TANGERANG SELATAN, LINIMASSA.ID – Provinsi Banten mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp66,3 triliun selama semester pertama 2026. Jumlah tersebut mencapai 46,63 persen dari target investasi tahunan yang ditetapkan sebesar Rp142,19 triliun.
Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Banten menyelenggarakan Banten Investment Forum (BIF) 2026 yang berlangsung bersamaan dengan Karya Kreatif Banten (KKB) pada 9–11 Oktober 2026.
Dalam kegiatan tersebut, enam perusahaan menandatangani Investment Letter of Intent (LoI) sebagai bentuk pernyataan minat untuk menanamkan modal di Banten. Penandatanganan ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas peluang kerja sama sekaligus mendorong komitmen calon investor menuju realisasi investasi.
Perusahaan yang terlibat dalam penandatanganan tersebut meliputi Raybo Co. Limited, PT Winda Industrial Indonesia, PT Tukaka Craftwork Indonesia, PT Mingcheng Knitting Indonesia, PT Dragon Soar Industrial, dan PT Yuchuang Biotechnology Indonesia.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, mengatakan bahwa penguatan investasi harus disertai dengan pembenahan berbagai aspek pendukung. Menurutnya, kesiapan ekosistem dan penyelesaian kendala di lapangan menjadi faktor penting agar minat investor dapat diwujudkan menjadi kegiatan usaha.
“Potensi investasi yang dimiliki Banten perlu didukung oleh ekosistem yang memadai, penyelesaian berbagai kendala investasi, serta upaya memastikan modal yang masuk mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah,” ujar Sofwan.
Enam Perusahaan Nyatakan Minat, Ekosistem Investasi Diperkuat
Selain penandatanganan LoI, pelaksanaan KKB dan BIF 2026 juga diisi dengan langkah penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya tenaga kerja vokasi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Modern Cikande dan Yayasan APINDO untuk APINDO Daya. Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri.
Di sisi lain, sejumlah pemangku kepentingan juga menyatakan komitmen untuk mempercepat penanganan kendala investasi. Pihak yang terlibat mencakup Bank Indonesia Provinsi Banten, Kementerian ATR/BPN, BPN Provinsi Banten, DPMPTSP Provinsi Banten, serta Gubernur Banten.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperbaiki iklim investasi, termasuk membantu penyelesaian persoalan yang berhubungan dengan ketersediaan lahan dan kesesuaian tata ruang.
Gubernur Banten, Andra Soni, menegaskan bahwa penciptaan iklim usaha yang mendukung investasi perlu menjadi perhatian bersama. Ia menilai, keberhasilan menarik investor harus diikuti dengan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Investasi yang berkualitas tidak cukup diukur dari besarnya modal yang ditanamkan. Investasi juga harus mampu menciptakan kesempatan kerja, membuka ruang bagi UMKM lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten,” kata Andra Soni.
Data Bank Indonesia Provinsi Banten mencatat, total investasi sepanjang 2025 mencapai Rp130,2 triliun. Capaian itu setara dengan 108,95 persen dari target yang telah ditetapkan dan mampu menyerap 214.216 tenaga kerja.
Adapun realisasi investasi sebesar Rp66,3 triliun pada semester I 2026 memperlihatkan bahwa Banten masih memiliki peluang besar untuk mengembangkan aktivitas ekonominya. Meski demikian, berbagai potensi dan pernyataan minat investasi perlu ditindaklanjuti agar menghasilkan kegiatan ekonomi yang konkret.

