linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Korowai, Suku di Papua yang Tinggal di Pohon
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > Gaya Hidup > Korowai, Suku di Papua yang Tinggal di Pohon
Gaya Hidup

Korowai, Suku di Papua yang Tinggal di Pohon

Hilal Ahmad 19 Juli 2024
Share
waktu baca 3 menit
Suku Korowai
SHARE

Linimassa.id – Ternyata di Papua ada suku yang tinggal di atas pepohonan. Mereka adalah Suku Korowai.

Suku Korowai atau Koroway adalah suku yang baru berinteraksi dengan dunia luar sekitar 30 tahun yang lalu di pedalaman Papua Pegunungan dan Papua Selatan, Indonesia dan berpopulasi sekitar 3000 orang.

Suku ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon disebut Rumah Tinggi.

Laman RRI menyebut, nama lain rumah yang dimiliki oleh Suku Korowai adalah Rumah xaim yang dibangun dengan ketinggian 9 meter/sekitar 15 kaki atau 4,5 meter.

Suku Korowai adalah salah satu suku di daratan Papua yang tidak menggunakan Koteka.

Menurut majalah Daily Telegraph, ketika antropolog memulai studi tentang suku ini pada tahun 1970 mereka tidak mengetahui keberadaan orang selain suku mereka.

Bahasa Korowai termasuk dalam Rumpun Bahasa Sungai Digoel (Papua tenggara) atau dalam klasifikasi lama disebut Awyu-Dumut dan merupakan bagian dari filum Trans – Nugini.

Sebuah tata bahasa dan kamus telah diproduksi oleh ahli bahasa misionaris Belanda.

Serupa dengan tetangga mereka suku kombai di Kabupaten Mappi dan juga suku Momuna di Kabupaten Yahukimo, penduduk dari suku ini membangun rumah pada pohon yang memiliki tinggi 10 hingga 30 meter. Terbuat dari kayu, rotan, bilah bambu dan kulit kayu.

Rumah Suku Koroway dibangun di atas pohon untuk mencegah serangan binatang buas pada zaman dahulu atau bahkan serangan dari suku lain.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Untuk mencapai ke dalam rumah, mereka membuat tangga yang terbuat dari sebatang kayu.

Suku Korowai memiliki pembagian tugas sama seperti Suku Kombai. Kaum pria bertugas menebang pohon dan pergi ke hutan untuk berburu, mulai dari kus-kus, babi hutan hingga burung kasuari. Sementara itu kaum wanita dari suku ini bertugas mengasuh anak dan mencari sagu.

Ciri khas dari kaum wanita suku ini adalah mereka biasa memakai rok pendek yang bahannya didapatkan dari kayu dan serat sagu.

Mayoritas klan Korowai tinggal di rumah pohon di wilayah terisolasi. Sejak tahun 1980 sebagian telah pindah ke desa-desa yang baru dibuka dari Yaniruma di tepi Sungai Becking (area Kombai – Korowai), Mu, dan Basman (daerah Korowai-Citak).

Pada tahun 1987, wilayah pedesaan dibuka di Manggel, di Yafufla (1988), Mabul di tepi Sungai Pulau (1989), dan Khaiflambolup (1998). Tingkat absensi desa masih tinggi, karena relatif panjang jarak antara permukiman dan sumber daya makanan (sagu). (Hilal)

Share This Article
Facebook X Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image
Ad imageAd image

Terkini

THR
PPPK Paruh Waktu di Pemprov Banten Dipastikan Tanpa THR Tahun Ini
News
harga emas
Harga Emas Antam Terkoreksi Rp13.000, Pelaku Pasar Cermati Potensi Kenaikan Lanjutan
News
Polda Banten
Antisipasi Pencurian Saat Mudik, Kapolda Banten Izinkan Warga Titip Kendaraan di Kantor Polisi
News
Harga daging sapi
Harga Daging Sapi di Pasar Badak Capai Rp140 Ribu per Kilogram
News
Narkoba
Provinsi Banten Masih Jadi Lintasan Rawan Penyelundupan Narkoba
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
logo-linimassaid
Selamat datang kembali!

Login ke akunmu

Username or Email Address
Password

Lost your password?