LINIMASSA.ID – Film Senin Harga Naik menghadirkan drama keluarga yang emosional dengan konflik yang terasa dekat dengan realitas banyak orang. Film yang tayang pada 18 Maret mendatang, akan menemani keluarga di hari libur lebaran.
Cerita berpusat pada Mutia (Nadya Arina), seorang perempuan muda yang memutuskan pergi dari rumah setelah terlibat konflik berkepanjangan dengan ibunya, Retno.
Kepergian Mutia bukan sekadar bentuk pelarian. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya mampu sukses tanpa bergantung pada keluarga. Dengan tekad kuat, Mutia membangun kariernya sendiri dan berusaha keluar dari bayang-bayang sang ibu.
Tiga tahun berlalu, Mutia berada di titik krusial dalam hidupnya. Kariernya tengah menanjak dan promosi jabatan sudah di depan mata. Namun, ia dihadapkan pada satu tugas besar yang menguji bukan hanya profesionalismenya, tetapi juga perasaannya yakni menangani proyek penggusuran sebuah toko roti legendaris bernama Mercusuar.
Konflik memuncak ketika Mutia mengetahui bahwa Toko Roti Mercusuar adalah milik Retno, ibu yang telah lama ia tinggalkan. Demi ambisi dan masa depannya, Mutia terpaksa kembali ke rumah. Ia tidak sendiri. Bersama kakak dan adiknya, ia mencoba membujuk Retno agar bersedia menjual toko tersebut. Peran kakak Mutia dimainkan oleh Andri Mashadi, sementara Nayla D. Purnama memerankan sang adik.
Namun, kepulangan Mutia justru membuka kembali luka lama yang belum sepenuhnya sembuh. Retno merasa segala pengorbanan dan usahanya sebagai orang tua justru membuat anak-anaknya semakin menjauh. Di sisi lain, Mutia merasa ibunya terlalu keras dan tidak pernah benar-benar memahami keinginannya.
Konflik di Film Senin Harga Naik
Konflik yang tersaji dalam film Senin Harga Naik ini tidak hanya berbicara tentang bisnis atau ambisi karier. Lebih dari itu, Senin Harga Naik menggambarkan kompleksitas hubungan orang tua dan anak mengenai ekspektasi, kesalahpahaman, serta luka yang dipendam bertahun-tahun.
Zahrotun Anisa, salah satu mahasiswi asal Serang, menilai film ini menyentuh sisi emosional yang jarang dibicarakan secara terbuka dalam keluarga. Ia mengatakan bahwa film tersebut menjadi pengingat bahwa dalam setiap keluarga sering kali terdapat “ruang gelap” berisi luka lama yang sengaja ditutupi agar semuanya tampak baik-baik saja.
“Film ini adalah pengingat bahwa di dalam setiap keluarga, seringkali ada ‘ruang gelap’ berisi luka lama yang sengaja ditutup agar terlihat baik-baik saja,” ujar Zahrotun.
Menurutnya, Toko Roti Mercusuar bukan sekadar latar cerita, melainkan simbol dari sosok orang tua. Zahrotun menjelaskan bahwa orang tua yang terlihat menolak perubahan belum tentu keras kepala, melainkan mungkin hanya merasa berguna dan berarti melalui hal yang selama ini mereka bangun.
“Toko Roti Mercusuar itu seperti simbol dari orang tua kita, mereka yang menolak berubah bukan karena keras kepala, tapi karena hanya di sanalah mereka merasa berguna,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa konflik film Senin Harga Naik antara Mutia dan Retno mengajak penonton untuk bercermin. Dalam pandangannya, sering kali anak terlalu sibuk ingin membereskan hidup orang tua sesuai standar mereka sendiri, tanpa benar-benar menanyakan apa yang membuat orang tua bahagia di masa tuanya.
“Lewat konflik Mutia dan ibunya, kita diajak berkaca bahwa seringkali kita terlalu sibuk ingin ‘membereskan’ hidup orang tua kita menurut standar kita, sampai lupa menanyakan apa yang sebenarnya membuat mereka merasa bahagia di hari tuanya,” tambah Zahro.
Melalui kisah Mutia dan Retno, film Senin Harga Naik tidak hanya menawarkan drama keluarga yang emosional, tetapi juga refleksi mendalam tentang arti pulang, penerimaan, dan memahami orang tua sebelum semuanya terlambat.



