linimassa.id – Keberadaan kemoceng sangat dibutuhkan untuk membersihkan debu. Benda ini memiliki bagian bulu-bulu baik bulu ayam, kalkun, burung unta, maupun dari rafia dan bahan halus lainnya, yang biasanya terpasang atau terikat menjadi satu bagian bulat.
Bentuk kemoceng mengalami perubahan mulai dari bahan bulu, rafia, dan kain, batangnya ada yang dari rotan, kayu, maupun besi, tetapi di pasar tradisional kemoceng biasanya terbuat dari bulu ayam berbatang rotan.
Awalnya, kemoceng memiliki bentuk panjang dan tipis-tipis, bentuk yang mudah dibuat tetapi kurang efisien untuk melakukan pembersihan.
Kemoceng dapat diikatkan ke sebuah pegangan dengan pegangan terbuat dari kayu atau besi. Karena keberagaman bahan dan kekuatan produk yang bermacam-macam, harga kemoceng pun sangat bervariasi.
Kemoceng berkualitas tinggi menggunakan bulu dari lapisan luar bulu burung unta. Yang masing-masing ujungnya memiliki pena bulu di dekat tepi bulu dan pinggiran di sisi lain yang terbuat dari barbs (duri) yang terkunci bersama melalui jaringan barbs yang lebih kecil yang disebut barbules.
Ini membuat kemoceng sangat banyak diinginkan oleh orang-orang untuk dijadikan pembersih debu. Bulu yang sangat halus dan lembut tidak akan menggores apalagi merusak perabotan, dan ketika digosok untuk membangun listrik statis, mereka akan menangkap dan menahan debu sampai terjatuh dengan sendirinya.
Asal MuIa
Setidaknya pada 1876, kemoceng sudah dipatenkan oleh Susan Hibbard yang melawan suaminya sendiri, George Hibbard, di pengadilan yang mengurusi hak paten karena suaminya mengaku kemoceng sebagai milik temuannya.
Kegigihan Susan konon membuka mata orang Amerika tentang banyaknya penemuan dari seorang perempuan yang kemudian dicuri oleh laki-laki.
Susan Hibbard mengaku ide kemoceng bermula ketika ia melihat bulu kalkun, yang dia pikir bisa berguna daripada dibuang sebagai limbah.
Kemoceng bulu mula-mula terbuat dari bulu angsa yang lembut dan mengalami perubahan seiring banyaknya ide yang muncul kemudian.
Bulu angsa waktu itu juga digunakan untuk membuat kuas kecil untuk mentega roti karena sifat lembutnya; mirip dengan kuas oles modern, tetapi kurang populer karena dianggap tidak bergaya.
Untuk membuat kuas di perapian dan kompor, mereka masih menggunakan bahan dari sayap angsa, ayam, dan kalkun yang kemudian populer dengan sebutan “kemoceng sayap,” meskipun punya kelemahan, yaitu harus dijauhkan dari kucing dan anjing serta serangga dan ngengat.
Pada 1900, kemoceng yang terbuat dari bulu burung unta lebih disukai karena warnanya yang indah dan lebih efisien untuk mengusir debu karena keawetannya.
Sumber lain menyebut, ide asli untuk membuat kemoceng muncul pada tahun 1870, di pabrik sapu di Jones County, Iowa, Amerika Serikat.
Saat itu, seorang petani AS membawa seikat bulu kalkun ke dalam pabrik dan bertanya apakah bulu tersebut bisa digunakan untuk merakit kuas. Lalu E.E. Hoag menggunakan ide bulu-bulu ini untuk menciptakan kemoceng yang pertama kalinya di dunia.
Dengan menggunakan tongkat sapu pendek dan menyatukan bulu-bulu dengan tali pengikat, kemoceng itu dinilai terlalu kaku untuk digunakan. Pada 1874, Perusahaan Hoag Duster didirikan, yang menjadi pelopor kemoceng bulu di negara bagian Iowa AS.
