linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Perubahan Gejala DBD Terkait Pengaruh Reaksi Imunologi Pasca COVID-19
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Gaya Hidup > Perubahan Gejala DBD Terkait Pengaruh Reaksi Imunologi Pasca COVID-19
Gaya Hidup

Perubahan Gejala DBD Terkait Pengaruh Reaksi Imunologi Pasca COVID-19

Arief
6 Mei 2024
Share
waktu baca 2 menit
Demam Berdarah Dengue
Demam Berdarah Dengue
SHARE

linimassa.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa gejala Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat mengalami perubahan pada tubuh seseorang yang pernah terjangkit COVID-19 karena pengaruh reaksi imunologi.

“Memang ada beberapa laporan yang menunjukkan ada perubahan gejala DBD setelah pandemi COVID-19.

Hal ini memang terkait perubahan reaksi imunologi yang terjadi pada tubuh seseorang yang pernah terinfeksi COVID-19,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes, Imran Pambudi.

Menurut Imran, Kemenkes mendapat beberapa laporan yang menunjukkan perubahan gejala pada penderita DBD pasca pandemi COVID-19, salah satunya berasal dari Kota Bandung, Jawa Barat.

Tanda-tanda Tidak Biasa

Dinas kesehatan setempat mencatat adanya tanda-tanda DBD yang tidak biasa dikenali pada pasien, seperti tidak adanya gejala bintik merah dan mimisan yang biasanya menjadi pertanda serius di kalangan penderita DBD.

Imran menjelaskan bahwa bintik merah dan mimisan yang muncul usai digigit nyamuk Aedes aegypti adalah gejala klasik yang tidak selalu terjadi pada penderita DBD di era endemi saat ini.

Perubahan Gejala

Gejala terbaru yang juga menandai DBD, menurut Imran, adalah demam yang tak kunjung mereda, yang sebelumnya berlangsung antara empat hingga 10 hari setelah gigitan nyamuk.

Imran juga menyoroti kemajuan alat diagnostik DBD di Indonesia yang saat ini lebih canggih dalam mendeteksi penyakit tersebut secara akurat, salah satunya menggunakan rapid antigen (NS1).

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Sehingga kita tidak menunggu gejala-gejala klasik itu muncul yang kadang malah membuat keterlambatan penanganan. Bila ada demam tinggi disertai nyeri-nyeri badan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk dicek menggunakan NS1,” tambahnya. (AR)

Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print

Terkini

Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Kunjungan Wisata Anyer dan Carita Tetap Ramai
News
Desa di Pandeglang
5 Desa di Pandeglang Dilanda Kekeringan, BPBDPK Salurkan Bantuan Air Bersih
News
Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, BMKG Awasi Potensi Tsunami Nontektonik di Selat Sunda
News
Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga, BPBD Banten Tingkatkan Kesiapsiagaan Bencana
News
Pelebaran Jalan Bojonegara
Pelebaran Jalan Bojonegara–Serdang Diperkirakan Menelan Biaya Konstruksi Rp250 Miliar
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan