linimassa.id – Memiliki capit, lobster juga biasa disebut sebagai udang karang atau udang barong. Hewan laut ini kebanyakan datang dari pesisir timur laut Amerika Utara dengan Canadian Maritimes dan negara bagian Amerika Serikat Maine sebagai produsen terbesar.
Mereka ditangkap dengan menggunakan jebakan lobster. Alat tersebut diberi umpan dan diturunkan ke dasar laut.
Alat ini membiarkan lobster masuk, namun tidak mungkin bagi lobster besar untuk keluar. Alat ini membuat lobster kecil dapat keluar sehingga bisa mecegah penangkapan lobster yang berlebihan.
Meski saat ini dikenal sebagai makanan laut yang lezat, faktanya adalah lobster baru populer di pertengahan abad ke 19, sebelum tahun 2000.
Lobster diperkenalkan oleh penduduk New York dan Boston. Ketika itu, kapal khusus juga dibangun untuk menjaga agar lobster yang ditangkap tetap hidup selama transportas.
Ketika itu lobster merupakan makanan orang miskin di Maine, Massachusetts, dan penduduk pinggir pantai Kanada.
Lobster ketika itu juga disajikan kepada narapidana untuk mengganggu selera makan mereka. Pemanfaatan lainnya dari lobster ketika itu adalah sebagai bahan pupuk dan umpan ikan, dan baru dikalengkan pada awal abad ke 20.
Lobster umumnya dimasak dengan dikukus atau direbus. Kadar merkuri dari lobster Amerika sekitar 0.31 ppm.
Trending
Belum lama ini lobster menjadi trending di jagad dunia maya setelah Komisi Pemberantasan Korupsi meringkus Menteri Kelautan dan Perikanan dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT).
Lobster menjadi salah satu primadona pecinta kuliner seafood karena menawarkan protein yang tinggi sesuai dengan harganya yang fantastis.
Daging lobster juga dianggap ampuh untuk mencegah berbagai macam penyakit. Dilansir dari Britannica, lobster adalah salah satu dari banyak krustasea laut (filum Arthropoda, ordo Decapoda) yang merupakan famili Homaridae atau Nephropsidae.
Lobster mengais hewan mati dan memakan organisme hidup, seperti moluska kecil, invertebrata penghuni dasar laut, serta rumput laut.
Lobster memiliki kulit keras dan tersegmentasi dengan lima pasang kaki, yang beberapa di antaranya berfungsi sebagai penjepit.
Hewan ini memiliki mata majemuk pada tangkai yang bisa digerakkan, dua pasang antena panjang, dan beberapa pasang kaki untuk berenang pada bagian perut yang memanjang.
Terdapat beberapa bagian tubuh yang membuat lobster bergerak leluasa. Misalnya, ekor berotot seperti sirip membantunya untuk berenang. Sementara, kelenturan ekor dan perut memungkinkan lobster bergerak mundur.
Lobster Amerika (Homarus americanus) dan lobster Norwegia adalah spesies paling berharga dan sering dipasarkan hidup-hidup. Orang memakan perut dan cakar yang sangat berotot. Selain itu, lobster sejati (Homaridae) ditemukan di semua lautan kecuali kutub dan laut dalam.
Berbeda dengan kedua jenis sebelumnya, lobster Eropa (H. gammarus) justru memiliki nilai komersial yang kecil. Makhluk berwarna kehijauan tua itu hidup di dasar berbatu di pantai Atlantik Eropa dan Laut Mediterania.
Kembang Biak
Tentang perkembangbiakkan, betina siap bertelur saat berumur sekitar lima tahun. Jantan mentransfer sperma ke betina di musim panas, tetapi telur tidak dibuahi sampai musim semi tiba. Seekor betina mampu bertelur hingga 3.000 butir atau lebih.
Larva yang berukuran sekitar 1 cm berenang bebas selama 12 hari dan kemudian turun ke dasar laut sebagai habitat utama.
Harapan hidup lobster tercatat 50 tahun, meskipun individu tertua ditemukan mencapai 100 tahun atau lebih. Musuh lobster di alam liar adalah hiu dogfish, ikan skate, dan ikan kod. Meskipun begitu, manusia adalah predator utama.
Kandungan
Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), 145 gram lobster mengandung 129 kalori; 1,25 g lemak; 0 g karbohidrat; dan 27,55 g protein.
Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa tidak semua kandungan kolesterol dalam makanan berbahaya bagi tubuh. Meskipun kandungan lemaknya secara keseluruhan tinggi, lobster bukanlah sumber lemak jenuh yang membahayakan.
Lobster juga memberikan manfaat kesehatan bagi manusia yang mengkonsumsi. Organisme ini diketahui dapat menjadi antioksidan dan membantu tiroid menyerap hormon untuk menghindari penyakit tiroid. Selain itu, konsumsi lobster diyakini dapat meningkatkan selenium untuk memperbaiki suasana hati dan fungsi tiroid.
Menurut National Institute on Alcohol and Abuse and Alcoholism (NIAAA), asam lemak omega-3 yang terkandung dalam lobster juga telah terbukti menurunkan agresi, impulsif, dan depresi pada orang dewasa.
Terlebih lagi, lobster memiliki salah satu kandungan zat tembaga tertinggi dari semua makanan. Sehingga, zat tembaga bersama dengan zat besi membentuk sel darah merah untuk mencegah anemia. (Hilal)



