linimassa.id – Bukan hanya tubuhnya yang besar, ternyata gajah adalah hewan yang dapat mengingat dengan baik.
Gajah bisa mengingat pengalaman sejak bayi hingga sepanjang hidup mereka. Wow!
Gajah memiliki otak yang sangat besar dan mampu berkembang. Dari semua mamalia darat otak gajah adalah yang terbesar dan memiliki Encephalization Quotient (EQ) atau kecerdasan otak yang luar biasa.
Encephalization Quotient didefinisikan sebagai jumlah massa otak yang berkaitan dengan total massa tubuh hewan dilansir melalui laman Science ABC.
Pada tahun 355 SM Aristoteles mengklaim bahwa “Dari semua hewan, gajah memiliki otak terbesar sebanding dengan ukurannya”. Bila diurutkan, manusia memiliki EQ 7,44, lumba-lumba memiliki 5,31 dan gajah memiliki EQ 1,87.
Gajah memiliki otak terbesar dari semua hewan darat, dan neuron tiga kali lebih banyak daripada manusia.
Otak gajah Asia dan Afrika berada di antara yang tertinggi untuk ekspansi kortikal absolut dan relatif. Otak mereka menunjukkan fitur yang sebanding dengan beberapa Cetacea dan Kera Besar, termasuk manusia.
Dengan rata-rata sekitar 5 kilogram, otak gajah Afrika dewasa adalah yang terbesar di antara mamalia darat yang masih hidup. Otak gajah yang baru lahir berukuran kira-kira setengah dari ukuran otak gajah dewasa, menunjukkan periode perkembangan yang berkepanjangan untuk otak di mana lingkungan akan secara signifikan membentuk struktur mikro neuron.
Sementara banyak dari neuron ini ada untuk mengendalikan tubuh gajah yang besar dan tangkas, makhluk-makhluk ini telah menunjukkan kemampuan mental mereka yang mengesankan berkali-kali.
Misal dalam sebuah penelitian bertajuk Asian elephants (Elephas maximus) reassure others in distress oleh Joshua M. Plotnik and Frans B. M. de Waal ditemukan bahwa Gajah Asia saling menghibur ketika tertekan.
Gajah-gajah dalam penelitian ini menggunakan kontak fisik dan suara vokal, saling membelai dengan belalai dan mengeluarkan suara kecil. Studi ini menyimpulkan bahwa perilaku ini “paling baik diklasifikasikan dengan respons penghiburan yang serupa oleh kera, mungkin didasarkan pada evolusi kapasitas empati yang konvergen.
Mirip Manusia
Fakta menyebutkan, EQ gajah sebenarnya mirip dengan simpanse. Karena manusia adalah kerabat dekat dengan simpanse, otak manusia dan gajah ternyata mirip dalam banyak aspek.
Gajah dan manusia memiliki hippocampus dan korteks serebral yang sangat berkembang. Bagian tersebut bertanggung jawab atas kemauan dan pemecahan masalah.
Karena kualitas otak yang baik ini, alasan mengapa gajah bisa mengingat dari bayi hingga dewasa.
Laman Smore Science menyebut, ingatan atau memori terbentuk karena tiga langkah dasar yakni encoding (pengkodean), storage (penyimpanan) dan retrieval (pengambilan).
Pada dasarnya otak selalu mempelajari informasi baru, informasi tersebut nantinya akan disimpan dan kemudian diingat pada waktu yang dibutuhkan.
Pengkodean mirip dengan menulis informasi pada selembar kertas. Proses kedua yakni penyimpanan yang dianalogikan seperti meletakkan kertas di tempat yang sesuai. Terakhir pengambilan seperti mengambil file dari kabinet saat dibutuhkan.
Otak mampu menyimpan ingatan dalam kategori yang relevan. Meskipun ingatan yang dibentuk oleh gajah dan manusia berbeda, otak keduanya memiliki kemiripan. Sehingga pembentukan ingatan manusia dan gajah juga memiliki langkah-langkah dasar yang sama.
Pembentukan Ingatan
Gajah memiliki bagian otak yang memproses penciuman yang sangat baik. Akibatnya gajah lebih cenderung menyandikan informasi sensorik melalui indra penciumannya.
Wilayah otak gajah yang mengkodekan informasi sensorik menjadi memori atau ingatan adalah Hippocampus. Hippocampus gajah sangatlah berkembang sehingga berkontribusi pada ingatan gajah yang luar biasa.
Begitu otak mengkodekan informasi sensorik ke dalam memori, ia harus menyimpan ingatan itu di suatu tempat. Awalnya ingatan akan disimpan sebagai memori jangka pendek yang mampu bertahan rata-rata 15-30 detik pada otak manusia.
Otak juga mengubah beberapa ingatan menjadi memori jangka panjang yang dapat bertahan selama bertahun-tahun. Dan gajah unggul dalam hal ini.
