linimassa.id – Hari Kesadaran Penyakit Kudis Internasional diperingati setiap 2 Mei. Melansir dari laman National Today, penyakit kudis pertama kali tercatat selama Perang Salib yang berlangsung dari abad ke-11 hingga abad ke-13.
Selama perjalanan yang panjang itu, para prajurit sering kelelahan dan akhirnya mengalami masalah kesehatan. Baru pada abad ke-16, kudis diakui sebagai penyakit serius setelah sekitar 2 juta pelaut meninggal karena penyakit ini.
Tingginya angka kematian ini memicu keprihatinan dan penyelidikan lebih lanjut dari para komandan angkatan laut dan dokter. Dokter James Lind yang menyelidiki penyakit tersebut menemukan bahwa buah jeruk bisa mencegahnya.
Namun Lind meninggal sebelum penemuannya dikenal luas. Meskipun kudis sekarang dikenal sebagai penyakit yang fatal dan dapat dicegah, namun penyakit ini masih banyak ditemukan karena masalah malnutrisi dan kelaparan di banyak negara.
Oleh karena itu, Hari Kesadaran Penyakit Kudis Internasional diperingati sebagai penghormatan terhadap orang-orang yang mengalami kelaparan di masa lalu.
Scabies
Laman Siloam menyebut, scabies atau kudis adalah penyakit yang ditandai dengan munculnya ruam seperti kulit berjerawat, bersisik, dan terasa gatal yang disebabkan oleh tungau bernama Sarcoptes Scabiei. Scabies adalah penyakit kulit yang menular.
Sehingga, apabila seseorang melakukan kontak langsung dengan penderitanya, ada kemungkinan tungau penyebab kudis berpindah dan menjangkiti orang tersebut.
Kudis atau scabies adalah penyakit kulit yang menular, baik dari manusia ke manusia ataupun hewan ke manusia.
Penularan kudis pun sangat mudah terjadi, mulai dari kontak langsung dengan kulit penderita hingga penggunaan barang-barang pribadi bersamaan, seperti sprei, bantal, dan sisir.
Kudis juga sering kali dikaitkan dengan penyakit kurap. Pada dasarnya, kudis dan kurap memang sama-sama penyakit kulit yang membuat penderitanya merasa gatal hebat. Namun, berbeda dengan kudis yang disebabkan oleh tungau, hal yang memicu terjadinya kurap adalah infeksi jamur.
Penyebab
Seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya, penyebab kudis adalah tungau Sarcoptes scabiei. Tungau ini berukuran sangat kecil dan sulit dilihat dengan mata telanjang. Karena itulah, penderita kudis awalnya tidak menyadari keberadaan tungau pada permukaan kulitnya.
Tungau Sarcoptes scabiei akan menggigit serta tinggal di dalam kulit penderita kudis. Kemudian, tungau Sarcoptes scabiei betina dapat membuat lubang di permukaan kulit penderita kudis untuk meletakkan telurnya. Ketika telur tungau sudah menetas, larvanya lalu akan muncul ke permukaan kulit dan menyebar atau bahkan menularkannya ke orang lain.
Selain karena tungau, ada beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjangkitnya seseorang dengan penyakit kudis adalah:
Melakukan kontak langsung dengan penderita kudis.
Menggunakan barang-barang tertentu, seperti sprei, bantal, atau sisir milik orang lain.
Daya tahan tubuh yang lemah.
Menderita penyakit yang menyerang daya tahan tubuh, seperti HIV atau AIDS, kanker, dan lain sebagainya.
Hidup secara berkelompok dengan orang lain, seperti di penjara, pesantren, panti asuhan, dan sejenisnya.
Gejala
Biasanya, gejala kudis baru akan muncul 2 sampai 4 minggu sejak penderitanya terkena paparan tungau. Namun, apabila penderita sudah pernah terserang tungau scabies sebelumnya, gejala kudis umumnya sudah terlihat 1 sampai 4 hari setelah terkena paparan tungau.
Adapun beberapa gejala scabies adalah sebagai berikut:
Kulit terasa sangat gatal, terutama saat malam hari. Hal ini disebabkan tungau betina biasanya akan bertelur di kulit saat malam hari.
Munculnya ruam berwarna kemerahan dan berbentuk seperti jerawat di kulit, khususnya pada bagian lipatan-lipatan tangan dan kaki.
Kulit bersisik dan lecet.
Kulit luka-luka akibat garukan.
Diagnosis
Karena dapat terdeteksi dengan mudah, dokter umumnya akan melakukan diagnosis kudis hanya dengan pemeriksaan fisik. Dokter akan memeriksa area kulit pasien yang terasa gatal.
Selain itu, dokter mungkin juga akan memastikan kudis pada pasien dengan mencari serta mengeluarkan tungau dari kulit menggunakan jarum.
Pada beberapa kasus, dokter akan mendiagnosis kudis dengan mengambil sampel kulit pasien untuk diperiksa. Sampel kulit tersebut nantinya akan dilihat melalui mikroskop untuk memastikan keberadaan telur serta tungau dewasa.
Cara Mengobati
Seseorang yang terjangkit penyakit kudis atau scabies, dokter akan meresepkan krim sebagai cara mengobati kudis. Terdapat beberapa krim yang umum diresepkan oleh dokter untuk mengobati penyakit kudis adalah sebagai berikut:
Losion benzyl benzoate.
Calamine.
Crotamiton.
Lindane.
Krim sulfur.
Permethrin.
Krim tersebut perlu dioleskan ke seluruh tubuh penderita kudis. Kemudian, biarkan selama 8 jam dan aplikasikan kembali krim tersebut hingga kudis hilang sepenuhnya. Selain itu, dokter juga dapat meresepkan beberapa obat tertentu kepada pasien apabila gejala kudis yang ditimbulkan sudah cukup parah. Beberapa obat yang diresepkan untuk penyakit kudis adalah:
Antibiotik, apabila terjadi infeksi pada tubuh pasien kudis.
Antihistamin, untuk mengendalikan reaksi alergi karena gigitan tungau.
Pasien kudis juga akan disarankan oleh dokter untuk selalu menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan sekitarnya, seperti rutin mengganti sprei tempat tidur, mencuci pakaian yang digunakan secara terpisah dengan milik orang lain, dan lain sebagainya.
Masalah kulit, seperti penyakit kudis atau scabies bisa sangat mengganggu, baik dari segi kesehatan maupun penampilan.
Oleh karena itu, penting untuk segera berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kulit & Kelamin berpengalaman di Siloam Hospitals guna mendapatkan pengobatan tepat terkait masalah kulit yang Anda alami.
Selain itu, bagi Anda yang ingin mendapatkan perawatan estetika dan kecantikan, Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan Klinik Dermatologi sebagai pusat unggulan perawatan estetika dan kecantikan yang dapat memberikan pelayanan secara lebih komprehensif. (Hilal)



