SERANG, LINIMASSA.ID – Potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Banten semakin mengkhawatirkan setelah terjadi lonjakan kasus usai libur Lebaran 2026.
Dinas Kesehatan mencatat sebanyak 4.456 kasus suspek dengan 6 orang dilaporkan meninggal dunia.
Wilayah Tangerang Raya menjadi area dengan dampak paling besar campak di Banten. Kabupaten Tangerang mencatat jumlah kematian tertinggi dengan 4 kasus, sementara Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Serang masing-masing melaporkan 1 kasus kematian.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr. Ati Pramudji Hastuti, menjelaskan bahwa tingginya pergerakan masyarakat selama momen Lebaran menjadi salah satu pemicu utama penyebaran campak yang bersifat sangat menular.
Ia menyebutkan, jumlah kasus campak di Banten terbanyak tercatat di Kabupaten Tangerang sebanyak 1.094 kasus dan Kota Tangerang Selatan mencapai 1.070 kasus.
Selain mobilitas, rendahnya tingkat imunisasi di beberapa wilayah serta maraknya informasi keliru mengenai vaksin turut memperparah kondisi penyebaran penyakit ini.
Pemerintah Provinsi Banten pun meningkatkan kewaspadaan dan mengajak masyarakat untuk segera melengkapi imunisasi guna menekan penyebaran campak.
Ancaman Lonjakan Kasus Campak di Banten Masih Tinggi
Di balik tingginya angka suspek campak di Banten, masih terdapat potensi lonjakan kasus yang belum sepenuhnya terlihat. Dari total 4.456 kasus, sebanyak 2.274 sampel masih dalam proses pemeriksaan laboratorium.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan, dari 2.493 sampel yang telah diuji, sebanyak 157 dinyatakan positif dan 82 negatif. Sementara itu, banyaknya hasil yang belum keluar memunculkan kekhawatiran akan adanya tambahan kasus dalam jumlah besar.
Kondisi ini diibaratkan sebagai fenomena “gunung es”, di mana jumlah kasus sebenarnya diperkirakan lebih besar dari data yang sudah terkonfirmasi.
Menurut dr. Ati Pramudji Hastuti, situasi ini perlu menjadi perhatian serius, khususnya di wilayah Tangerang Raya yang menjadi pusat penyebaran.
Ia mengungkapkan, setelah Lebaran terdapat tambahan ratusan kasus baru yang semakin memperkuat indikasi peningkatan penyebaran.
Beberapa faktor disebut menjadi penyebab, di antaranya tingginya mobilitas masyarakat serta belum meratanya cakupan imunisasi.
Cakupan vaksinasi yang masih berada di bawah ambang batas herd immunity sebesar 95 persen turut mempercepat penyebaran virus. Selain itu, keraguan masyarakat akibat informasi yang tidak akurat juga berdampak pada rendahnya partisipasi imunisasi.
Pemerintah daerah kini berupaya mempercepat proses pemeriksaan laboratorium campak di Banten sekaligus meningkatkan pengawasan guna mengantisipasi kemungkinan lonjakan kasus dalam waktu dekat.



