linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: DCKTR Kota Tangsel Jadi Pilot Project Kurangi Sampah di Perkantoran: Buat Biopori-Pilah Sampah
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Pemerintahan > DCKTR Kota Tangsel Jadi Pilot Project Kurangi Sampah di Perkantoran: Buat Biopori-Pilah Sampah
Pemerintahan

DCKTR Kota Tangsel Jadi Pilot Project Kurangi Sampah di Perkantoran: Buat Biopori-Pilah Sampah

LinimassaNews 9 Januari 2026
Share
waktu baca 4 menit
DCKTR Kota Tangsel
Pegawai DCKTR Kota Tangsel saat membuang sampah organik ke lubang biopori.
SHARE

LINIMASSA.ID, TANGSEL – Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai menerapkan program Biopori Kantor sebagai upaya konkret membangun lingkungan perkantoran yang berkelanjutan, sekaligus mengurangi beban sampah dari hulunya.

Program ini mulai diterapkan DCKTR Kota Tangsel sejak Oktober 2025 dan menjadi proyek percontohan (pilot project) di Kawasan Perkantoran Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel di Lengkong Wetan.

Melalui program ini, DCKTR Kota Tangsel mendorong seluruh pegawai membiasakan diri memilah sampah sejak dari ruang kerja.

Petugas UPT Pemeliharaan DCKTR Kota Tangsel, Jeni Faturahman menjelaskan, program biopori kantor dirancang untuk mengelola sampah organik secara mandiri di lingkungan perkantoran, sementara sampah non-organik tetap dikelola melalui Bank Sampah yang dikelola Dharma Wanita Persatuan (DWP) DCKTR.

“Prinsipnya, kita ingin membantu mengurangi beban sampah dari hulunya. Kalau sampah bisa dikelola di kawasan perkantoran, kenapa tidak kita lakukan? Ini juga bagian dari upaya membangun kepedulian lingkungan bersama,” kata Jeni.

Ia menjelaskan, biopori yang dibuat di lingkungan kantor memiliki spesifikasi khusus. Diameter lubang mencapai sekitar 12 inci dengan kedalaman 80 hingga 100 sentimeter di bawah tanah, serta dilengkapi pipa yang menjulang sekitar 20 sentimeter di atas permukaan tanah untuk memudahkan perawatan karena biopori ini khusus untuk pengelolaan sampah menjadi kompos.

“Biopori ini difokuskan untuk pengolahan sampah organik, seperti sisa makanan. Nantinya mikroorganisme, belatung, dan cacing akan mengurai sampah tersebut hingga menjadi kompos. Selain mengurangi sampah, tanah di sekitarnya juga menjadi lebih gembur,” jelasnya.

Kompos yang dihasilkan dari biopori tersebut akan dimanfaatkan kembali sebagai pupuk tanaman di lingkungan kantor. Dengan demikian, siklus pengelolaan sampah organik dapat berjalan secara berkelanjutan.

Untuk mendukung perubahan perilaku pegawai, DCKTR Kota Tangsel juga menyiapkan sistem pemilahan di hulu. Di setiap ruangan disediakan ember tertutup khusus sampah organik. Sisa makanan dipilah secara mandiri oleh pegawai, lalu diangkut petugas kebersihan setiap sore untuk dimasukkan ke lubang biopori.

Program ini pun dilaksanakan dengan berkolaborasi bersama beberapa dinas lainnya di lingkungan Perkantoran Lengkong Wetan seperti Dinas Perhubungan, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK), Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta), serta Dians Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud).

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Perubahan kebiasaan memang tidak mudah. Tapi ini harus dimulai dari hulu. Biopori tidak akan berjalan tanpa pemilahan sampah yang benar,” tambahnya.

Ke depan, DCKTR Kota Tangsel menargetkan program biopori kantor ini dapat direplikasi di kawasan perkantoran lain, fasilitas umum, hingga gedung pendidikan dan kesehatan di wilayah Tangsel.

“Kalau pilot project ini berhasil, akan kita kembangkan ke kawasan lain seperti Puspemkot, kawasan Setu, Cilenggang, hingga gedung-gedung layanan publik. Target akhirnya tentu menuju zero waste di lingkungan perkantoran,” tegasnya.

Ia menambahkan, biopori juga memerlukan perawatan rutin, minimal satu kali dalam sepekan, untuk memastikan proses penguraian berjalan optimal.

“Kalau sampahnya terurai dan volumenya turun, artinya biopori bekerja dengan baik. Jadi ini bukan sekadar buang, tapi ada proses dan perawatannya,” tuturnya.

Program Biopori Kantor DCKTR Kota Tangsel diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis institusi, sekaligus menguatkan peran aparatur pemerintah sebagai pelopor budaya pilah sampah dari sumbernya.

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Ad imageAd image
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
12 Maret 2026
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

Pemkot Tangsel Kejari Kota tangsel
Pemkot dan Kejari Kota Tangsel Perkuat Pencegahan Penyimpangan Hukum Perdata
Pemerintahan
Wisudawan UIN Banten
Wisudawan UIN Banten yang Lulus 3,5 Tahun dan Sabet Predikat Terbaik
Pendidikan
Duta Pendidikan Bahasa Indonesia
Duta Pendidikan Bahasa Indonesia Untirta 2026 Resmi Dilantik
Pendidikan
Pasar Kranggot Cilegon
Pasar Kranggot Cilegon Bakal Dikelola Swasta Selama 20 Tahun
News
Pasar Badak Pandeglang
Pasar Badak Pandeglang Akan Disulap Jadi Modern
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?