PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Tim SAR Gabungan kembali memperpanjang pencarian delapan orang termasuk jurnalis yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda, kawasan Gunung Anak Krakatau.
Operasi pencarian yang sebelumnya berlangsung selama tujuh hari kini dilanjutkan selama tiga hari.
Delapan orang tersebut terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal cepat Arupadhatu 1. Kelima jurnalis yang hingga kini belum ditemukan yakni M. Bagus Khoirunnas dari Antara, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal yang berstatus jurnalis lepas.
Sementara tiga awak kapal yang masih dalam pencarian adalah Kapten Warta, 55 tahun, ABK Surakman, 60 tahun, dan pemandu kapal Heriyanto, 49 tahun.
Keputusan memperpanjang operasi diambil setelah pencarian jurnalis selama tujuh hari belum membuahkan hasil. Perpanjangan tersebut diajukan Gubernur Banten Andra Soni bersama keluarga korban kepada Basarnas.
Andra Soni mengatakan, pencarian pada hari ketujuh belum berhasil menemukan keberadaan delapan orang yang hilang.
Menurut dia, ketentuan mengenai pelaksanaan operasi SAR pada dasarnya menetapkan masa pencarian selama tujuh hari. Namun, operasi dapat diperpanjang dengan mempertimbangkan sejumlah kondisi, termasuk permintaan keluarga maupun pemerintah daerah.
“Karena sampai hari ini saudara-saudara kita belum ditemukan, setelah tujuh hari sesuai Undang-Undang SAR Nomor 29 Tahun 2014, waktu pencarian dapat diperpanjang atas beberapa sebab, salah satunya permintaan keluarga dan pemerintah daerah,” ujar Andra di Posko SAR Marina, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Senin, 14 September 2026.
Atas dasar tersebut, Pemprov Banten meminta Basarnas melanjutkan operasi pencarian. Pemerintah daerah juga meminta dukungan Polda Banten, khususnya Direktorat Polair, Lanal Banten, serta seluruh unsur terkait yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Andra berharap evaluasi terhadap pelaksanaan pencarian selama tujuh hari sebelumnya dapat menjadi dasar untuk mengoptimalkan pencarian pada masa perpanjangan.
“Kami berharap evaluasi tujuh hari sebelumnya dapat dimaksimalkan sehingga upaya pencarian bisa lebih optimal dan saudara-saudara kita segera ditemukan,” tuturnya.
Kepala Basarnas Banten AI Amrad memastikan operasi pencarian kembali dilanjutkan selama tiga hari.
Pencarian akan dilakukan melalui jalur laut menggunakan kapal serta pemantauan dari udara. Pelaksanaan metode tersebut akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi cuaca di lapangan.
“Kami melanjutkan Operasi SAR selama tiga hari ke depan dengan menggunakan kapal dan pemantauan udara, tentunya menyesuaikan kondisi cuaca,” kata AI Amrad.
Polda Banten Pastikan Temuan Benda Bukan Milik Jurnalis
Sementara itu, Polda Banten memberikan penjelasan mengenai sejumlah benda yang ditemukan selama proses pencarian pada hari keenam.
Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Ahiles Hutapea menyebutkan, tim menemukan tiga jaket pelampung, dua lembar terpal, dan satu galon air mineral.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan pencocokan dengan pihak pemilik kapal, polisi memastikan benda-benda tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan kapal cepat Arupadhatu 1 yang membawa delapan orang dalam perjalanan tersebut.
“Kami sudah melakukan pendalaman dan mencocokkan temuan dengan pemilik kapal. Hasilnya memastikan benda-benda tersebut tidak berkaitan dengan teman-teman yang berada di speadboat Arupadhatu 1,” jelas Maruli.
Polisi juga telah memeriksa temuan jasad di sekitar muara Sungai Kali Teratai, Kecamatan Kramatwatu. Berdasarkan pemeriksaan terhadap data primer, jasad tersebut dipastikan bukan salah satu dari delapan orang yang hilang kontak dari Arupadhatu 1.
Jasad di Enggano Menunggu Pencocokan DNA
Terkait informasi mengenai penemuan jasad di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu, Polda Banten masih menunggu hasil pemeriksaan DNA.
Maruli menjelaskan, jasad tersebut telah dievakuasi dari Pulau Enggano menuju Polda Bengkulu menggunakan pesawat. Proses autopsi juga telah dilakukan.
Selanjutnya, sampel DNA dari jasad tersebut akan dibandingkan dengan sampel keluarga dari para korban yang masih dinyatakan hilang.
“Jasad tersebut sudah dievakuasi dari Pulau Enggano ke Polda Bengkulu dan hari ini telah dilakukan autopsi. Kami masih menunggu proses pencocokan DNA dengan sampel yang sudah diambil dari keluarga teman-teman yang hilang kontak,” ujarnya.
Polda Banten meminta masyarakat dan keluarga korban menunggu hasil pemeriksaan sebelum identitas jasad tersebut dapat dipastikan.
Maruli mengatakan, berdasarkan informasi awal dari hasil koordinasi dengan Polda Bengkulu, jasad yang ditemukan berjenis kelamin laki-laki. Tingginya diperkirakan sekitar 165 sentimeter dengan kondisi wajah mengalami kerusakan.
Sementara dari perkiraan usia, jasad tersebut diperkirakan berusia lebih dari 50 tahun.
“Kami mohon waktu untuk menjelaskan lebih lanjut setelah hasil pemeriksaan DNA dari Polda Bengkulu keluar,” katanya.

