beragama Islam, maka isi bakpia diganti dengan kacang hijau. Penemu bakpia kacang hijau adalah Kwik Sun Kwok, yang konon ia merupakan pemilik Bakpia Pathok 75.
Saat kesulitan ekonomi terjadi di keluarga Tionghoa, bakpia mulai dijual untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Pada sekitar tahun 1930, Hindia-Belanda tengah mengalami depresi ekonomi, kemudian dalam perjalanan waktu bakpia dikenal sebagai industri dan sebagai makanan khas Yogyakarta.
Sebutan bakpia pathuk tidak lain karena sentra bakpia berada di kawasan Pathuk, Yogyakarta. Selanjutnya, bakpia yang dikenal sebagai Bakpia Pathok ini memiliki sederetan nomor dibelakang nama merek itu, seperti Bakpia Pathok 75, Bakpia Pathok 25 dan sebagainya.
Secara umum ada dua jenis bakpia, yaitu bakpia basah dan bakpia kering. Perbedaan kedua bakpia tersebut, terletak pada tekstur kulit dan masa penyimpanannya.
Bakpia basah memiliki tektur kulit yang lebih lembut dan memiliki masa penyimpanan selama 4-5 hari. Sedangkan, bakpia kering memiliki tektur yang lebih renyah serta garing dan memiliki masa penyimpanan selama 10 hari. (Hilal)