Mereka dapat mengingat pengalaman sejak masih bayi hingga sepanjang hidup mereka. Karena memiliki otak yang besar, korteks serebral pada gajah juga besar. Korteks serebral adalah wilayah otak di mana tempat ingatan disimpan. Wilayah ini membantu mengaktifkan ingatan jangka panjang yang luar biasa pada gajah.
Pada proses ini, gajah akan mengakses suatu memori di kemudian hari. Misalnya pada badai salju, gajah dapat mengingat kembali kenangan dari beberapa dekade sebelumnya. Pemicu yang dapat membuat hal ini terjadi biasanya karena aroma yang mereka cium.
Fungsi Ingatan
Gajah menggunakan ingatan jangka panjang yang mereka miliki untuk bertahan hidup. Misalnya saat musim kemarau, gajah akan pindah ke tempat dengan sumber makanan yang lebih baik.
Karena sepanjang hidupnya mereka melalui hal itu, gajah akan mengingat lokasi tempat sumber makanan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka akan membawa kawanan mereka ke tempat yang aman.
Gajah memiliki ikatan yang kuat dengan kawanannya. Satu kawanan gajah seringkali berkerabat dekat satu sama lain termasuk kakek-nenek, bibi hingga saudara mereka.
Kawanan gajah memudahkan mereka untuk melindungi garis keturunan, menemukan sumber daya dan bertahan dari pemangsa. Dengan demikian, kawanan memberikan gajah untuk bertahan hidup.
Perbedaan mencolok dari gajah betina dan gajah jantan adalah cara hidup mereka. Gajah betina lebih sering tinggal bersama kawanan, sedangkan gajah jantan hidup sendirian.
Namun, ketika mereka bertemu dengan kawanan sebelumnya, mereka akan tetap saling menyapa karena bersahabat.
Bahkan ketika seekor gajah diperlihatkan tulang dan gading dari gajah yang mati, mereka akan bereaksi paling kuat terhadap anggota kawanannya. Hal ini menjadi bukti bila gajah dapat mengingat anggota keluarga bahkan bertahun-tahun setelah mereka mati.
Tak hanya mengingat anggota keluarganya, gajah juga akan mengingat makhluk lain yang meninggalkan kesan kuat pada mereka.
Misalnya, sepasang gajah yang pernah tampil bersama di sirkus dapat saling mengenali bahkan ketika bertemu 20 tahun kemudian.
Percaya atau tidak, gajah mampu memahami aritmatika dasar. Dilansir dari laman Detik, jika meletakkan 10 ikat pisang di depan mereka dan mengambil 2 pisang, lima menit kemudian gajah akan merasakan sesuatu yang hilang. Untuk itu terkadang kemampuan ini digunakan di dalam sirkus.
Menakjubkan
Gajah berkomunikasi dengan cara menakjubkan. Mereka menggunakan postur tubuh, vokalisasi berbeda, serta gemuruh subsonik yang dapat didengar meski dari jarak beberapa kilometer oleh gajah lain.
Gajah memiliki ingatan sangat baik. Mereka mengumpulkan dan mempertahankan pengetahuan sosial dan ekologi, mengingat aroma dan suara sejumlah individu dan tempat lain selama beberapa dekade.
Gajah dapat membuat diskriminasi halus antara predator, bahkan di antara kelompok orang yang berbeda, menunjukkan bahwa mereka memahami berbagai tingkat ancaman yang dimiliki masing-masing.
Perilaku gajah baik di alam maupun di penangkaran menunjukkan bahwa gajah dapat menggunakan ingatan jangka panjang mereka untuk “menjaga skor” dan mengekstraksi “balas dendam” atas kesalahan yang dilakukan.
Gajah dapat membedakan tulang-tulang gajah dan tulang binatang lainnya, dan mereka merespons tulang-tulang gajah dengan perenungan khusus yang menunjukkan minat tinggi pada tengkorak dan gading spesies mereka sendiri.
Gajah terkenal karena ingatan, kecerdasan, dan sosialitasnya, dan, seperti halnya manusia, sifat-sifat ini membuat mereka rentan terhadap stres dan trauma serta konsekuensi psikologis jangka panjangnya.
Gajah menghasilkan berbagai vokalisasi, banyak di antaranya mengandung frekuensi di bawah tingkat pendengaran manusia. Gajah menggunakan sebagian dari panggilan frekuensi rendah yang kuat ini untuk berkomunikasi dengan gajah lain jarak jauh.
Gajah juga dapat mendeteksi vokalisasi teman mereka secara seismik. Ketika seekor gajah bersuara, replika yang tepat dari sinyal ini merambat secara terpisah di tanah. Gajah dapat membedakan antara vokalisasi ini melalui kaki sensitif mereka. Mereka dapat mendeteksi tremor bumi, badai petir dan detak kaki binatang yang jauh dengan cara yang sama. (Hilal)