Di tahun yang sama, Susan Hibbard dari Geneva Lake, Wisconsin, AS menggunakan bulu kalkun yang dibuang untuk menciptakan kemoceng. Hibbard mengajukan paten (paten AS # 177,939) pada 13 November 1874 yang dikeluarkan pada 30 Mei 1876.
Pada 1900, kemoceng yang terbuat dari bulu burung unta lebih disukai untuk debu ringan dan menuntut karena daya tahan mereka.
Kemoceng dari lapisan burung unta dikembangkan di Johannesburg, Afrika Selatan oleh misionaris, manajer pabrik sapu, Harry S. Beckner pada tahun 1903. Ia merasa bahwa bulu burung unta bisa menjadi alat yang nyaman dan bisa digunakan untuk membersihkan mesin-mesin di pabrik sapu.
Kemoceng burung unta ciptaannya yang pertama, dibuat dengan mengikatkan bulu burung unta pada gagang sapu menggunakan kawat yang sama yang digunakan untuk memasang sapu jerami. Lalu The Chicago Feather Duster Company didirikan pada tahun 1875. Mereka menerima paten untuk kepala kemoceng pada tahun 17 September 1907 bersamaan dengan paten untuk manset pada 22 Desember 1906.
Sekarang ini, produsen terbesar dari kemoceng adalah Klein Karoo International Feathers yang terletak di Oudtshoorn, Afrika Selatan.
100 Tahun
Sebuah industri kemoceng merayakan ulang tahun ke 100 (1913-2013), yaitu Beckner Feather Duster Company. Perusahaan itu merupakan perusahaan kemoceng yang membuat kemoceng dari bulu burung unta asli.
Perusahaan ini dirintis oleh dua bersaudara, George Beckner dan Harry Beckner di Afrika Selatan ketika mereka bekerja sebagai misionaris di Kolese Heildelberg.
Perusahaan itu dipindah pertama kali ke Athol, Massachusetts kemudian ke Bolton, Massachusetts dekat Lancaster Selatan.
Mereka membawa bulu burung unta dari Afrika Selatan setidaknya dua kali dalam setahun melalui perjalanan laut. Bagi Margaret Fish Rempher dan suaminya, Robert A. RempherRobert Memper, yang saat ini mengelola perusahaan itu setelah kematian dari orang tua mereka, perusahaan ini merupakan anugerah Tuhan yang luar biasa.
Perusahaan tempat memproduksi kemoceng bulu burung unta pertama di Amerika Serikat dibentuk pada tahun 1913 oleh Harry S. Beckner dan saudaranya George Beckner di Athol, Massachusetts dan masih bertahan hingga hari ini sebagai Duster Twins Company di bawah pengawasan cucu perempuan George Beckner, Margret dan Rempher.
Simbol
Kemoceng dianggap sebagai simbol status pada akhir abad 19 dan awal abad ke-20. Sikat, lap debu, dan peralatan pembersih lainnya yang sederhana dan kasar dibuat sampai pertengahan abad kesembilan belas.
Di zaman dulu para asisten rumah tangga menggunakan kemoceng secara rutin, dan penggunaan kemoceng pada akhir 1800-an dan awal 1900-an adalah simbol status sosial.
Kemoceng merupakan salah satu alat kebersihan yang paling banyak dibeli dan terus menjadi lebih populer. Perusahaan yang memproduksi kemoceng menjadi semakin tersebar dan mereka berinovasi menciptakan kemoceng dengan berbagai ukuran.
Popularitas kemoceng di antara ibu-ibu terus meningkat, terbukti dengan penjualan kemoceng di toko ritel massal dan toko kelontong juga beberapa toko obat.
Llama-kelamaan kemoceng mulai ditinggalkan karena orang-orang mulai beralih ke produk elektrostatik atau pembersih berbahan kimia yang mudah dibuang. Kemoceng terlalu mahal dan kurang efisien.
Kini, kemoceng banyak dimanfaatkan sebagai penambah estetika untuk dekorasi interior. Kemoceng juga dapat digunakan untuk mengaplikasikan cat kontras atau aksen pada dinding interior karena bulu bisa menghasilkan efek yang unik. (Hilal)