linimassa.id – Kalau kamu penikmat stasiun televisi Trans 7 pasti tahu kalau Sabtu dan Minggu ada program baru Bernama Kampung Rasa. Serial tayangan komedi ini membahas Oki Lukman sebagai pengusa warung nasi padang dan Parto pengusaha warung Tegal. Kali ini kita bahas warung Tegal.
Warung Tegal alias Warteg merupakan salah satu bisnis yang menjamur di berbagai daerah. Terkesan sederhana, tapi bisa menghasilkan omzet besar.
Warteg identik dengan konsep warung makan yang menyediakan hidangan rumahan dengan harga relatif murah. Harga yang murah ini karena warteg memang ditujukan untuk semua kalangan khususnya pekerja dan pendatang di kota-kota besar.
Ciri khas warteg yang bisa dijumpai adalah ukurannya yang tak terlalu besar serta lokasi yang strategis.
Warteg yang memiliki pasar tetap, yaitu keluarga, pekerja, hingga pelajar memiliki konsep sebagai warung makan dengan variasi menu rumahan.
Warung yang menjual masakan tradisional khas Tegal ini terkenal karena porsinya banyak dengan harga murah. Tak heran jika warung ini sangat populer di Indonesia, bahkan tersebar hampir di seluruh pulau Jawa.
Selain itu, warteg memiliki dua pintu. Meski tidak semua warteg berpintu dua, namun rata-rata warteg memiliki dua pintu. Jika secara fungsi, warteg dengan dua pintu digunakan untuk alur keluar-masuknya pelanggan.
Sedangkan jika secara filosofi, adanya dua pintu dianggap bisa mendatangkan banyak rezeki bagi pemiliknya.
Keunikan
Dan biasanya warteg menggunakan nama “Bahari”, bukan berarti semua warteg tersebut milik seorang bernama “Bahari”.
“Bahari” sendiri merupakan slogan kota Tegal yang berarti kebersihan, aman, sehat, dan rapi. Sedangkan secara istilah, “Bahari” memiliki arti yang identik dengan keindahan laut.
Dan fakta lainnya, meski warteg berasal dari Tegal, ternyata di sana tidak ada warteg. Orang Tegal menyebut warteg sebagai warung nasi atau warung makan biasa.
Istilah Warteg atau Warung Tegal karena pemiliknya yang asli Tegal membuka warung di daerah rantauan.
Ada beberapa desa di Tegal yang penduduknya banyak menjadi pengusaha warteg di tanah rantau. Sebut saja Sidakaton, Sidapurna, Cebawan, atau Margadana.
Warteg tidak hanya berdiri pada sebuah bangunan permanen dan menetap disuatu wilayah. Saat ini banyak warteg-warteg dadakan yang berdiri di bangunan temporer. Biasanya dekat dengan kawasan proyek dan banyak pekerja.
Menu khas warteg antara lain sayur asem, sayur sop, tongkol balado, dan lain-lain. (Hilal)



