LEBAK, LINIMASSA.ID – Memasuki musim kemarau yang berkepanjangan, ratusan hektare lahan sawah di Lebak mulai mengalami kekeringan.
Kondisi tersebut dipicu minimnya curah hujan yang dipengaruhi fenomena El Nino, sehingga areal persawahan yang selama ini masuk kategori tadah hujan tidak memiliki pasokan air.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan pihaknya masih melakukan pendataan lahan sawah di Lebak untuk mengetahui total luas lahan yang terdampak.
Hingga saat ini, tercatat sekitar 713 hektare sawah yang sedang ditanami padi mengalami kekurangan pasokan air.
“Lahan sawah di Lebak yang terdampak tersebar di 16 kecamatan dan proses pendataan masih terus dilakukan,” ujar Rahmat, Selasa 21 Juli 2026.
Menurutnya, sebagian besar sawah yang mengalami kekeringan berada di wilayah yang tidak memiliki sumber air sehingga sulit memperoleh pasokan melalui pompa.
Sawah di Lebak Kekeringan
Untuk mengatasi persoalan sawah di Lebak tersebut, Distan Lebak mendorong pembangunan sumur bor sebagai sumber air alternatif bagi lahan pertanian yang tidak memiliki akses irigasi.
“Kami berharap areal persawahan yang tidak memiliki sumber air dapat dibantu melalui pembangunan sumur bor agar kebutuhan air tanaman padi tetap terpenuhi. Sampai sekarang belum ada laporan mengenai gagal panen akibat kekeringan,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, Distan juga mengoptimalkan penggunaan pompa air dengan memanfaatkan aliran sungai yang masih tersedia untuk mengairi lahan pertanian.
Rahmat mengimbau para petani yang berada di wilayah dengan sumber air agar memaksimalkan penggunaan pompa untuk menjaga ketersediaan air di sawah.
Sementara bagi daerah yang benar-benar tidak memiliki sumber air, pemerintah daerah telah mengusulkan bantuan pembangunan sumur bor kepada Kementerian Pertanian.
“Kami terus berupaya agar kebutuhan air bagi lahan sawah di Lebak tetap terpenuhi sehingga dampak musim kemarau terhadap produksi padi dapat diminimalkan,” pungkasnya.

