linimassa.id – Peringatan Hari Solidaritas Asia Afrika cukup fenomenal dan dikenal di Indonesia. Diperingati setiap 24 April, momen ini ditetapkan untuk mengenang Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955.
KAA merupakan momen bersejarah di mana para pemimpin negara-negara Asia dan Afrika berkumpul untuk mendiskusikan isu-isu penting seperti kemerdekaan, perdamaian, dan kerjasama.
Hasil dari KAA dirumuskan dalam Dasasila Bandung yang menjadi pedoman bagi negara-negara Asia Afrika dalam menjalin hubungan internasional.
Penetapan Hari Solidaritas Asia-Afrika merupakan upaya untuk mengukuhkan solidaritas di negara Asia dan Afrika dan penetapan Kota Bandung sebagai ibu kota Solidaritas Asia-Afrika.
Hari Solidaritas Asia-Afrika ditetapkan pertama kali pada tanggal 24 April 2015, yang saat itu bertepatan dengan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA).
Asal Mula
Laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia menyebut, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika tahun 2015 Presiden Joko Widodo mengatakan, telah menghasilkan tiga dokumen penting, yakni Pesan Bandung 2015, Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Asia dan Afrika, dan Deklarasi Mengenai Palestina.
Sidang tersebut telah mengirimkan pesan kepada dunia bahwa kondisi kehidupan dunia masih tidak seimbang dan jauh dari keadilan, dan jauh dari perdamaian. Sehingga, Bandung Spirit masih sangat relevan.
KTT Asia Afrika juga sudah berhasil menyusun langkah nyata untuk menindaklanjuti kerja sama secara konkrit yang tercantum di dalam Deklarasi Penguatan Kemitraan Strategis Baru Asia Afrika. Selain itu, KTT ini juga telah berhasil menyusun kerangka operasional mekanisme pemantauan.
Pada KTT Asia Afrika tahun 2015 juga disepakati penetapan 24 April sebagai Hari Solidaritas Asia Afrika dan menetapkan Bandung sebagai ibu kota solidaritas Asia Afrika, serta mendukung berdirinya Asia Afrika Center di Indonesia.
Penetapan Hari Solidaritas Asia Afrika juga bertepatan dengan peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA).
Laman situs resmi Museum Konferensi Asia-Afrika, Konferensi Asia Afrika (KAA) terjadi pada 18 April 1955 yang merupakan peristiwa lahirnya gagasan senasib sepenanggungan di antara negara-negara ketiga atau kawasan Asia Afrika yang terdampak Perang Dunia II.
Munculnya gagasan untuk mempersatukan negara-negara berkembang berawal dari Konferensi Kolombo pada tahun 1954 di mana Perdana Menteri Ceylon, Sir John Kotelawala, mengundang perdana menteri dari Indonesia (Ali Sastromidjojo), Birma (U Nu), Pakistan (Mohammed Ali), India (Jawaharlul Nehru) untuk melakukan pertemuan informal sehingga mencetuskan ide untuk diadakannya Konferensi Asia Afrika.
Konferensi Kolomba berlangsung dari 28 April-2 Mei 1954. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengusulkan untuk diadakannya pertemuan yang lebih luas dari negara-negara Asia Afrika. Usulan tersebut disetujui oleh panitia dan disepakati Indonesia sebagai tuan rumah KAA.
Pada 15 Januari 1955, sebanyak 25 negara di Asia Afrika diundang. Akan tetapi Federasi Afrika Tengah menolak undangan karena masih dalam kuasa bekas penjajahnya.
Konferensi Asia Afrika dilaksanakan di Bandung pada 18 April 1955 dengan isi sidang sebagai berikut:
- Kerja sama ekonomi
- Kerja sama kebudayaan
- Hak-hak asasi manusia dan hak menentukan nasib sendiri
- Masalah rakyat jajahan
- Masalah-masalah lain
- Deklarasi tentang memajukan perdamaian dunia dan kerja sama internasional
Tujuan
Berikut Tujuan Konferensi Asia Afrika
- Mengembangkan saling pengertian dan kerja sama antara bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
- Meninjau masalah-masalah hubungan sosial, ekonomi, dan kebudayaan dalam hubungannya dengan negara-negara peserta.
- Mempertimbangkan masalah-masalah kepentingan khusus dari bangsa-bangsa Asia dan Afrika.
- Meninjau kedudukan Asia dan Afrika serta rakyatnya, serta memberikan sumbangan untuk meningkatkan perdamaian dan kerja sama internasional.
Pengaruh dan Hasil
Konferensi Asia Afrika memiliki pengaruh yang signifikan, antara lain:
- Berkurangnya ketegangan dan bahaya pecahnya peperangan yang bersumber dari persengketaan masalah Taiwan antara Republik Rakyat Tiongkok dengan Amerika Serikat.
- Meningkatnya perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk mencapai kemerdekaan.
- Adopsi politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan oleh Indonesia, India, Birma, dan Sri Lanka, yang kemudian diikuti oleh negara-negara lain yang tidak tergabung dalam Blok Barat maupun Blok Timur.
Dasasila Bandung
Deklarasi pada komunike tersebut berhasil menghasilkan Dasasila Bandung, yakni sebuah pernyataan politik yang berisi prinsip-prinsip dasar di dalam usaha memajukan perdamaian serta kerja sama dunia. Ini Dasasila Bandung seperti dilansir Detik Sumbagsel:
- Menghormati hak-hak asasi manusia dan menghormati tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB.
- Menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara.
- Mengakui persamaan derajat semua ras serta persamaan derajat semua negara besar dan kecil.
- Tidak campur tangan di dalam urusan dalam negeri negara lain.
- Menghormati hak setiap negara untuk mempertahankan dirinya sendiri atau secara kolektif, sesuai dengan Piagam PBB.
- Tidak menggunakan pengaturan-pengaturan pertahanan kolektif untuk kepentingan khusus negara besar mana pun. Tidak melakukan tekanan terhadap negara lain mana pun.
- Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi atau menggunakan kekuatan terhadap keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun.
- Menyelesaikan semua perselisihan internasional dengan cara-cara damai, seperti melalui perundingan, konsiliasi, arbitrasi, atau penyelesaian hukum, atau pun cara-cara damai lainnya yang menjadi pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB.
- Meningkatkan kepentingan dan kerjasama bersama.
- Menjunjung tinggi keadilan dan kewajiban-kewajiban internasional. (Hilal)



