PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda, termasuk kondisi muka air laut dan aktivitas tektonik di sekitarnya.
Pemantauan dilakukan melalui jaringan sensor seismik, pengamatan pasang surut, serta koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) beserta instansi terkait.
Berdasarkan laporan PVMBG pada 9 Juli 2026, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Saat itu, teramati asap kawah berwarna putih hingga kelabu dengan tekanan lemah sampai sedang.
Ketebalan asap bervariasi dari tipis hingga tebal dengan ketinggian sekitar 10–150 meter di atas puncak kawah.
PVMBG terus mengawasi perkembangan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung secara berulang dalam kurun waktu cukup panjang, mulai dari hitungan minggu hingga tahunan.
Pemantauan difokuskan pada dinamika geologi, termasuk perubahan muka air laut, potensi pergerakan massa batuan, serta evaluasi terhadap kemungkinan bahaya yang dapat ditimbulkan.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah II, Dr. Hartanto, mengatakan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau perlu menjadi perhatian seluruh pihak.
“Selain potensi bahaya primer berupa guguran awan panas dan lava, lontaran batu vulkanik, serta sebaran abu dan gas vulkanik. Aktivitas vulkanik juga perlu diwaspadai terhadap kemungkinan terjadinya bahaya ikutan (secondary hazard) seperti terjadinya lahar dan longsoran material ke laut yang dapat memicu tsunami seperti bencana tsunami Selat Sunda tahun 2018,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat 10 Juli 2026.
Gunung Anak Krakatau Siaga
Meski demikian, hingga saat ini BMKG menyatakan belum menemukan indikasi terjadinya tsunami maupun perubahan muka air laut, akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang mengarah pada fenomena tersebut.
Sebagai langkah mitigasi, BMKG bersama PVMBG terus melakukan pemantauan secara berkelanjutan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau dan kondisi perairan di sekitarnya.
“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi berkaitan dengan isu-isu erupsi Gunung Anak Krakatau. Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG, PVMBG, maupun instansi terkait yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” ujarnya.
BMKG juga mengingatkan masyarakat, wisatawan, dan nelayan agar mematuhi rekomendasi PVMBG dengan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.
Selain itu, warga yang tinggal di kawasan pesisir Selat Sunda diminta memahami jalur evakuasi, lokasi pengungsian, serta prosedur kesiapsiagaan apabila sewaktu-waktu pemerintah mengeluarkan peringatan evakuasi resmi.
“BMKG akan terus memperbarui informasi berdasarkan hasil pemantauan terbaru dan akan segera menyampaikan kepada masyarakat apabila terdapat perkembangan yang memerlukan peningkatan kewaspadaan,” katanya.

