linimassa.id – Jika selama ini kita mengenal emas sebagai perhiasan juga asset investasi, ternyata emas bisa dimakan. Meskipun harus merogoh kocek lebih dalam.
Sebagai simbol kekayaan dan kemewahan di hampir setiap belahan dunia, emas termasuk dalam salah satu bentuk barang yang paling berharga di dunia dan mempunyai nilai tinggi.
Memakan hidangan bertabur dan berlapis emas menjadi tren yang diminati beberapa orang, terutama para jutawan.
Para produsen seperti saling berlomba menyajikan hidangan paling mahal di dunia menggunakan emas, seperti restoran pizza, cupcakes dan ice cream. Makanan yang menggunakan emas tentunya sudah dipastikan tidak beracun dan juga aman untuk dikonsumsi, hal ini disetujui oleh Badan Pengawas Pangan Eropa.
Edible Gold
Laman Detik menyebut, salah satu bentuk emas yang bisa dimakan dinamai Edible Gold. Edible Gold biasanya dijadikan sebagai garnish yang menambah nilai estetika makanan. Berbagai makanan ditambahkan emas untuk menambah kesan mewah dan spesial.
Bentuk emas ini beragam, ada yang bubuk, pecah – pecahan dan lembaran tipis.
Edible gold ini merupakan emas 24 karat yang tidak berbahaya untuk dikonsumsi. Disebut edible gold karena jenis emas ini tidak mengandung racun dan tidak diserap oleh tubuh. Emas telah diurai ketika masuk ke dalam tubuh.
Bentuk edible gold ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
Edible Gold Leaf ialah lembaran emas tipis. Jenis emas ini dapat diaplikasikan dengan mudah karena cukup ditempel. Gold leaf yang asli mengandung 92 persen emas murni. Lembaran emas yang diberi label food grade dapat digunakan sebagai dekorasi makanan dan minuman yang tidak beracun.
Edible Gold Flake, berbentuk pecahan-pecahan yang biasanya digunakan oleh Chef untuk dekorasi makanan dan menaruhnya dengan menggunakan pinset.
Edible Gold Dust yaitu jenis emas yang berbentuk bubuk dan untuk mengaplikasikannya dengan menggunakan brush khusus.
Jenis Makanan
Ada banyak makanan dan minuman yang disajikan dengan menggunakan tambahan edible gold. Biasanya makanan dan minuman ini mengarah ke pastry-pastry Eropa, seperti Ice cream, pizza, burger, donat, hingga aneka dessert lainya.
Dengan mencampurkan edible gold akan membuat makanan dan minuman menjadi lebih mewah. Harga yang ditawarkan untuk makanan yang menggunakan edible gold juga terbilang fantastis.
Pembuat makanan dan minuman ini seolah sengaja menambahkan hiasan emas untuk mendongkrak harga dan eksistensi makanannya. Seperti yang sering kita lihat di media sosial, makanan yang paling baru dan fenomenal ialah steak seberat 1,2 kilogram yang disajikan dengan lapisan edible gold. Steak racikan Chef Salt Bae ini dibanderol dengan harga Rp 13 juta.
Tidak Bahaya
Secara umum, mengkonsumsi emas tidak ada bahaya yang mengganggu kesehatan. Tekstur edible gold yang lunak dan tipis atau mudah rapuh ini bisa dengan mudah melewati sistem pencernaan kita.
Ketebalan dari edible gold ini tergolong sangat tipis hanya 1/8.000 millimeter, terlebih lagi emas ini juga tidak mengandung rasa.
Mengonsumsi emas sama sekali tidak ada manfaatnya bagi tubuh. Ini dikarenakan emas tidak memiliki kandungan nutrisi yang berguna untuk tubuh. Namun kehadiran tren makanan berlapis dan bertabur emas ini sebagai kemewahan dalam sebuah hidangan.
Proses emas yang telah masuk ke dalam sistem pencernaan nantinya akan lewat begitu saja tanpa memberikan efek apapun pada tubuh. Dan secara alami, edible gold akan keluar dari dalam tubuh setelah 24 jam setelah menyantapnya. Partikel emas ini tidak berubah dan tidak bereaksi di dalam tubuh. Intinya, emas ini hanya dijadikan hiasan semata.
Asal Mula
Kebiasaan mengonsumsi emas sudah ada sejak ribuan tahun lalu, khususnya ketika zaman Jepang, Mesir, Tiongkok, dan Roma Kuno.
Emas sebagai bahan yang dapat dikonsumsi telah digunakan sejak zaman dahulu. Hampir 5.000 tahun yang lalu orang Mesir kuno menggunakannya untuk berbagai kebutuhan.
Para ahli alkimia dari Aleksandria mengembangkan berbagai obat dan ramuan dengan menggunakan emas yang dapat diminum untuk meremajakan tubuh.
Emas tersebut juga sering dikaitkan dengan bangsawan sehingga kerap dihidangkan dalam makanan mereka.
Di negara-negara timur seperti Jepang, Cina, dan India, emas jenis ini kebanyakan digunakan untuk obat-obatan yang dibuat oleh dokter istana.
Pada abad pertengahan, emas yang dapat dimakan terkenal di kalangan istana raja-raja negara-negara Eropa untuk dekorasi makanan.
Sampai saat ini, emas tetap digunakan dalam bidang farmasi untuk pembuatan obat-obatan maupun di dunia kuliner sebagai tambahan hidangan.
Melihat fungsinya sebagai pemberi kesan mewah pada hidangan, emas ini memang dibanderol dengan harga yang tidak murah. Ada yang menjual dalam bentuk paket 5 potong lembaran emas seharga 24 dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp341.000.
Ada pula yang menjualnya dalam bentuk potongan lembaran kecil, yang per 25 lembarannya dihargai Rp1 juta. Namun, harga tersebut bisa saja bervariasi tergantung lokasi pembelian.
Sementara itu, makanan ataupun minuman yang disajikan dengan menggunakan emas edible pada umumnya memiliki harga hingga jutaan, yaitu berkisar antara Rp7 juta sampai Rp20 juta. (Hilal)



