PANDEGLANG, LINIMASSA.ID – Dampak kemarau panjang di Kabupaten Pandeglang semakin meluas. Hingga 29 September 2026, sebanyak 27 kecamatan tercatat terdampak kekeringan yang menyebabkan puluhan ribu warga kesulitan memperoleh air bersih.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang mencatat, krisis air bersih kini terjadi di 90 desa. Sebanyak 20.473 kepala keluarga atau 69.591 jiwa terdampak kondisi tersebut.
Wilayah selatan Pandeglang menjadi salah satu kawasan yang mengalami dampak paling berat. Di Kecamatan Cikeusik, misalnya, kekeringan dilaporkan telah melanda seluruh 14 desa.
Kondisi tersebut terjadi setelah hujan tidak turun secara merata selama beberapa bulan terakhir. Sejumlah sumber air warga, termasuk sumur dan sumber air permukaan, mulai mengering sehingga kebutuhan sehari-hari masyarakat semakin sulit dipenuhi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPBDPK Pandeglang bersama Kodim 0601/Pandeglang dan jajaran kepolisian terus melakukan pendistribusian air bersih menggunakan kendaraan tangki.
Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala. Ketersediaan armada tangki yang terbatas serta jarak menuju sejumlah desa di wilayah selatan membuat proses pengiriman air membutuhkan waktu lebih panjang.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBDPK Kabupaten Pandeglang Lilis Sulistiati mengatakan, cakupan wilayah terdampak kekeringan mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
“Pada 2 September 2026 masih tercatat 15 kecamatan yang mengalami kekeringan hingga krisis air bersih. Kemudian pada 29 September 2026 jumlahnya bertambah menjadi 27 kecamatan,” ujar Lilis, Selasa, 29 September 2026.
Ke-27 kecamatan tersebut meliputi Cadasari, Pandeglang, Karangtanjung, Majasari, Panimbang, Patia, Picung, Sindangresmi, Munjul, Angsana, Sukaresmi, Cikeusik, Sobang, Cigeulis, Cisata, Koroncong, Kaduhejo, Bojong, Mekarjaya, Labuan, Carita, Banjar, dan Cibaliung.
Menurut Lilis, data tersebut masih bersifat sementara dan merupakan hasil pendataan hingga 29 September 2026.
BPBDPK Pandeglang, lanjutnya, terus melakukan penanganan dengan menyalurkan air bersih ke sejumlah wilayah yang membutuhkan.
“Penyaluran bantuan air bersih dilakukan di 27 kecamatan. Sampai saat ini total air bersih yang sudah didistribusikan mencapai 964.000 liter,” katanya.
Lilis menjelaskan, dari total 35 kecamatan di Kabupaten Pandeglang, sebanyak 27 kecamatan kini masuk wilayah terdampak kekeringan hingga mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut terutama terjadi di wilayah Pandeglang selatan yang mengalami minim hujan dalam beberapa bulan terakhir. Hujan dengan intensitas ringan memang sempat turun, tetapi belum terjadi secara merata.
Krisis Air Bersih di Pandeglang
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi kemarau di Banten, termasuk Pandeglang masih berlangsung hingga November 2026. Proyeksi tersebut lebih panjang dibandingkan perkiraan sebelumnya yang menempatkan puncak musim kemarau pada Agustus-September.
Perpanjangan musim kemarau tersebut dikaitkan dengan pengaruh El Nino serta potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang diperkirakan bertahan hingga penghujung tahun. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan.
Sekretaris BPBDPK Kabupaten Pandeglang Nana Mulyana mengatakan, informasi mengenai kemungkinan kemarau berlangsung hingga November menjadi perhatian serius karena kebutuhan air bersih masyarakat akan berlangsung lebih lama.
“Kalau kemaraunya lebih panjang, tentu masyarakat akan menghadapi krisis air bersih dalam waktu yang lebih lama,” ujarnya.
Menurut Nana, tantangan lainnya adalah minimnya awan yang berpotensi menghasilkan hujan. Kondisi tersebut juga membuat upaya modifikasi cuaca untuk menghasilkan hujan menjadi sulit dilakukan.
“Tidak adanya awan yang berpotensi menghasilkan hujan membuat modifikasi cuaca atau hujan buatan sulit dilakukan. Memang potensi awan hujannya tidak tersedia,” katanya.
Minimnya hujan juga mulai memengaruhi sumber air yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun pengisian armada tangki bantuan.
Nana menyebutkan, debit sumber air yang digunakan sebagai lokasi pengisian kendaraan tangki BPBD di Labuan mulai berkurang. Aliran air yang sebelumnya deras kini semakin kecil.
“Pengisian ke mobil tangki menjadi lebih lama karena debit air menurun. Akibatnya kendaraan juga harus mengantre,” ujarnya.
Jika kemarau benar-benar bertahan hingga November, BPBDPK perlu menyiapkan alternatif sumber air untuk memastikan distribusi kepada masyarakat tetap berjalan.
Saat ini, pihaknya masih berkoordinasi untuk mencari sumber air tambahan, termasuk kemungkinan memanfaatkan teknologi pengolahan air laut seperti yang telah dilakukan di daerah lain.
Nana mencontohkan, kebutuhan air bersih di Kota Cilegon dapat dibantu melalui pengolahan air laut oleh PT Chandra Asri. Karena itu, pihaknya berharap fasilitas lain di Pandeglang juga dapat membantu menyediakan air bersih dari air laut.
“Kami berharap PLTU Banten 2 Labuan juga dapat melakukan pengolahan air laut menjadi air bersih sehingga bisa membantu kebutuhan masyarakat Pandeglang,” katanya.
Menurut Nana, keberadaan sumber air tambahan di wilayah selatan sangat penting. Selain mempercepat pelayanan, langkah tersebut dapat mengurangi jarak tempuh kendaraan tangki yang selama ini harus mengambil air dari lokasi yang lebih jauh.
Jarak distribusi yang panjang juga berdampak terhadap penggunaan bahan bakar kendaraan operasional.
Nana menjelaskan, armada tangki BPBD harus menggunakan bahan bakar jenis Dexlite yang merupakan BBM nonsubsidi. Pihaknya sebelumnya telah mengusulkan kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) agar kendaraan tangki air BPBD mendapatkan akses BBM bersubsidi.
Namun, usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena ketentuan yang berlaku saat ini hanya memberikan pengecualian bagi kendaraan tertentu, seperti ambulans dan mobil pemadam kebakaran.
Padahal, menurut Nana, kendaraan tangki air BPBD tidak hanya digunakan untuk mendistribusikan air bersih kepada warga, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pemadaman kebakaran.

