SERANG, LINIMASSA.ID — Ratusan pengemudi ojek online atau driver ojol Banten menggelar aksi penyampaian aspirasi di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kamis (15 Oktober 2026).
Dalam aksi tersebut, mereka mendesak pihak Maxim untuk menghentikan program Turbo yang dinilai memberatkan mitra pengemudi.
Perwakilan komunitas Maxim Reaksi Cepat (MRC) Cilegon dan driver ojol Banten, Syafei, mengungkapkan bahwa kebijakan layanan berbayar berdasarkan durasi tersebut menimbulkan beban tambahan bagi para pengemudi.
Menurutnya, sistem itu juga berdampak terhadap peluang mitra dalam memperoleh pesanan dari pelanggan.
Syafei menjelaskan, program Turbo mengharuskan pengemudi driver ojol Banten membayar biaya sekitar Rp15.000 hingga Rp20.000 untuk setiap sesi.
Pilihan durasinya bervariasi, mulai dari tiga jam, lima jam, hingga sembilan jam. Ia menilai mekanisme tersebut menciptakan ketimpangan karena pengemudi yang tidak menggunakan layanan Turbo menjadi lebih sulit mendapatkan order.
Ia menegaskan, salah satu tuntutan utama para pengemudi adalah penghapusan program tersebut karena dianggap menjadikan akses terhadap pesanan bergantung pada pembayaran tambahan.
“Harapan kami, program Turbo di aplikasi Maxim bisa dihapus. Program ini berbayar dan menggunakan sistem durasi, sehingga kami merasa keberatan dengan penerapannya,” ujar Syafei.
Demo Driver Ojol Banten
Selain persoalan biaya, para pengemudi driver ojol Banten juga mempersoalkan proses penerapan kebijakan yang dinilai tidak melibatkan mereka.
Menurut Syafei, sistem tersebut mulai diberlakukan sejak bulan sebelumnya tanpa didahului sosialisasi maupun kesempatan bagi mitra pengemudi untuk menyampaikan masukan.
Kondisi itu semakin dirasakan oleh pengemudi yang telah mengeluarkan biaya untuk membeli perlengkapan resmi, termasuk jaket dan helm.
Meski sudah memenuhi kebutuhan atribut tersebut, mereka mengaku tetap mengalami penurunan jumlah pesanan yang berimbas pada pendapatan harian.
Syafei menyebutkan, jumlah order yang sebelumnya dapat mencapai belasan dalam sehari kini mengalami penurunan signifikan. Situasi tersebut membuat para pengemudi merasa semakin kesulitan mempertahankan penghasilan mereka.
Melalui aksi di KP3B, para pengemudi berharap Gubernur Banten bersedia menemui driver ojol Banten secara langsung dan membantu menyampaikan keberatan tersebut kepada pihak perusahaan. Mereka juga meminta evaluasi terhadap potongan yang diberlakukan platform karena dinilai memberatkan mitra.
Para pengemudi berharap pemerintah daerah dapat menjadi penghubung antara mitra ojol dan pihak aplikator agar tuntutan penghapusan program Turbo serta peninjauan potongan platform memperoleh tanggapan.
Syafei menambahkan, komunitas ojol dari Pandeglang, Lebak, Serang, dan Cilegon siap kembali menggelar aksi apabila tuntutan mereka tidak mendapatkan tindak lanjut. Ia menyatakan, jumlah peserta dalam aksi berikutnya berpotensi lebih besar dibandingkan aksi kali ini.
“Kami akan kembali menggelar aksi dengan jumlah massa yang lebih banyak apabila aspirasi ini tidak mendapat tindak lanjut,” tutupnya.

