PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Sebanyak 20 kampung di Kabupaten Pandeglang akan ikut ambil bagian dalam pagelaran Gebrag Ngadu Bedug yang digelar di Alun-alun Pandeglang.
Acara budaya tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat, 29 Mei hingga Minggu, 31 Mei 2026.
Puluhan kampung yang berpartisipasi pada Gebrag Ngadu Bedug di antaranya Kampung Kabayan Masjid, Cicadas, Sukalimas, Carodok Mandala, Salabentar, Cibeunying, Cilaja, Kadu Limus, Kadu Kupa, Ciguludug, Cikiray, Kadugajah, Sanim, Sarkawana, Juhut, Jambu, Sorean, Cipacung, Talaga, serta Juhut JIP.
Kegiatan Gebrag Ngadu Bedug tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni tradisional, tetapi juga sebagai upaya melestarikan budaya khas masyarakat Pandeglang agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Ketua Asosiasi Seniman Bedug Pandeglang, Endang Suhendar, mengatakan bahwa tahun ini pihaknya kembali mengadakan festival Gebrag Ngadu Bedug dengan tema “Tang Ting Ting Dong Sawara Bunyi dalam Jerami”.
Menurutnya, konsep tahun ini menonjolkan penggunaan jerami sebagai bahan utama konstruksi bangunan arena pertunjukan.
Lestarikan Tradisi Gebrag Ngadu Bedug
Hal tersebut dilakukan untuk mengenalkan kembali pengetahuan tradisional Gebrag Ngadu Bedug mengenai bentuk bangunan khas masyarakat tempo dulu.
Ia menjelaskan, setiap tahun panitia selalu menghadirkan konsep yang berbeda. Pada tahun sebelumnya, tema yang diangkat adalah saung tagog dan baralak kalapa, sedangkan tahun ini mengusung konsep Saung Kebo berbahan jerami.
Kegiatan Gebrag Ngadu Bedug tersebut diselenggarakan secara mandiri oleh Asosiasi Seniman Bedug Kabupaten Pandeglang dengan melibatkan peserta dari berbagai kampung di daerah tersebut.
Selain pertunjukan budaya, panitia juga berencana melakukan penanaman pohon bambu usai acara selesai. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pelestarian lingkungan setelah banyak bambu digunakan untuk kebutuhan acara oleh para peserta dari 20 kampung.
Penanaman bambu nantinya akan dilakukan di masing-masing kampung peserta sebagai upaya menjaga keberlangsungan ekosistem dan mencegah berkurangnya populasi bambu di wilayah tersebut.



