linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Mammoth, Gajah Purba yang Dihidupkan Kembali
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Gaya Hidup > Mammoth, Gajah Purba yang Dihidupkan Kembali
Gaya Hidup

Mammoth, Gajah Purba yang Dihidupkan Kembali

Hilal Ahmad 29 Desember 2023
Share
waktu baca 4 menit
Mammoth (Foto : National Geographic Indonesia)
Mammoth (Foto : National Geographic Indonesia)
SHARE

linimassa.id – Selama ini mammoth atau mamut dikenal sebagai genus gajah purba yang telah punah. Ukuran tubuhnya lebih besar daripada gajah normal yang ada saat ini.

Contents
PunahHidup Kembali

Gadingnya melingkar membentuk kurva ke arah dalam dan, dalam spesies utara, dengan rambut panjang. Mereka hidup dalam masa Pleistosen sejak 1,6 juta tahun lalu sampai sekitar 10.000 tahun lalu. Kata mamut berasal dari bahasa Rusia (мамонт).

Ada kesalahpahaman bahwa mamut lebih besar dari gajah. Spesies terbesar mamut yang diketahui, Mammoth Sungai Songhua, memiliki tinggi sekurangnya 5 meter pada pundaknya.

Mamut umumnya memiliki berat 6-8 ton, tetapi mamut jantan yang besar beratnya dapat mencapai 12 ton. Gading mamut sepanjang 3,3 meter ditemukan di utara Lincoln, Illinois tahun 2005. Sebagian besar spesies mamut memiliki ukuran sebesar Gajah Asia modern.

 

Punah

Zaman Es telah menyebabkan kepunahan berbagai jenis hewan besar, termasuk mammoth berbulu. Spesies terakhir dimungkinkan berkeliaran sekitar 4.000 tahun lalu.

Hewan dengan nama latin Mammuthus primigenius ini memiliki tubuh besar seperti gajah modern saat ini. Bedanya, seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu lebat dan memiliki gading yang cukup panjang.

Kepunahan megaherbivora ini terjadi akibat perubahan lingkungan yang sangat besar. Melansir Ensiklopedia Britannica, transisi Pleistosen-Holosen, yang terjadi sekitar 11.700 tahun yang lalu, merupakan periode perubahan yang luar biasa di seluruh dunia.

Di Beringia timur (bekas jembatan darat Eurasia dan wilayah Yukon dan Alaska yang tidak mengalami glasiasi), periode ini menjadi saksi runtuhnya bioma stepa raksasa yang secara bertahap berubah menjadi hutan boreal seperti yang kita kenal sekarang.

Ini menyebabkan hewan ikonik Zaman Es, seperti mammoth berbulu, kuda Yukon, bison stepa, dan sejumlah predator seperti singa Beringian punah.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Tim peneliti dari Alberta University sebagaimana diterbitkan dalam The Conversation, meneliti sampel sedimen yang mengandung banyak sekali DNA lingkungan purba dari tumbuhan dan hewan. Mereka bahkan berhasil mengidentifikasi jejak mammoth berbulu.

Menurut data yang dipaparkan oleh para peneliti, mammoth berbulu mungkin telah hidup di Klondike sampai kira-kira 9.000 tahun yang lalu dan mungkin baru-baru ini 5.700 tahun yang lalu.

Sampai saat ini, tidak ada bukti kelangsungan hidup mamut hingga pertengahan Holosen. Tetapi penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa mamut bertahan sampai 5.500 dan 4.000 tahun yang lalu di pulau-pulau Arktik.

 

Hidup Kembali

Melansir Discover Magazine, sebuah perusahaan rintisan bioteknologi yang berbasis di Texas, Colossal Biosciences, berada di garis depan dalam memperkenalkan kembali mammoth berbulu–atau beberapa versinya—ke dunia.

Perusahaan berharap dapat menciptakan anak gajah hibrida mammoth pada tahun 2027. Sehingga, dalam waktu dekat kita mungkin akan bertemu lagi dengan binatang buas yang telah punah.

Hewan-hewan ini akan diperkenalkan kembali di Pleistosen Park, cagar alam Rusia di Siberia, yang kini sedang diupayakan untuk menciptakan kembali padang rumput yang berkembang selama Zaman Es terakhir.

Upaya ‘menghidupkan kembali’ mammoth ini dilakukan untuk mengatasi perubahan iklim. Colossal menggambarkan hibrida sebagai pelindung penting bumi.

Menurut perusahaan, mereka akan memperlambat pencairan lapisan es Arktik (mencegah emisi gas rumah kaca yang terperangkap di dalam lapisan es) dan mengembalikan hutan semak belukar kembali menjadi padang rumput Arktik alami, mendorong ekosistem yang dapat mempertahankan pertahanannya sendiri terhadap perubahan iklim.

Upaya ini menimbulkan kontroversi dan juga risiko. Beberapa ilmuwan lain khawatir spesies baru yang dihasilkan akan invasif, mempengaruhi spesies asli, komunitas, dan ekosistem melalui kompetisi, penjelajahan, dan membawa penyakit.

Mammoth berbulu juga muncul di Kuis Hari Bumi yang sedang viral baru-baru ini. Dalam kuis tersebut tertulis, secara teknis hewan ini sudah punah, namun di tangan para ilmuwan hebat mungkin suatu hari kloning akan tercipta. (Hilal)

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
26 November 2025
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

SPPG Karangtanjung
Dapur MBG SPPG Karangtanjung Belum Kantongi Sertifikat Higiene, Operasional Tetap Berjalan
News
Pemkot Serang
Tangani Banjir di Berbagai Wilayah, Pemkot Serang Ajukan Bantuan ke Provinsi dan Pusat
News
Tambang ilegal di Cilegon
Pemprov Banten Tutup Tambang Ilegal di Cilegon, Satgas Petakan Lokasi di Ciwandan dan JLS
News
Rekonstruksi
Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Anak Kader PKS Dilaksanakan Tertutup di BBS 3
News
Huntara Cigobang
Bertahan Menginap di Kantor Bupati, Warga Huntara Cigobang Tuntut Kejelasan Hunian Permanen
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?