linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Sampah Ditukar Emas hingga Umroh: Inovasi Bank Sampah My Gold di Kota Serang
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > News > Sampah Ditukar Emas hingga Umroh: Inovasi Bank Sampah My Gold di Kota Serang
News

Sampah Ditukar Emas hingga Umroh: Inovasi Bank Sampah My Gold di Kota Serang

Andra 15 Desember 2025
Share
waktu baca 4 menit
Sampah
Sampah ditukar dengan emas
SHARE

SERANG, LINIMASSA.ID – Kesadaran akan pengelolaan sampah terus berkembang seiring munculnya berbagai inovasi di tingkat masyarakat. Salah satunya hadir di Kota Serang, Provinsi Banten, melalui Bank Sampah My Gold yang berlokasi di Kecamatan Taktakan.

Bank sampah ini menawarkan konsep unik dan menarik, yakni menukarkan sampah dengan emas, perak, bahkan kesempatan menunaikan ibadah umroh.

Bank Sampah My Gold memberikan beberapa kategori penukaran emas kepada para nasabahnya sebagai bentuk insentif ekonomi berbasis lingkungan.

Skema penukaran emas ini tidak hanya dirancang untuk menarik perhatian dan meningkatkan partisipasi masyarakat, tetapi juga memiliki tujuan ideologis dan ekonomis, yakni menghindari praktik riba serta menjaga nilai tabungan dari dampak inflasi.

Menurut pengelola, emas dipilih karena dianggap sebagai instrumen penyimpan nilai yang relatif stabil dan cenderung mengalami kenaikan nilai dari tahun ke tahun.

Dengan demikian, tabungan sampah masyarakat tidak tergerus inflasi, melainkan justru berpotensi mengalami peningkatan nilai.

Mulai dari emas seberat 0,25 gram dengan nilai sekitar Rp70.000-an, hingga emas 1 gram. Tidak hanya emas, bank sampah ini juga menyediakan penukaran dalam bentuk perak. Inovasi yang paling mencuri perhatian adalah program umroh, di mana nasabah yang berhasil mengumpulkan hingga 160 keping emas berkesempatan untuk berangkat umroh.

Sekretaris Bank Sampah My Gold, Ibu Kamilah Dewi, menjelaskan bahwa pendirian bank sampah ini berawal dari keresahan pribadinya terhadap kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggalnya yang kurang bersih.

“Awalnya saya resah melihat lingkungan sekitar rumah yang kurang terjaga kebersihannya. Dari situ muncul keinginan untuk mengajak warga mengelola sampah agar lebih bermanfaat,” ujarnya.

Dari keprihatinan tersebut, ia berinisiatif menciptakan sebuah sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Produk Lain Bank Sampah My Gold

Selain program penukaran emas dan perak, Bank Sampah My Gold juga aktif mengembangkan berbagai produk kerajinan dan olahan sampah sebagai bagian dari ekonomi sirkular berbasis komunitas.

Upaya ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.

Dari sampah anorganik, Ibu Dewi dan timnya menghasilkan kerajinan berupa tempat air gelas untuk menjamu tamu serta tempat tisu yang bernilai guna dan estetika.

Sementara itu, sampah organik diolah menjadi eco enzyme yang dimanfaatkan sebagai sabun cuci baju, sabun mandi, sabun cuci piring, hingga obat luka. Untuk sampah organik yang sudah membusuk, bank sampah ini mengolahnya kembali menjadi kompos.

Namun, di balik inovasi dan niat baik tersebut, perjalanan Bank Sampah My Gold tidak selalu berjalan mulus. Secara struktural, pengelolaan sampah berbasis masyarakat masih menghadapi tantangan klasik berupa rendahnya literasi lingkungan, minimnya insentif kebijakan, serta belum optimalnya sinergi antara inisiatif warga dengan program pemerintah daerah.

“Tantangan terbesar kami adalah masih kurangnya kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah, serta minimnya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, khususnya DLH Kota Serang,” ungkap Ibu Dewi.

Ibu Kamilah Dewi mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi adalah masih rendahnya kepedulian sebagian masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Selain itu, perhatian dan dukungan dari pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang, dinilai masih belum optimal.

Meski demikian, Bank Sampah My Gold tetap konsisten menjalankan misinya sebagai wadah edukasi lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Keberadaan bank sampah ini menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak semata-mata isu kebersihan, melainkan juga dapat menjadi instrumen pembangunan sosial, penguatan ekonomi mikro, serta peningkatan kesadaran ekologis warga.

Melalui inovasi yang ditawarkan, bank sampah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mengelola sampah secara kreatif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi tinggi.

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
26 November 2025
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

SPPG Karangtanjung
Dapur MBG SPPG Karangtanjung Belum Kantongi Sertifikat Higiene, Operasional Tetap Berjalan
News
Pemkot Serang
Tangani Banjir di Berbagai Wilayah, Pemkot Serang Ajukan Bantuan ke Provinsi dan Pusat
News
Tambang ilegal di Cilegon
Pemprov Banten Tutup Tambang Ilegal di Cilegon, Satgas Petakan Lokasi di Ciwandan dan JLS
News
Rekonstruksi
Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Anak Kader PKS Dilaksanakan Tertutup di BBS 3
News
Huntara Cigobang
Bertahan Menginap di Kantor Bupati, Warga Huntara Cigobang Tuntut Kejelasan Hunian Permanen
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?