linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Sejarah dan Pantangan Malam 1 Suro Bagi Masyarakat Jawa
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Khazanah > Sejarah dan Pantangan Malam 1 Suro Bagi Masyarakat Jawa
Khazanah

Sejarah dan Pantangan Malam 1 Suro Bagi Masyarakat Jawa

LinimassaNews 18 Juli 2023
Share
waktu baca 4 menit
malam 1 suro
Sejarah dan pantangan Malam 1 Suro
SHARE

linimassa.id – Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro memiliki makna tersendiri. Malam 1 Suro merupakan awal di bulan pertama tahun baru.

Contents
Sejarah Malam 1 SuroPantangan Malam 1 Suro

Penanggalan 1 Suro mengacu pada kalender Jawa. Kalender Jawa sendiri diterbitkan pertama kali oleh Raja Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Dilansir dari laman gramedia.com, Kalender Jawa sendiri merupakan penggabungan antara penanggalan hijriyah atau kalender Islam, Hindu, dan masehi. Malam 1 Suro juga bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Islam. Ia diperingati setelah maghrib.

Hal tersebut disebabkan oleh pergantian kalender Jawa ketika matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam seperti pergantian hari dalam kalender masehi.

Pada tahun ini, malam 1 Suro diperkirakan terjadi pada Kamis 20 Juli sampai dengan Jumat 21 Juli.

Sejarah Malam 1 Suro

Sejarah peringatan malam 1 Suro ini lekat dengan budaya keraton. Pada massanya, ritual ini dilakukan di dalam keraton dan diwariskan hingga kini.

Kerton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta menganggap malam 1 Suro sebagai malam yang suci serta bulan yang penuh rahmat.

Dikutip dari Tirto.id, ketika malam 1 Suro tiba, menjadi momentum beberapa orang Jawa Islam untuk melawan nafsu duniawi dan membersihkan diri.

Mulai dari lelaku, tirakat hingga perenungan diri. Hal yang dilakukan untuk mendekatkan diri ke sang Pencipta alam semesta.

Pada massa kerajaan Islam, sekira tahun 1628-1629, Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung kalah ketika menyerang Batavia. Setelahnya, pasukan Mataram mulai terbagi menjadi beberapa keyakinan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Oleh sebab itu, Sultan Agung mengiisiasi pembuatan kalender tahun Jawa-Islam (penggabungan tahun Saka Hindu dan tahun Islam).

Ketika malam tahun baru, yakni malam 1 Suro, Sultang Agung menciptakan kebudayaan Jawa yang mana tidak boleh berbuat sembarangan, tidak boleh berpesta, dan prihatin.

Hal tersebut perlu dilakukan agar hal-hal tersebut tercapai, yakni dengan menyepi, memohon kepada Tuhan, dan bertapa.

Sultan Agung juga membuat penanggalan Jawa-islam sebagai upaya agar rakyatnya tidak terbelah karena perbedaan agama.

Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan.

Sultan Agung menghidupkan tradisi setiam Jumat legi melakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri. Hal ini dilakukan bersamaan dengan laporan pemerintahan setempat sambil melakukan pengajian oleh para penghulu kabupaten.

Pantangan Malam 1 Suro

Masyarakat Jawa tak lepas dari mitos, adat dan kepercayaan. Pada malam 1 Suro, masyarakat Jawa juga mempercayai adanya sejumlah pantangan. Ini sejumlah pantangan malam 1 Suro.

Tidak hanya itu, sebagian masyarakat percaya bahwa larangan malam 1 Suro, yakni dilarang berpergian kecuali untuk berdia atau melakukan ibadah lain. Melansir dari laman Cnnindonesia.com, berikut larangan-larangan di malam 1 Suro.

1. Larangan Keluar Rumah

Ketika malam 1 Suro, sebagian besar orang akan memiliki berdiam diri di rumah. beberapa keyakinan menyebut bahwa orang yang memiliki kesialan weton tertentu memang dilarang keluar rumah karena dapat mengalami kesialan.

Tidak hanya itu, pada malam 1 Suro juga diyakini bahwa orang-orang yang bersekutu dengan setan sedang mencari tumbal untuk memupuk kekayaan atau menambah kesaktian mereka.

2. Tidak Boleh Bicara atau Berisik

Pada malam 1 Suro, tidak sedikit orang Jawa melakukan ritual bisu. Ritual ini sering kali dilakukan di area Keraton Yogyakarta. Tidak hanya itu, layaknya orang berpuasa. Ketika melakukan ritual ini, dilarang makan, minum, bahkan merokok.

3. Tidak Menggelar Pernikahan

Menikah di bulan Suro, terutama pada malam 1 Suro diyakini berpeluang akan mendapatkan kesialan. Meskipun demikian, mernikah di bulan Suro tidak pernah dilarang dalam agama Islam. Dalam Islam sendiri, seluruh tanggal, bulan, dan waktu apapun merupakan waktu-waktu baik untuk mengegelar pernikahan.

4. Pindah Rumah

Pindah rumah saat malam 1 Suro juga masuk daftar pantangan. Waktu tersebut dianggap dapat memberikan kesialan jika seseorang melakukan pindah rumah.

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

THR ASN Kota Serang
THR ASN Kota Serang Siap Cair, Pemkot Siapkan Anggaran Rp45 Miliar
News
Polres Tangsel
Cerita Ibu Hamil di Ciputat: Diduga Korban KDRT, Kini Jadi Tersangka di Polres Tangsel
News
Kejari Serang
Kejari Serang Geledah Kantor Pertanahan Kota Serang, Ratusan Juta Rupiah Turut Diamankan
News
harga emas
Harga Emas Antam Anjlok Tajam, Ini Faktor Pemicu Koreksinya
News
THR
Tak Dianggarkan di APBD, THR PPPK Paruh Waktu Pemprov Banten Ditanggung OPD
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?