linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Reading: Geger Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Tangsel, Ini Himbauan BMKG
linimassa.idlinimassa.id
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Cari di sini
  • News
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Gaya Hidup
  • Khazanah
  • Berita Video
Punya akun? Sign In
Follow US
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
linimassa.id > Indeks > News > Geger Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Tangsel, Ini Himbauan BMKG
News

Geger Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau sampai Tangsel, Ini Himbauan BMKG

LinimassaNews
6 September 2026
Share
waktu baca 4 menit
Ilustrasi erupsi gunung anak krakatau
Ilustrasi erupsi Gunung Anak Krakatau
SHARE

LINIMASSA.ID, TANGSEL – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai berdampak ke sejumlah wilayah Banten. Partikel halus yang diduga abu vulkanik tersebut mengejutkan warga Kota Tangerang Selatan (Tangsel), pada Minggu (6/9/2026) pagi.

Beberapa diantaranya mengabadikan kondisi lingkungan tempat tinggalnya dan mengunggahnya kemedia sosial Instagram. Fenomena itu terjadi ditengah erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung.

Kepala Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II, Hartanto menyatakan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin pada setiap lapisan atmosfer.

Berdasarkan analisis sebaran abu vulkanik dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, pada lapisan sekitar 6 kilometer atau 20.000 kaki, abu bergerak ke arah timur laut hingga selatan dengan kecepatan sekitar 10 knot.

Sementara pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, sekitar 15 kilometer atau 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan sekitar 30 knot.

Perbedaan arah tersebut terjadi karena pola angin di atmosfer tidak sama pada setiap ketinggian.

Dengan kondisi angin tersebut, wilayah yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik meliputi sebagian Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung dan Bengkulu, serta perairan di sekitar Selat Sunda dan Samudra Hindia.

“Namun perlu dipahami bahwa keberadaan abu vulkanik di atmosfer tidak selalu berarti seluruh wilayah tersebut akan mengalami hujan abu di permukaan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Abu vulkanik yang mencapai permukaan dapat menurunkan kualitas udara apabila konsentrasinya cukup tinggi.

Partikel abu berukuran sangat halus berpotensi terhirup dan mengganggu saluran pernapasan. Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

“Dampak yang dirasakan masyarakat sangat bergantung pada konsentrasi abu, kondisi cuaca, serta arah dan kecepatan angin di wilayah masing-masing,” katanya.

Risiko tersebut perlu menjadi perhatian khusus bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki gangguan atau riwayat penyakit pernapasan.

“BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menggunakan masker dan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, mengurangi aktivitas luar ruangan jika terjadi hujan abu, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah untuk mencegah masuknya partikel abu ke dalam ruangan,” jelasnya.

Warga Diimbau Hindari Abu Gunung Anak Krakatau

Warga juga disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila terjadi hujan abu serta menutup pintu, jendela dan ventilasi untuk mencegah abu masuk ke dalam rumah.

Hartanto menjelaskan, sebaran abu vulkanik tidak hanya berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga keselamatan penerbangan. Abu vulkanik yang berada di jalur penerbangan dapat mengurangi jarak pandang dan berpotensi mengganggu kinerja mesin pesawat.

Kata Hartanto, kondisi tersebut turut berdampak terhadap operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sejumlah penerbangan mengalami penyesuaian akibat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau.

Sebagai informasi, Badan Geologi mencatat Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada 2 Juli 2026 setelah periode aktivitas yang relatif tenang. Sejak saat itu, status aktivitas gunung berada pada Level III atau Siaga.

Erupsi kemudian berlangsung dalam rangkaian aktivitas vulkanik yang menghasilkan lontaran material pijar dan abu vulkanik.

Aktivitas kembali meningkat pada Jumat (4/9/2026) malam. Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Dari Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran, terlihat semburan merah menyala yang berlangsung terus-menerus dan menyerupai fenomena air mancur lava atau lava fountain. (KO/Red)

Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Copy Link Print
- HUT RI -
Ad imageAd image
- 14 AGUSTUS 2026 -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image

Terkini

Gunung Anak Krakatau
Hari Ini Gunung Anak Krakatau Dua Kali Meletus, CCTV Pemantau Mengalami Kerusakan
News
Gunung Anak Krakatau
Abu Erupsi Gunung Anak Krakatau Terpantau Menjalar ke Jakarta hingga Bengkulu
News
Gunung Anak Krakatau
BMKG Perketat Pemantauan Erupsi Gunung Anak Krakatau, Empat Bandara Ditutup Sementara
News
Pasar Rangkasbitung
JPL 183 Pasar Rangkasbitung Ditutup Permanen, Kendaraan Dialihkan ke Sejumlah Jalur Alternatif
News
SMPN 4 Kota Serang
Relokasi SMPN 4 Kota Serang ke Ciracas Belum Final, Masih Tunggu Hasil Kajian
News
linimassa.idlinimassa.id
Follow US
© 2023 linimassa.id. Designed by dezainin.com
  • Disclaimer
  • Privacy
  • Redaksi
  • Info Iklan